Oleh: Azhar Ardiansyah Al Aziz
Penderitaan merupakan salah satu pengalaman eksistensial yang tidak dapat dilepaskan dari kehidupan manusia. Kehilangan harta, kegagalan nyalon ketum, penyakit berat, kematian, penolakan kerja, dan ketidakpastian masa depan merupakan realitas yang dapat dialami oleh setiap individu tanpa memandang status sosial, tingkat pendidikan, maupun kondisi ekonomi. Persoalan mendasar yang muncul bukan semata-mata mengenai keberadaan penderitaan, melainkan mengenai bagaimana manusia memberikan respon terhadap penderitaan tersebut. Dalam konteks ini, persoalan penderitaan memiliki dimensi filosofis sekaligus teologis karena menyangkut hubungan manusia dengan dirinya sendiri, lingkungan sosialnya, dan realitas transenden yang diyakininya.
Dalam kehidupan kontemporer, persoalan tersebut memperoleh relevansi yang semakin kuat. Perkembangan teknologi dan modernisasi telah menghasilkan berbagai bentuk kemudahan dalam kehidupan manusia. Informasi dapat diperoleh secara instan, komunikasi dapat berlangsung tanpa batas geografis, dan berbagai kebutuhan manusia dapat dipenuhi dengan relatif cepat. Namun, peningkatan kenyamanan tersebut tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan kemampuan manusia dalam menghadapi ketidaknyamanan. Sebaliknya, dapat ditemukan kecenderungan meningkatnya ketidaksabaran, intoleransi terhadap kegagalan, dan kecenderungan untuk mengeluhkan keadaan yang tidak sesuai dengan ekspektasi.
Fenomena tersebut dapat dipahami sebagai persoalan psikologis sekaligus filosofis. Manusia modern cenderung membangun ekspektasi bahwa kehidupan ideal adalah kehidupan yang dapat dikontrol, diprediksi, dan disesuaikan dengan kehendak individu. Ketika realitas tidak sesuai dengan ekspektasi tersebut, muncul frustasi dan kecenderungan untuk memandang keadaan sebagai sesuatu yang tidak semestinya terjadi. Dalam konteks inilah pemikiran Stoicisme dan kisah Nabi Ayyub AS memiliki relevansi untuk dikaji secara komparatif.
Stoicisme menawarkan suatu kerangka filosofis mengenai pengendalian diri dan penerimaan terhadap realitas yang berada di luar kendali manusia. Sementara itu, kisah Nabi Ayyub dalam tradisi Islam memperlihatkan bentuk kesabaran dan keteguhan spiritual dalam menghadapi penderitaan yang sangat berat. Meskipun keduanya memiliki landasan epistemologis dan metafisis yang berbeda, terdapat titik temu dalam persoalan mengenai bagaimana manusia seharusnya merespons keadaan yang tidak dapat sepenuhnya dikendalikan.
Nabi Ayyub dan Penderitaan
Nabi Ayyub AS merupakan salah satu nabi yang kisahnya secara eksplisit diabadikan dalam Al-Qur’an. Kisah tersebut terutama terdapat dalam QS. Al-Anbiya’ ayat 83–84 dan QS. Shad ayat 41–44. Al-Qur’an menggambarkan Ayyub sebagai seorang hamba yang mengalami penderitaan berat, kemudian memohon pertolongan Allah dan memperoleh kesembuhan serta pemulihan atas kehidupannya.
Dalam QS. Al-Anbiya’ ayat 83, Ayyub berdoa:
“Rabbi anni massaniya adh-dhurru wa anta arhamur rahimin.”
Artinya, “Ya Tuhanku, sungguh aku telah ditimpa penderitaan, sedangkan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang.”
Ayat tersebut memiliki signifikansi teologis yang penting. Nabi Ayyub tidak menyangkal keberadaan penderitaan yang dialaminya. Ia mengakui secara eksplisit bahwa dirinya telah ditimpa adh-dhurru, yaitu penderitaan atau kesulitan. Akan tetapi, pengakuan terhadap penderitaan tersebut tidak berkembang menjadi penolakan terhadap kehendak Allah. Sebaliknya, penderitaan menjadi titik keberangkatan bagi Nabi Ayyub untuk kembali kepada Tuhan.
Hal tersebut diperkuat oleh QS. Shad ayat 44 yang menyebut Nabi Ayyub sebagai shabir dan awwab. Kesabaran (sabr) menunjukkan kemampuan untuk mempertahankan keteguhan dalam menghadapi ujian, sedangkan awwab menunjukkan karakter seorang hamba yang senantiasa kembali kepada Allah. Dengan demikian, kesabaran Nabi Ayyub bukan sekadar kemampuan psikologis untuk menahan penderitaan, tetapi merupakan sikap spiritual yang berakar pada relasi manusia dengan Tuhan.
Penting pula untuk membedakan antara informasi Al-Qur’an dan berbagai riwayat tambahan mengenai kisah Nabi Ayyub. Al-Qur’an tidak menjelaskan secara rinci jenis penyakit yang dideritanya, durasi penderitaannya, maupun seluruh detail kehilangan yang dialaminya. Sejumlah rincian populer mengenai kisah Nabi Ayyub berasal dari literatur tafsir dan riwayat yang tingkat otoritasnya berbeda-beda. Oleh karena itu, pembacaan akademis terhadap kisah Nabi Ayyub perlu membedakan antara narasi Qur’ani dan elaborasi tradisi tafsir.
Stoicisme dan Pengendalian Diri
Stoicisme merupakan salah satu aliran filsafat Helenistik yang berkembang sejak abad ketiga sebelum Masehi. Aliran ini didirikan oleh Zeno dari Citium dan kemudian mengalami perkembangan signifikan melalui pemikir-pemikir seperti Seneca, Epictetus, dan Marcus Aurelius.
Salah satu prinsip fundamental Stoicisme adalah pembedaan antara sesuatu yang berada dalam kendali manusia dan sesuatu yang berada di luar kendalinya. Epictetus, misalnya, menempatkan penilaian, kehendak, pilihan, dan tindakan sebagai bagian dari wilayah internal manusia. Sebaliknya, kekayaan, kesehatan, reputasi, kondisi sosial, dan berbagai peristiwa eksternal tidak sepenuhnya berada dalam kekuasaan individu.
Pembedaan tersebut memiliki konsekuensi etis. Manusia tidak seharusnya mengukur kualitas hidup berdasarkan keberhasilan mengendalikan dunia eksternal, sebab dunia eksternal selalu mengandung unsur kekecewaan. Kualitas manusia justru ditentukan oleh kemampuan menggunakan rasio secara tepat dalam memberikan penilaian dan menentukan tindakan.
Dengan demikian, Stoicisme tidak mengajarkan bahwa manusia harus menjadi pasif terhadap kehidupan. Sebaliknya, manusia dituntut untuk bertindak berdasarkan kebajikan, tetapi tidak menggantungkan ketenangan batinnya pada hasil eksternal yang tidak sepenuhnya dapat dikontrol.
Dalam kerangka etika Stoik, kebajikan (virtue) merupakan kebaikan yang sesungguhnya. Kekayaan, kesehatan, status sosial, maupun keberhasilan tidak dianggap sebagai kebaikan moral dalam dirinya sendiri. Hal-hal tersebut dapat menjadi sesuatu yang diinginkan, tetapi tidak menentukan apakah seseorang merupakan manusia yang baik. Kebajikan utama dalam Stoicisme meliputi kebijaksanaan (wisdom), keberanian (courage), keadilan (justice), dan pengendalian diri (temperance).
Dengan demikian, penderitaan tidak secara otomatis menjadikan seseorang buruk, sebagaimana kenyamanan tidak secara otomatis menjadikan seseorang baik. Yang menentukan adalah bagaimana individu memberikan respons moral dan rasional terhadap keadaan tersebut.
Titik Temu Nabi Ayyub dan Stoicisme
Pada tingkat tertentu, terdapat paralel konseptual antara kisah Nabi Ayyub dan Stoicisme. Keduanya menempatkan persoalan respon manusia terhadap kondisi eksternal sebagai persoalan utama.
Nabi Ayyub menghadapi berbagai keadaan yang tidak berada dalam kendalinya. Ia tidak dapat menentukan datangnya penyakit, kehilangan, maupun berbagai perubahan dalam kehidupannya. Namun, ia tetap memiliki kemampuan untuk menentukan respons spiritualnya. Ia memilih kesabaran, doa, dan keteguhan iman.
Hal tersebut memiliki kemiripan struktural dengan prinsip Stoik mengenai dichotomy of control. Nabi Ayyub tidak berusaha mengubah realitas dengan kemarahan atau keputusasaan. Ia menerima kondisi yang sedang dihadapinya, tetapi tetap mengarahkan dirinya kepada Allah.
Kesamaan tersebut dapat dirumuskan dalam tiga aspek. Pertama, keduanya mengakui keterbatasan kontrol manusia terhadap realitas eksternal. Kedua, keduanya menempatkan kualitas internal manusia sebagai sesuatu yang lebih fundamental daripada kondisi eksternal. Ketiga, keduanya menolak gagasan bahwa penderitaan eksternal harus secara otomatis menghasilkan kehancuran moral dan psikologis. Namun demikian, persamaan tersebut tidak boleh menghapus perbedaan mendasar antara keduanya.
Perbedaan Landasan: Rasio dan Wahyu
Stoicisme memiliki dasar metafisis yang berkaitan dengan konsep Logos, yakni prinsip rasional yang mengatur keteraturan kosmos. Manusia dipandang sebagai bagian dari keseluruhan kosmis tersebut sehingga kehidupan yang baik adalah kehidupan yang selaras dengan rasio dan keteraturan alam.
Sementara itu, kesabaran Nabi Ayyub berakar pada hubungan teologis antara manusia dan Allah ta’ala. Nabi Ayyub tidak hanya menerima realitas karena memahami keterbatasan kendali manusia, tetapi karena ia memiliki keyakinan bahwa kehidupan berada dalam pengetahuan dan kehendak Allah ta’ala.
Perbedaan tersebut dapat terlihat dengan jelas dalam doa Nabi Ayyub. Ia tidak berhenti pada pengakuan terhadap penderitaan, tetapi menyebut Allah ta’ala sebagai Arham al-Rahimin, “Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.”
Dengan demikian, orientasi Nabi Ayyub bersifat teosentris. Pusat kehidupannya bukan sekadar kemampuan manusia mengendalikan respon terhadap keadaan, melainkan keterhubungan manusia dengan Allah ta’ala. Stoicisme lebih menekankan transformasi penilaian manusia melalui rasio, sedangkan kisah Nabi Ayyub menekankan keteguhan iman melalui kesabaran, doa, dan tawakal.
Kritik terhadap Manusia Kontemporer
Perbandingan tersebut menjadi semakin relevan ketika diterapkan pada kehidupan manusia kontemporer. Salah satu karakter masyarakat modern adalah meningkatnya orientasi terhadap kenyamanan, kecepatan, dan pemenuhan keinginan. Teknologi telah membentuk pola kehidupan yang menuntut respon serba cepat. Informasi tersedia secara instan, komunikasi berlangsung seketika, dan berbagai kebutuhan dapat diperoleh melalui mekanisme yang semakin efisien.
Kondisi tersebut memiliki konsekuensi terhadap pembentukan karakter. Ketika individu terbiasa dengan kecepatan dan kenyamanan, proses yang lambat dan keadaan yang tidak sesuai dengan keinginan dapat dipersepsikan sebagai gangguan. Akibatnya, toleransi terhadap frustasi dapat menurun.
Fenomena tersebut dapat terlihat dalam berbagai bentuk kehidupan sehari-hari. Kegagalan akademik dapat dipandang sebagai akhir masa depan, penolakan dalam hubungan interpersonal dapat menghasilkan krisis identitas, keterlambatan dalam memperoleh sesuatu dapat memunculkan kemarahan, dan kritik terhadap diri dapat dianggap sebagai serangan terhadap harga diri.
Namun, persoalan utamanya bukan keberadaan emosi negatif tersebut. Emosi merupakan bagian dari pengalaman manusia. Persoalannya muncul ketika manusia kehilangan kemampuan untuk merefleksikan emosi dan membiarkan emosi menentukan seluruh tindakannya.
Dalam perspektif Stoik, keadaan tersebut menunjukkan kegagalan membedakan antara hal yang berada dalam kendali dan hal yang berada di luar kendali. Dalam perspektif kisah Nabi Ayyub, persoalan tersebut dapat dilihat sebagai lemahnya sabr, yaitu ketidakmampuan mempertahankan keteguhan ketika menghadapi ujian.
Dengan demikian, budaya mengeluh dapat dipahami bukan sekadar sebagai persoalan kebiasaan berbicara, tetapi sebagai persoalan cara manusia memandang realitas. Manusia yang menganggap bahwa dunia harus selalu memenuhi ekspektasinya akan lebih mudah mengalami frustrasi ketika berhadapan dengan kenyataan yang berbeda.
Kesabaran sebagai Bentuk Kekuatan
Kisah Nabi Ayyub memperlihatkan bahwa kesabaran tidak identik dengan kelemahan. Sebaliknya, kesabaran dapat dipahami sebagai bentuk kekuatan moral. Nabi Ayyub tidak kehilangan kemanusiaannya karena penderitaan, tetapi justru memperlihatkan kualitas spiritual melalui responnya terhadap penderitaan.
Hal tersebut memiliki kedekatan dengan Stoicisme. Dalam Stoikisme, seseorang dikatakan kuat bukan karena ia mampu mengendalikan seluruh keadaan, melainkan karena ia mampu mengendalikan penilaian dan tindakannya. Kekuatan tidak terletak pada kemampuan menguasai dunia, tetapi pada kemampuan untuk tidak menjadi budak dari keadaan eksternal.
Perbedaan terminologi tidak menghilangkan adanya persinggungan filosofis. Sabr dalam tradisi Islam dan pengendalian diri dalam Stoicisme sama-sama mengandaikan adanya kemampuan untuk mempertahankan orientasi moral ketika manusia berada dalam tekanan.
Namun, sabr dalam Islam memiliki dimensi transendental yang tidak ditemukan secara identik dalam Stoicisme. Kesabaran bukan hanya pengelolaan emosi, melainkan bentuk pengabdian kepada Allah ta’ala. Karena itu, kesabaran Nabi Ayyub tidak berhenti pada penerimaan, tetapi juga mengandung doa, harapan, dan tawakal.
Konklusi
Kisah Nabi Ayyub dan Stoicisme memperlihatkan dua tradisi intelektual yang berbeda dalam menjawab problem penderitaan manusia. Stoicisme menawarkan pendekatan filosofis yang menekankan rasionalitas, pengendalian diri, kebajikan, dan penerimaan terhadap sesuatu yang berada di luar kendali manusia. Sementara itu, kisah Nabi Ayyub menawarkan pendekatan teologis yang menempatkan kesabaran, doa, tawakal, dan hubungan dengan Allah ta’ala sebagai fondasi menghadapi penderitaan.
Keduanya memiliki titik temu pada pengakuan terhadap keterbatasan manusia. Manusia tidak memiliki kendali penuh atas dunia. Ia tidak dapat menentukan seluruh peristiwa yang akan terjadi dalam kehidupannya. Namun, ia tetap memiliki ruang untuk menentukan responnya terhadap peristiwa tersebut.
Dalam konteks masyarakat kontemporer yang semakin berorientasi pada kenyamanan dan pemenuhan keinginan, pelajaran tersebut memiliki relevansi yang kuat. Manusia perlu membangun kemampuan untuk menerima ketidakpastian, menghadapi kegagalan, dan mengelola emosi secara proporsional. Keluhan tidak selalu merupakan tanda kelemahan, tetapi menjadikan keluhan sebagai orientasi hidup dapat menghambat proses kedewasaan manusia.
Pada akhirnya, Stoicisme dan kisah Nabi Ayyub sama-sama mengajarkan bahwa kualitas manusia tidak ditentukan semata-mata oleh keadaan yang diterimanya, melainkan oleh respon yang diberikan terhadap keadaan tersebut. Stoicisme menempatkan rasio dan kebajikan sebagai dasar penguasaan diri, sedangkan Nabi Ayyub menunjukkan bahwa kesabaran memperoleh makna yang lebih mendalam ketika berakar pada iman kepada Allah ta’ala.
Dengan demikian, manusia tidak dapat selalu memilih apa yang terjadi dalam kehidupannya, tetapi ia masih memiliki kemampuan untuk menentukan bagaimana ia menghadapi apa yang terjadi. Dalam bahasa Stoik, manusia perlu memusatkan perhatian pada apa yang berada dalam kendalinya. Dalam bahasa spiritual Nabi Ayyub, manusia perlu tetap kembali kepada Allah ta’ala ketika segala sesuatu berada di luar kendalinya. Keduanya bertemu dalam satu prinsip fundamental, yaitu penderitaan tidak selalu dapat dihindari, tetapi kehancuran diri sebagai akibat dari penderitaan bukanlah sesuatu yang harus diterima begitu saja.