Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Khutbah Jumat: Pancasila sebagai Kalimah Sawa’

RedaksiKS by RedaksiKS
Juni 27, 2020
in Khutbah
1
kebesaran masjid bukanlah tanda kebangkitan islam

kalimahsawa.id

217
SHARES
1.3k
VIEWS

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ

فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُؤْمِنُوْنَ الْمُتَّقُوْنَ

TulisanTerkait

Tuntunan yang Tidak Dituntunkan

KH. AM. Mustain Nasoha sampaikan Lima Perkara Penting Pasca Ramadhan dalam Khutbah Idul Fitri di Masjid Agung Surakarta 2025

Kemenangan Pasca Bulan Ramadhan

حَيْثُ قَالَ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَـنِ الرَّحِيْمِ
يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.
يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ: اِتَّقِ اللهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بَخُلُقٍ حَسَنٍ.

Jamaah shalat Jum’at yang mulia.

Indonesia lahir di pentas sejarah melalui jalan panjang sarat dinamika. Indonesia itu sungguh anugerah Allah yang patut disyukuri oleh seluruh anak negeri. Gugusan kepulauan nan luas, indah, dan kayaraya ini telah memikat hati seorang Eduard Douwes Dekker atau Multatuli. Hingga ia menjulukinya sebagai Zamrut di Khatulistiwa. Dalam titik sejarah yang kritis dan di atas perjuangan ratusan tahun para mujahid bangsa yang berkorban dengan segenap jiwa raga, Indonesia akhirnya bebas dari cengkreman penjajah. Kemudian hadir sebagai negara merdeka sebagaimana ungkapan syukur para pendiri bangsa: “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur. Supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”

baca juga: Liberalisasi Pancasila

Dalam proses pembentukan Indonesia yang tidak sekali jadi itu kehadiran Muhammadyah dan para tokohnya sungguh besar dan bermakna. KH Ahmad Dahlan, Nyai Walidah Dahlan,  KH Mas Mansur, Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimedjo, Kahar Muzakkir, Panglima Besar Sudirman, Ir Juanda, Dr. Soetomo, dan lain-lain bersama para pendiri dan pejuang negeri yang lainnya sungguh telah memberikan goresan tinta emas bagi kebangkitan dan kemajuan Indonesia.

Ir Soekarno, sebagai tokoh penting pergerakan kemerdekaan yang juga menjadi anggota dan pernah menjadi pengurus Muhammadiyah sejak tahun 1933. Ia merupakan bagian dari denyut nadi perjuangan Muhammadiyah membentuk dan membangun Indonesia yang bergelorakan kemajuan. Bahkan reformasi 1998 pun tidak lepas dari kepeloporan tokoh dan kiprah Muhammadiyah bersama seluruh komponen bangsa. Maka merupakan suatu sikap yang konsisten jika pada Muktamar ke-47 di Makassar 2015 Muhammadiyah mengeluarkan dokumen resmi tentang Negara Pancasila Sebagai Darul Ahdi wa Syahadah sebagai kado istimewa untuk Indonesia.

 Jamaah shalat Jum’at yang mulia.

Negara Pancasila merupakan hasil konsensus nasional (dar al-‘ahdi) dan tempat pembuktian atau kesaksian (dar asy-syahadah) untuk menjadi negeri yang aman dan damai. (dar as-salam) Menuju kehidupan yang maju, adil, makmur, bermartabat, dan berdaulat dalam naungan ridla Allah SWT. Pandangan kebangsaan tersebut sejalan dengan cita-cita Islam tentang negara idaman “Baldatun Thayyiabtun Wa Rabbun Ghafur”. Yaitu suatu negeri yang baik dan berada dalam ampunan Allah.

Maksudnya adalah negara ideal itu diberkahi Allah karena penduduknya beriman dan bertaqwa (QS Al-A’raf: 96), beribadah dan memakmurkannya (QS Adz-Dzariyat: 56; Hud: 61), menjalankan fungsi kekhalifahan dan tidak membuat kerusakan di dalamnya (QS Al-Baqarah: 11, 30), memiliki relasi hubungan dengan Allah (habluminallah) dan dengan sesama (habluminannas) yang harmonis (QS Ali Imran: 112), mengembangkan pergaulan antarkomponen bangsa dan kemanusiaan yang setara dan berkualitas taqwa (QS Al-Hujarat: 13), serta menjadi bangsa unggulan bermartabat khyaira ummah (QS Ali Imran: 110).

****

Negara Indonesia yang penduduknya mayoritas Muslim tersebut, dalam konteks keislaman dan keindonesiaan, harus terus dibangun menjadi Negara Pancasila yang Islami dan berkemajuan menuju peradaban utama bagi seluruh rakyat. Pancasila sebagai dasar Negara Republik Indonesia adalah ideologi negara yang mengikat seluruh rakyat dan komponen bangsa.

Pancasila bukan agama, tetapi substansinya mengandung dan sejalan dengan nilai-nilai ajaran Islam. Pancasila menjadi rujukan ideologis dalam kehidupan kebangsaan yang majemuk. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa Pancasila itu Islami. Karena substansi pada setiap silanya selaras dengan nilai-nilai ajaran Islam.

Jamaah salat Jum’at yang mulia.

Dokumen resmi Negara Pancasila Sebagai Darul Ahdi wa Syahadah merupakan terjemahan dari ayat Alquran, Surat Ali Imran (3), ayat 64 yang berbunyi, “ta’alau ila kalimatin sawa’ bainana wa bainakum” (marilah kembali kepada ikrar bersama antara kami dan kalian). Perdamaian dan keadilan dunia bergantung kepada hubungan baik antara agama yang ada d Indonesia. Dengan kata lain, kedamaian dunia akan terganggu jika antara penganut agama saling bersitegang dan tidak hidup dengan harmonis.

Pendekatan ini dapat menunjukkan titik pertemuan dan kesepakatan yang dibutuhkan dalam hidup bersama yang damai (kalimatun sawa’/ a common word) antar pemeluk agama. Adanya pluralitas hukum agama dalam pluralisme agama secara umum diakui secara jelas di dalam Alquran. Setiap umat atau kelompok sudah diberikan kitab suci, hukum-hukum, aturan khusus untuk mengatur kehidupan manusia (al-Ma’idah (5): 48).

Arah kiblat (di mana umat Muslim pernah mengalami perubahan bahkan pada saat sedang shalat) diperbolehkan berbeda. Artinya perbedaan kiblat tidak begitu penting. Aspek yang jauh lebih penting adalah percaya kepada Tuhan, hari Akhir, malaikat, kitab suci, para Nabi, dan memberi sebagian harta terbaiknya kepada yatim piatu dan orang miskin, selalu menepati janji, bersabar di kala kekurangan dan seterusnya. (al-Baqarah (2): 177).

Di atas semua realitas sosial teologi yang berbeda-beda, Alquran hanya memerintahkan dan memohon pengikut agama yang berbeda-beda untuk selalu “bersaing untuk berbuat kebaikan” (al-Ma’idah (5): 48; al-Baqarah (2): 148). Hal tersebut diakhiri dengan seruan untuk berpegang teguh kepada hal-hal yang tidak diperdebatkan lagi. (kalimatun sawa’ bainana wa bainakum, the ‘common word’) Terutama antar pemeluk agama Islam dan Kristen (Ali-Imran (3): 64).

 Jamaah salat Jum’at yang mulia.

Indonesia adalah identitas sebuah bangsa yang majemuk. Dalam kepusparagamannya telah membentuk diri menjadi satu: Bhineka Tunggal Ika. Maka bagai petir yang menyambar di siang bolong ketika Nurcholish Madjid menyuarakan tentang pemikiran Islam yang bercorak al-hanifiah al-samha (toleran, kelapangan, open, terbuka), pluralitas (al-ta’addudiyyah) dan inklusivitas (al-tadhamuniyyah). Dan sekarang  secara akademik lebih dikenal dengan multikulturalitas (ta’addud al-tsaqafaat/al-hadharaat wa al-diyanaat). Menyambar di siang bolong karena umumnya umat Islam Indonesia masih bercorak eksklusif, tertutup, sektarianistik, primordialistik, parokialistik, madzhabiyyah, hizbiyyah, dan ta’ifiyyah.

Situasi dan psikologi sosial-politik keagamaan di tanah air saat itu – bahkan sampai batas tertentu sampai sekarang dan sampai kapanpun – masih ada tersimpan keinginan dari sebagian warga dan kelompok yang  ingin menghidupkan kembali adanya semacam Islamdom. (Islam politik, sistem khilafah, al-daulah al-Islamiyyah). Karena mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim. Wajar jika ada beberapa kelompok berkepentingan yang menginginkan berdirinya semacam negara agama atau negara Islam disini. Namun sayangnya dengan menepikan, mengesampingkan, dan melupakan kesepakatan founding fathers, ijtihad politik para pendiri republik, negara-bangsa, Indonesia tahun 1945.

Islam yang bercorak al-hanifiah al-samha’, yang toleran, terbuka, yang dapat menerima dan bekerjasama dengan orang dan kelompok lain. Khususnya dalam membangun Indonesia yang majemuk dan mensejahterakan warganya secara bersama-sama. Bukan Islam yang bercorak sektarianistik. Yang tidak dapat menerima, apalagi bekerjasama dengan orang, organisasi dan kelompok, agama, suku, ras  lain yang berbeda.

 Jamaah salat Jum’at yang mulia.

Untuk hidup bersama maka diperlukan sebuah “Fikih Toleransi”. Di dalam buku Muhammad Al-Talbi, yang berjudul ‘Iyalullah: Afkar Jadidah fi ‘alaqah al-Muslim bi nafsihi wa bi al-akharin (Keluarga Allah: Gagasan Baru tentang Hubungan Muslim dengan Dirinya Sendiri dan dengan Orang Lain), 1992. Setidaknya ada 5 (lima) tingkatan untuk membangun hubungan harmonis antar umat beragama. Apa sajakah itu?

Pertama, saling mengenal (al-ta’aruf). Tidak jarang orang bertangga dengan orang yang berbeda agama tidak begitu saling mengenal. Mungkin kita bertetangga saling mengenal dan bertegur sapa secara fisik, tetapi hanya basa basi. Padahal Islam mengajarkan untuk saling mengenal secara sosial, kultural, dan teologis. Lebih-lebih masyarakat multireliji dan multikultural seperti Indonesia sangat penting budaya saling ta’aruf.

Kedua, saling memahami (al-Tafahum). Proses berikutnya, setelah saling mengenal adalah saling memahami. Saling memahami bahwasanya dalam masing-masing agama, baik itu doktrin, ritual, sistem moral, kepemimpinan, sistem sosial  adalah  berbeda, unik, tidak sama  (distinctive values) adalah pasti. Tetapi sikap yag penting adalah saling memahami perbedaan itu, dan menerima keberadaan orang lain tanpa syarat. Saling memahami tidak sampai menggerus keimanan. Sebaliknya keyakinan yang kuat, melahirkan sikap menghargai dan mengasihi sesama manusia.

****

Ketiga, saling mengasihi (al-tarahum). Hampir mustahil, tahapan saling mengasihi dan mengasihani ini (al-tarahum) dapat diraih tanpa melalui kedua prasyarat sebelumnya. Saling kasih dan mengasihi tidak hanya terbatas dalam kelompok intern umat beragama sendiri. Saling kasih mengasihi menembus  batas kelompok ras, etnis, suku dan agama sendiri. Tali kasih itu bersifat transras, transetnis, transsuku, transkelompok dan transagama dan kepercayaan yang dipeluk.

Hanya di atas landasan rasa saling kasih-mengasihi, saling peduli, tolong menolong, maka dapat ditumbuhkan rasa symphaty dan emphaty terhadap perasaan. Simpati juga ditumbuhkan terhadap penderitaan dan kesulitan yang dirasakan dan dialami oleh orang, kelompok, dan penganut agama lain.

Keempat, saling bersinergi-membangun solidaritas (al-tadhamun). Solidaritas adalah kunci perdamaian sejati. Umat Islam, begitu juga umat beragama yang lain, tidak tega, tidak sampai hati,  jika ada teman sejawat, sekampung, sebangsa dan senegara yang beda agama dalam keadaan kesusahan. Apalagi kesulitan, di bawah tekanan dan penindasan oleh siapapun. Ketika terjadi bencana alam, semua orang tergerak membantu secara suka rela, tanpa pamrih, tanpa melihat dan mempertimbangkan asal usul ras, suku, agama dan kepercayaannya. Indah sekali melihat gerakan solidaritas sosial ketika terjadi bencana alam. Seolah seperti itu lah corak hubungan yang sehat-positif-konstruktif dalam hubungan antar umat beragama dimanapun mereka berada.

Kelima, hidup berdampingan secara damai (al-ta’ayus al-silmi). Akumulasi dan tergabungnya sifat-sifat dasar masyarakat majemuk secara etnis, ras, kelas dan agama dan kepercayaan di atas (al-ta’aruf, al-tafahum, al-tarahum dan al-tadhamun). Jika terkelola dan dikelola dengan baik, terhimpun dan terajut dengan rapi dalam hati sanubari seluruh anggota masyarakat. Maka himpunan dan rajutan itu akan berubah menjadi modal kultural dan modal sosial yang sangat kuat dan tidak ternilai harganya.

baca juga: Pancasila, Antibodi Virus Transnasionalisme

Nah lima hal itu, menjadi penting dijaga dirawat untu menjaga persatuan dalam kebinnekaan di Indonesia.

Jamaah salat Jum’at yang mulia.

Demikian khutbah singat ini. Semoga menambah wawasan kebangsaaan Kita. Bahwa sejatinya Al-Quran pedoman bagi agama Rahmatan lil Alamin. Marilah kita menundukkan hati kita dan berdoa untuk mengahiri khutbah ini.

 

أَقُولُ قَوْ لِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاُه نَسْتَعِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. عِبَادَ الله، اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَقَرَابَتِهِ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّاتِهِ أَجْمَعِيْنَ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ.

 

Referensi
  • Nurcholish Madjid. Islam: Doktrin dan Peradaban. Sebuah Telaah Kritis tentang Masalah Keimanan, Kemanusiaan, dan Kemoderenan, Jakarta: Paramadina, 1992.
  • Muhammad al-Talbi. ‘Iyalullah: Afkar Jadidah fi  ‘Alaqah al-Muslim bi Nafsihi wa bi al-Akharin (Keluarga Allah: Gagasan Baru Hubungan antara Muslim dengan dirinya sendiri dan dengan orang lain). Tunisia: Dar Siras li al-nasyr, 1992.
  • Amin Abdullah. “Ketuhanan dan Kemanusiaan dalam Islam dan Kristen: Sebuah Pembacaan Alquran Pasca -Dokumen ACW”,Suhadi (Ed.), Costly Tolerance: Tantangan Baru Dialog Muslim-Kristen di Indonesia dan Belanda. Yogyakarta: CRCS Universitas Gadjah Mada, 2018, h.13-34.
  • Amin Abdullah. “Agama dan Pancasila dalam Identitas Keindonesiaan” dalam Muamaroh dan Benni Setiawan (eds.), Negara Pancasila: Darul ‘Ahdi Wasy-Syahadah.Perspektif Teologis& Ideologis, Yogyakarta: Majelis Pendidikan Kader PP. Muhammadiyah, 2017, h. 79-103.

editor: Yusuf R Y

Terkait

Tags: Indonesiakhutbah jumatpancasila
Previous Post

Bagaimana Menghayati Spiritual Islam ?

Next Post

Gerakan Tanwir, Mencerahkan Peradaban Manusia

RedaksiKS

RedaksiKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
Sejarah Perjumpaan Islam-Kristen: Titik Temu dan Titik Seteru

Gerakan Tanwir, Mencerahkan Peradaban Manusia

Comments 1

  1. mulia says:
    6 tahun ago

    izin share admin

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.