“Kiri Islam bukanlah agama Islam yang berbaju Marxisme. Sebab hal itu akan menafikan makna revolusioner dalam agama Islam sendiri. Kiri Islam juga tidak berbentuk eletik antara Marxisme dengan agama Islam, karena hal yang demikian hanya menunjukkan bentuk pemikiran yang tercerabut dari akarnya tanpa ada pertautan yang erat dengan realitas yang ada dalam kaum muslimin sendiri,” ujar Gus Dur mengomentari Al-Yasar Al-Islami (Kiri Islam).
Kiri Islam dicetuskan oleh Hassan Hanafi. Ia adalah tokoh yang sangat dikenal di negaranya sendiri, Mesir. Akan tetapi kontribusi pemikiran Hassan Hanafi kurang diterima oleh masyarakat Mesir. Ia justru dikecam oleh masyarakat muslim yang konsevatif-skripturalis. Akan tetapi, sebagai seorang intelektual, Hassan Hanafi tidak putus asa.
Hassan Hanafi merupakan cendekiawan muslim yang sangat dipengaruhi oleh para pemikir filsafat materialisme historis yang berasal dari Marx. Dalam hal ini, metode yang digunakannya ialah metode dialektika. Ia membuat sistematisasi dalam penyatuan aspek pada suatu pengetahuan dan suatu pengalaman yang kemudian ia susun dalam bentuk suatu keutuhan yang inklusif.
Kiri Islam merupakan sebuah manifesto politik yang berkaitan pada ideologi. Ia merupakan suatu paham Islam yang menekankan aspek revolusioner di dalam agama. Paham ini tidak ada kaitannya dengan paham Marxisme. Istilah Kiri merupakan suatu istilah dalam ilmu sosial yang maksudnya adalah representasi dari sikap kritis.
Kiri Islam ialah suatu karya yang ditulis Hasssan Hanafi terbit di tahun 1981 M. Dalam karya tersebut terdapat beberapa hal yang dibahas. Di antaranya, nama dan kredo, latar belakang dan momentum revitalisasi klasik, menentang peradaban Barat, realitas dunia Islam, agama dan revolusi, serta integrasi nasional dan juga menjawab suatu keraguan.
Pertama, nama dan kredo merupakan suatu penegasan Hassan Hanafi bahawasannya esai-esai Kiri Islam ialah lanjutan dari al-Urwah al-Wusqa dan al-Manar. Dimana hal tersebut diketahui dari keterkaitan pada agenda Islam Al-Afghani.
Agenda Islam Al-Afghani adalah melawan kolonialisme dan kemunduruan dengan menyerukan kebebasan serta keadilan sosial, dan mempersatukan kaum muslimin pada kelompok Islam dan kelompok Timur.
Dalam hal ini Kiri Islam berfungsi untuk mentransformasikan keadaan individualis dalam tubuh umat Islam menjadi keadaan yang lebih kolektif. Dari revolusi yang intelektual ke revolusi yang kenyataan.
Kedua, latar belakang dan momentum revitalisasi klasik. Adanya Kiri Islam dilatar belakangi oleh kegagalan pada metode dalam pembaharuan yang sudah ada sebelumnya. Kiri Islam ingin menghasilkan suatu keberhasilan yang dapat menuntaskan kemiskinan yang ada. Dengan demikian, perlu adanya pengembangan khazanah umat muslim yang mampu menjadi pijakan kesadaran masyarakat. Revitalisasi klasik Hassan Hanafi lebih menekankan pada hal ini.
Menurutnya, suatu rekonstruksi, pengembangan, serta pemurnian khazanah klasik sangat penting untuk dilakukan. Adapun macam-macam khazanah klasik yang berupa ilmu pengetahuan, yakni ilmu normatif rasional, ilmu rasional semata, dan juga ilmu normatif tradisional.
Ketiga, menentang peradaban Barat. Dalam hal ini Kiri Islam bertugas untuk mengembalikan peradaban bangsa Barat ke dalam batas-batas alamiahnya. Menjelaskan apa proporsinya dan asal-asulnya, kemudian kesesuaiannya pada kondisi dan kesejahteraan tertentu.
Kiri Islam menjadikan bangsa Barat sebagai suatu objek pada studi dalam membangun ilmu yang baru berupa oksidentalisme guna menandingi orientalisme.
Keempat, realitas dunia Islam. Sejak terjadinya perang salib, muncul tantangan baru berupa imperealisme, zionisme, dan juga kapitalisme. Pada saat yang sama, bangsa Islam tengah menjadi bangsa termiskin di dunia.
Kelima, agama dan revolusi. Tugas lain dari Kiri Islam ialah untuk membongkar segala macam unsur revolusioner pada agama serta menjelaskan dari pokok-pokok peraturan di antara agama dan revolusi.
Keenam, integrasi nasional dan menjawab keraguan. Kiri Islam sangat mendorong adanya dioalog antar berbagai macam kecenderungan dalam pemikiran-pemikiran Islam dengan cara menghindari adanya perdebatan, saling mencaci maki, serta timbulnya perpecahan.
Dalam hal ini, Kiri Islam dapat dikatakan sebagai bukan paham yang baru di dalam agama Islam, baik secara teologi ataupun fiqih. Ini adalah upaya untuk mempersatukan umat muslim yang sejalan dengan kebutuhan serta tuntutan zaman. Ia sejalan dengan nilai kebebasan, keadilan, serta kemajuan.
Dengan demikian, maka kesatuan dalam pemikiran menjadi prasyarat kesatuan di dalam internal umat Islam. Dapat disimpulkan bahwasannya Kiri Islam bertujuan untuk menjadi bekal bagi pribadi individu dan dan untuk menggugah kesadaran dalam menyongsong kebangkitan masyarakat di era modern. Menjadikan setiap individu menjadi bagian dari publik, sehingga mereka merasa memiliki rasa tanggung jawab pada realitas di sekitarnya. Dalam Kiri Islam, agama menjadi ruh pembebasan dan sebagai aksi sosial guna melawan penguasa yang sewenang-wenang.
Editor : Yusuf