Bersyukur merupakan salah satu bentuk rasa terima kasih kita kepada Allah atas segala apa yang telah terjadi dan rahmat yang telah diberikan. Bersyukur juga erat kaitannya dengan penerimaan diri.
Sebagaimana rasa syukur merupakan salah satu jalan menuju penyucian diri dalam tasawuf, salah satu upaya kita untuk dapat menyucikan diri kita ialah dengan rasa syukur terhadap nikmat yang diberikan oleh Allah SWT kepada diri kita.
Rasa syukur akan selalu mendekatkan kita dengan hal-hal baik, dimana kita menyadari nikmat yang telah diberikan maka disitulah tempat kebaikan Allah SWT.
Apakah kita bersyukur hanya untuk bertaat kepada Allah?
Tentu tidak, bersyukur sebagai bukti bahwa kita telah menerima diri kita. Dengan begitu, kita tidak hanya bertaat dengan Allah tapi juga sebagai upaya kita menjaga kesehatan mental dan jasmani kita.
Dalam proses menyucikan diri, kita akan melewati situasi dimana kita dipaksa oleh keadaan untuk sabar, kuat, menahan lelah, serta banya gejolak emosi yang akan kita hadapi.
Namun MasyaAllah, apabila kita dapat berdamai dengan keadaan yang terjadi kepada kita. Memang tidaklah mudah untuk mencapai ketenangan tersebut, tapi itulah tugas kita untuk terus berusaha dan percaya. Bagaimana bisa bersyukur dapat menjauhkan diri dari depresi?
Tanpa kita sadari semakin kita jauh dari rasa bersyukur maka semakin tinggi tingkat depresi kita saat menghadapi masalah-masalah di dunia. Kalau dikatakan depresi mungkin terdengar sedikit berlebihan, namun apabila emosi kita sudah ‘membludak’ atau tak terkendali. Kita sudah tidak lagi dapat menghindari yang namanya depresi.
Ada kalanya apabila kita terlalu bersandar pada dunia akan berujunng kecewa, harapan yang kita berikan pada dunia hanya boleh sebatas hasil dari upaya yang kita berikan. Namun untuk keyakinan dan harapan yang utama haruslah kita sandarkan pada Allah SWT.
Dengan begitu hasil apapun yang kita dapatkan di dunia tidak akan memengaruhi keyakinan kita kepada Allah SWT.
Dalam bertasawuf semua hal yang ada maupun tidak ada dalam dunia ini haruslah kita yakini bahwa semua telah direncanakan dan dihendaki Allah SWT. Lalu apa hubungannya bersyukur dengan depresi?
Jadi begini, apabila kita tidak pernah bersyukur dengan yang kita miliki maka secara tidak langsung kita akan terus merasa kurang dengan hidup kita. Bukan berarti merasa selalu kurang adalah hal buruk, karena bisa saja karena merasa kurang kita akan lebih berusahan untuk mencapai mimpi kita
Namun sebaliknya, apabila kita berlebihan menyalahkan diri sendiri dengan rasa ingin lebih tersebut dapat mempermudah kita mengalami depresi seperti yang saya jelaskan sebelumnya.
Niscaya jika kita selalu sadar akan karunia Allah dan dapat menerima apapun dalam diri kita maka akan jauh kita dari emosi-emosi yang berlebihan. Dalam Al-Quran Surah Surah Ar-Ra’d Ayat 28
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ
Artinya: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
Dari ayat di atas dengan kita selalu mengingat Allah dapat menenangkan gejolak emosi dan perasaan buruk dalam hati kita. Apakah yakin terhadap takdir Allah dapat di katakan bersyukur?.
Maka dapat dikatakan jika kita yakin bahwasannya apapun yang terjadi dalam kehidupan kita hanya ada miracle, keajaiban yang akan selalu terjadi dengan kita sadari atau tidak.
Kebaikan dan keburukan yang terjadi merupakan takdir Allah SWT yang diberikan kepada kita. Apabila kita dapat menyadari dan berusaha memahami makan aka nada hikmah dari kejadian yang terjadi dalam kehidupan. Dalam Al-Quran Surat Luqman Ayat 12
وَلَقَدْ ءَاتَيْنَا لُقْمَٰنَ ٱلْحِكْمَةَ أَنِ ٱشْكُرْ لِلَّهِ ۚ وَمَن يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِۦ ۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ حَمِيدٌ
Artinya: Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”.
Dalam berbagai aspek jasmani atau rohani perlulah kita syukuri, dalam hal kesehatan, akal, rezeki, bahkan kesedihan yang kita terima bersyukur dan serahkan semuanya kepada Allah. Mulai penuhi hari dengan Rasa Syukur :
Tanpa kusadari penolakan terhadap apa yang terjadi telah menjauhkanku dari nikmat yang Allah berikan. Semakin aku jauh dari-Mu maka semakin sering aku merasa sedih dan sendiri. Terima kasih atas segala yang Engkau berikan kepadaku dan atas rencana yang telah Engkau tuliskan untukku di masa depan.
Terima kasih atas kebahagiaanku hari ini, kesehatanku hari ini, kesedihanku yang entah kapan akan terjadi. InsyaAllah, semoga aku selalu ingat kepada-Mu. Maaf jika sebelumnya aku mengingkari nikmat-Mu, meragukan ciptaan-Mu.
Kalau kata Gus Baha “Allah itu sangat Ridho, ada orang makan satu asupan kemudian dia muji Allah. Ada Orang ndak punya Alphard itu ndak mati, ndak punya tanah ribuan hektar itu ndak mati. Tapi kalo ndak makan sesuap nasi, mati. Jadi lebih penting mana? Penting makan. Gara-gara kamu tamak untuk syukur nunggu Alphard, untuk syukur nunggu punya tanah banyak, Anda ini bodoh. Mau syukur saja syaratnya banyak, sebetulnya untuk kita mau menjadi Wali itu cukup setiap makan harus bersyukur”
Intinya apa? Bersyukur itu sebuah bentuk nikmat, nikmat yang mudah didapat, dimana saja, kapan saja, dalam situasi apapun kita bisa bersyukur. Mari kita mulai untuk menghargai hal-hal kecil, orang terdekat di sekitar kita.
Penulis : Afidatul Khusnah (Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya)