Selasa, Oktober 6, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Belajar dari Fatima Mernissi sebagai Feminisme Praksis

RedaksiKS by RedaksiKS
Juni 14, 2023
in Sosok
0
Belajar dari Fatima Mernissi sebagai Feminisme Praksis

Sumber : ismaha.qatar.georgetown

30
SHARES
177
VIEWS

Feminisme berasal dari bahasa Prancis yang berarti feminin, sebuah kata sifat yang merujuk pada “wanita” atau sifat-sifat kewanitaan. Feminisme merupakan sebuah aliran atau gerakan pergerakan dari wanita untuk wanita. Dengan kata lain pergerakan yang berupaya untuk memperjuangkan hak-hak dari perempuan yang dalam sejarahnya sering kali menjadi kelompok yang tertindas.

Mary Wollstonecraft sering kali dianggap sebagai tokoh feminisme pertama yang muncul sekitar abad ke-18. Wollstonecraft dalam karyanya yang berjudul A Vindication of The Rights of Woman melakukan kritik terhadap kebijakan revolusi Prancis yang hanya diberlakukan untuk laki-laki. Namun tidak untuk perempuan.

TulisanTerkait

Cahaya dari Pesisir: Menelusuri Jejak Intelektual Ahmad Dahlan dan Kartini dalam Arus Pembaruan Bangsa

Kursi Roda, Saksi Bisu Perjuangan Ahmad Yasin Melawan Kedzaliman Israel

Buya Hamka: Pena, Iman, dan Perjuangan Seorang Ulama

Setelah itu banyak tokoh-tokoh feminisme yang bermunculan seperti Raden Ajeng Kartini, Betty Friedan, Malala Yousafzai, Nawal El Sa’dawi. Simone de Beauvoir, Evelyn Reed, Dorothy Dinnerstein, Qasim Amin, Amina Wadud, Fatima Mernissi, dan masih banyak lagi. Dari sekian banyak tokoh feminis, penulis akan mengambil pemikiran feminisme dari Fatima Mernissi.

Fatima Mernissi (1940-2015) merupakan salah satu tokoh feminisme Islam berkebangsaan Maroko yang memberikan kontribusi pemikiran yang besar untuk memperjuangkan hak-hak perempuan. Mernissi sering kali dianggap sebagai tokoh feminisme yang kritis dalam menyikapi hadits-hadits dan persoalan penafsiran pada rujukan umat Islam, yaitu Al-Qur’an.

Mernissi tidak segan-segan untuk mengkritik pata sahabat atau ulama yang terkenal sekalipun. Mereka yang mendasarkan Nabi Muhammad SAW adalah penerima wahyu Ilahi yang harus dibedakan dimensi kemanusiaan eksklusifnya. Oleh karenanya, Mernissi menganggap bahwa ulama atau imam sekalipun merupakan manusia yang biasa dan tidak terlepas daari kesalahan.

Asumsi inilah yang membuat pemikiran-pemikiran Mernissi dianggap sebagai pemikiran yang kontroversial, karena mengkritik para imam, ulama, bahkan sahabat sekalipun.  Seperti halnya Bahi Muhamamd yang mengkritik pemikiran Mernissi dengan tulisannya yang berjudul Al-Harim al-Siyas Li Fatima al-Marnissi, Atika Sermouh dalam tulisannya yang berjudul Quelle place pour la femme ? (Compte rendu surportais de femmes),  dan masih banyak lagi. Pemikiran-pemikirannya juga seringkali dihubungkan dengan adanya pengaruh atau doktrin dari Barat. Dalam hal ini, ia memberikan pendapat yang berbunyi :

“Saya cukup cerdas untuk bersikap kritis terhadap Barat dan mengambil apa yang saya butuhkan dan menolak apa yang buruk bagi saya”

Segenap pemikiran besar Fatima Mernissi berawal dari keresahannya terhadap pengalaman dan pengamatannya pada perempuan di tempat tinggalnya yang sering kali di batasi kebebasannya dengan menetap di harem. Di samping itu, pembatasan kebebasan atas perempuan banyak didasarkan oleh perintah agama dengan menggunakan dalil-dalil pada ayat Al-Qur’an dan hadits.

Fatima Mernissi merasakan bahwa ajaran-ajaran agama Islam yang ada saat itu sering kali digunakan untuk memojokkan dan membatasi kebebasan kaum perempuan. Dari sinilah kemudian ia memiliki beberapa pertanyaan besar yang ingin dijawab olehnya. Adapun salah satu pertanyaan besarnya adalah apakah mungkin Islam mengajarkan umatnya untuk memperlakukan wanita secara tidak adil ?

Untuk menjawab pertanyaan besarnya tersebut, ia mendobrak semangat dalam dirinya untuk terus belajar. Di samping mempelajari ilmu pengetahuan, dia juga mempelajari sumber utama dalam Islam, yaitu tentang Al-Qur’an dan hadits untuk memeriksa apakah Islam memang mengajarkan perbuatan yang tidak adil terhadap perempuan.

Dari hasil belajarnya, ia memperoleh sebuah konklusi bahwa Islam sejatinya telah mengajarkan kesetaraan antara perempuan dan laki-laki. Mernissi juga menjelaskan bahwa selama ini, penafsiran terhadap Al-Qur’an banyak dilakukan oleh para kaum laki-laki. Di samping itu, terdapat beberapa hadits yang mengandung unsur kebencian terhadap kaum perempuan (hadits misoginis) yang perlu untuk dikritisi.

Mernissi memiliki banyak sekali karya-karya yang membahas tentang perempuan dalam Islam. Karya-karya tersebut diantaranya adalah Beyond the Veil: Male-Female Dynamics in Modern Muslim Society, Women and Islam: An Historical and Theological Enquiry, Islam and Democracy: Fear of Modern World, The Forgotten Queens of Islam, dan masih banyak lagi.

Oleh karenanya, ia menawarkan metode hermeneutika hadits sebagai pendekatan untuk menafsir secara kritis terhadap kumpulan hadits yang telah ada. Dalam karyanya, ia sering kali merujuk ayat-ayat Al-Qur’an yang mengandung makna kesetaraan seperti QS Al-Hujurat ayat 13, QS. Al-Ahzab ayat 35, QS. Ali Imran ayat 195, dan masih banyak lagi.

Fatima Mernissi juga membagi Islam kedalam dua bagian, yaitu Islam Risalah dan Islam Politis. Adapun Islam Risalah merupakan pesan dari Allah Azza Wa Jalla yang tercatat pada ayat-ayat Al-Qur’an. Sedangkan Islam Politis, merupakan Islam sebagai praktik kekuasaan yang terdapat pada tindakan-tindakan manusia dengan nafsu yang berimplikasi pada keinginan untuk mencapai kepentingan pribadi.

Fatima Mernissi dapat dikatakan tokoh yang memiliki keberanian untuk mengkritisi hadits dengan sperangkat pengetahuannya. Di bekali dengan keresahan dan sikap kritisnya. Ia bersungguh-sungguh dan komitmen dalam belajar dan pada akhirnya mampu menunjukkan bahwa pemikirannya dapat menjadi rujukan dan dikenali banyak orang.

Menurut penulis, selain pemikiran Fatima Mernissi sangat penting dikaji sebagai feminsime dalam ilmu pengetahuan. Sikap kritis dan komitemen belajarnya dapat dijadikan rujukan bagi kalangan perempuan. Sikap kritis dan komitmen untuk membekali diri dengan pengetahuan merupakan dua hal yang telah diajarkan dalam agama Islam.

Maka dari itu, selain feminisme itu baik untuk dipelajari oleh perempuan dan laki-laki. Meneladani sikap baik dari para tokoh feminisme juga di rasa sangat perlu. Meneladani aktivitas positif tersebut dapat digunakan sebagai lompatan praksis atau implementasi dari visi feminisme itu sendiri untuk dapat meningkatkan derajat perempuan di masyarakat sebagai perempuan yang kritis dan berpengetahuan.

Penulis : Naufal Robbiqis Dwi Asta (Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya)

Terkait

Previous Post

Bijaksana dalam Ketergantungan Media Sosial

Next Post

Self Development: Menjadi Wanita Berkualitas, “The Alpha Girl’s Guide”

RedaksiKS

RedaksiKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
Self Development

Self Development: Menjadi Wanita Berkualitas, “The Alpha Girl’s Guide”

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.