Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Belajar dari Ukraina: Ketika Komedian Menjadi Pemimpin Perang di Tengah Paradox Demokrasi dan Solusi Menurut Islam

Mansurni Abadi by Mansurni Abadi
Oktober 30, 2025
in Esai, Narasi
0
Belajar dari Ukraina: Ketika Komedian Menjadi Pemimpin Perang di Tengah Paradox Demokrasi dan Solusi Menurut Islam
12
SHARES
73
VIEWS

Oleh: Mansurni Abadi

Mari sejenak kita alihkan perhatian dari persoalan Palestina ke Ukraina. Hal ini perlu dilakukan untuk merespons kelompok pro-Israel di Indonesia yang sering memainkan narasi standar ganda. Mereka mem-framing pendukung Palestina sebagai kelompok dengan kemanusiaan selektif yang hanya membela sesama seiman, itu pun jika berasal dari wilayah berpengaruh teologis, dan pelakunya bukan dari “satu server” yang sama.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Dalam artikel ini, saya eksplorasi simpati dan empati terhadap warga Ukraina dari sudut pandang berbeda. Meskipun pengungsi Ukraina relatif lebih layak dibandingkan pengungsi Palestina, dan entitas Ukraina yang diserbu Rusia diakui kedaulatannya oleh dunia, memiliki militer setara untuk melawan, serta Rusia sebagai agresor menerima sanksi global, kondisi yang mustahil diterapkan bagi Israel yang tetap bebas bergerak di panggung internasional.

Namun, satu hal membuat Ukraina masih dapat dikatakan  tragis adalah pemimpinnya, Volodymyr Zelenskyy, yang disebut Donald Trump sebagai “sangat tidak kompeten” dan negosiator buruk. Flashback ke akhir 2022, saat Vladimir Putin menyerang Ukraina, nama Zelenskyy tiba-tiba viral, bersamaan dengan sensasi Lesti-Billar yang mengomentari segala hal.

Di balik simpati netizen global, Ukraina meminta bantuan NATO, tapi diabaikan—membuatnya bergumam NATO jadi “Not Action, Talks Only”. Beredar pula masa lalunya sebagai komedian pro-Israel, mirip seperti Komeng, Eko Patrio, Uya Kuya, atau Deny Cagur.

 Berhadapan dengan Putin, mantan agen KGB Uni Soviet, jelas bukan tandingan sepadan buat seorang komedian yang saat ini mulai dianggap diktator oleh rakyat Ukraina akibat semakin memaksakan kehendaknya untuk terus memimpin melalui militer.

Meskipun diawal perang Rusia-Ukraina, komedian yang terpaksa jadi panglima perang itu bersumpah akan mempertahankan kedaulatan Ukraina, hingga kini tiga wilayah Ukraina yaitu Donetsk, Luhansk, dan Krimea masih dikuasai Rusia. Perang juga tak kunjung usai, meski sudah  dikunjungi Jokowi yang diyakini pendukungnya bisa menghentikan konflik itu . Di sinilah terlihat konsekuensi politik muncul, toh, memimpin negara memang bukan lelucon.

Panggung politik memang hiburan, tapi di baliknya ada kebengisan yang  tak terselesaikan dengan canda. Oleh karena itu, menarik untuk menelusuri awal karir Zelenskyy: kenapa publik Ukraina memilihnya , apa pelajaran demokrasi,  dan dalam konteks masyarakat Muslim bagaimana respons Islam terhadap keterpilihan pemimpin yang semacam ini yang dapat menjadi pelajaran bagi kita.

Jejak Langkah Presiden bernama lengkap Volodymyr Oleksandrovych Zelenskyy, yang merupakan seorang Yahudi pro-Israel, bermula sejak 2014, pasca jatuhnya Presiden Viktor Yanukovych yang  pro-Rusia akibat protes KKN dan perebutan Krimea oleh Rusia.

Zelenskyy saat itu hanyalah seorang komedian yang kebetulan resah terhadap politik, lalu menciptakan serial satire politik berjudul Servant of the People setahun kemudian.  Serial itu membuatnya menjadi  selebriti dengan rating tinggi di Ukraina.

Filmya sendiri berkisah tentang guru sejarah bernama  Vasyl Goloborodko yang tak puas dengan pemerintah. Yang kemudian membuatnya menciptakan satire terhadap pemerintah di depan rekan-rekannya dengan berpura-pura menjadi presiden.  Tanpa sepengetahuanya, muridnya merekam video tersebut, sehingga video itu viral yang kemudian membuat warga Ukraina terhibur serta mendukung aksinya.  

Singkat cerita, karena dukungan semakin meluas, teman-temannya pun menyuruhnya maju pemilihan Presiden, persoalan dana bisa dikumpulkan lewat donasi publik . Awalnya, saran itu dianggap bercanda oleh Vasly Goloborodko, namun donasi publik ternyata lebih dari cukup, sehingga Vasly Golobordko maju pemilihan presiden.

 Hingga tibalah waktu pemungutan suara, yang bagi Vasly hasilnya sudah pasti menempatkan dirinya sebagai calon yang kalah dengan lawannya yang lebih kuat secara politis, sehingga Vasly menjalani harinya seperti biasa, ke sekolah untuk mengajar lalu pulang kerumah, namun di hari itu yang mengejutkan ada Perdana Menteri Yuri Ivanovich yang memberi kabarnya bahwa ia menang.

 Guru yang awalnya hanya menjadi tukang satir itu kini menjadi presiden sungguhan seperti dunia wayang Petruk jadi ratu. Keinginannya memperbaiki sistem dari dalam terkabul, bukan sekadar DPR, tapi langsung presiden. Uniknya, kisah fiksi itu jadi kenyataan saat Zelenskyy menang pilpres 2019, meng,alahkan Petro Poroshenko dengan 70% suara.

Keterpilihan Zelenskyy dan Paradoks Demokrasi

Kemenangan Zelenskyy unik, selain karena drama fiksi jadi nyata. Faktor utama kemenangannya terletak pada  kemuakan rakyat Ukraina pada politisi lama yang membuat hidup mereka menderita; viralitas konten kampanyenya, termasuk karya satirnya yang melekat diingatan; serta anggapan bahwa Zelenskyy membawa kebaruan yang lebih pro-demokrasi, merakyat, bebas KKN, mirip keyakinan kita dulu pada calon dari Solo.

Meski Zelensky menghindari debat terbuka, terutama pada persoalan yang berat, ia konsisten dalam membawa materi kampanye yang ringan dan merakyat.  Dari sini terlihat adanya paradox dalam demokrasi, yaitu kotradiksi legitimasi kekuasaan rakyat, dimana prinsip kesetaraan suara untuk mencegah tirani elit malah berpotensi menghasilkan keputusan kolektif yang irasional yang mengutamakan popularitas, bukan kompetensi atau meritokrasi yang menghasilkan pemimpin kurang qualified tapi unggul dalam  karisma dan emosional.

Kasus Zelenskyy yang kalahkan Poroshenko 2019 meski berlatar komedi yang jauh dari pengalaman politik tentu  bukan kebodohan rakyat, tapi manifestasi demokrasi  yang prioritaskan aspirasi massa terlepas dari bagaimana kualitas calon tersebut. Meskipun disinilah ada trade-off yang berisiko: dimana muncul ketidakefisienan atau ketidakstabilan ketika yang dipilih justru tidak berkualitas, tapi jika terlalu di intervensi akan dianggap menganggu esensi demokrasi sebagai pemberdayaan kolektif. Oleh karena itu, dibutuhkan perjalanan panjang untuk mendidik rakyat agar memilih pemimpin yang berkualitas.

Toh, Zelenskyy sebagaimana Hitler hanya memanfaatkan situasi rakyat pada zamannya. Keduanya paham titik jenuh demokrasi, dimana massa menginginkan pemimpin yang seperti apa. Zelenskyy pandai dalam mengeksploitasi media sosial yang telah menjadi dunia keseharian kita.

Oleh karena itu, untuk belajar menang pemilu via sosial media bukan sekedar bansos atau rekayasa suara, perlu mengundang Zelenskyy seminar jelang 2029 di Indonesia. Pengajaran buat warga Indonesia yaitu,

tenang memilih pemimpin meskipun boleh alternatif, tapi utamakan rasionalitas. Jangan sekadar jenuh lalu menciptakan kekonyolan lebih besar, apalagi karena terkenal. Running a country is no joke atau memimpin negara tak sebecanda itu.

Respons Islam terhadap Contoh Zelenskyy

Dalam Islam, memilih pemimpin bukan asal populer atau alternatif dari politisi lama, tapi berdasar iman dan takwa kepada Allah, akhlak mulia, konsisten tegakkan keadilan tanpa pilih kasih, menerapkan kebijaksanaan, memiliki ilmu luas, dan memprioritaskan kepentingan umum atas pribadi atau golongan.

Islam mengajarkan untuk menjadi pemilih yang rasional perlu akal sehat, ilmu, dan memiliki hati nurani sebagaimana QS. al-A’raf [7]:198, dengan cara mempelajari visi-misi, integritas, kejujuran, kemampuan calon menegakkan keadilan dan amanah (QS. Yusuf [12]:54), bukan hanya  pengaruh emosi, politik uang, ajakan buta. Kedua, menghargai perbedaan pilihan sebagai sunnatullah (QS. an-Nahl [16]:93) yang harus menghindari perpecahan. Ketiga, mempunyai sikap adil ketika memberi suara sesuai keyakinan tanpa curangatau prasangka (QS. al-Maidah [5]:8). Dan yang keempat, harus punya kesadaran politik yang  tinggi, tanggung jawab suara sebagai amanah, memilih yang paling ringan mudaratnya jika tak ideal, demi menjaga keutuhan umat dan negara.

Editor: Rafidah Azis

Terkait

Tags: demokrasiPolitikUkrainaZalenskyy
Previous Post

Studi Kampus MA MBS Jazaul Ihsan: Tumbuhkan Rasa Percaya Diri untuk Menyongsong Masa Depan yang Cerah

Next Post

Lunturkan Ego Digital: Menghidupkan Kembali Adab Gen Z terhadap Orang Tua

Mansurni Abadi

Mansurni Abadi

Next Post
Lunturkan Ego Digital: Menghidupkan Kembali Adab Gen Z terhadap Orang Tua

Lunturkan Ego Digital: Menghidupkan Kembali Adab Gen Z terhadap Orang Tua

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.