Akhir Partai Reformasi: PAN adalah Proyek Gagal

Meski lahir dari sidang tanwir Muhammadiyah di Jateng. Baiklah kita akui “bahwa PAN adalah proyek gagal”.

High-Politic yang pernah digagas para ulama dan cendekiawan Muhammadiyah gagal sudah. Terbukti PAN tak mampu mangakomodasi aspirasi politik, baik institusi maupun personal. PAN justru menjadi beban. Tidak efektif dan kurang greget. Lebih simpel PAN tak membawa apapun selain kepentingannya sendiri.

Daniel S Lev pernah memuji PAN sebagai partai reformasi yang punya masa depan gemilang, karena dihuni orang-orang Islam modernis yang religius. Paduan nasionalis, teknokrat dan orang-orang yang tercerahkan atau meminjam istilah Dr Ali Syariati ‘roushan fikr’.

PAN adalah harapan sekaligus model ideal partai reformis menuju Indonesia baru setelah puluhan tahun di bawah rezim represif orde baru. Pak Amien Rais adalah suara demokrasi yang menggembirakan, karena membawa banyak kabar baik. Ide segar dan demokrasi politik yang sehat. Tapi itu dulu, 20 tahun yang lalu.

***

PAN tumbuh di lingkungan yang salah. Realitasnya berbalik, demokrasi transaksional tak baik untuk kesehatan. PAN yang tumbuh kuat karena ditopang kekuatan ide dan gagasan rubuh oleh politik uang. Sistem “one man one vote” hanya cocok untuk investor dan kapitalis politik, bukan PAN.

Partai reformasi yang digadang menjadi pilar demokrasi pun tumbang, layu sebelum berkembang, bahkan belakangan identik dengan partai partisan. Perolehan suaranya terus melorot dan tak pernah menembus lima besar bahkan kerap terancam degradasi. Tak punya sikap dan inkonsisten.

Pak Amien pun hilang taji. Tuah sebagai bapak reformasi sebagai modal politik sudah melapuk dan dilupakan. Gerbong demokrasi terus berjalan, pemain baru hilang-pergi silih-berganti. PAN kian tertinggal, jatuh dan terpuruk. Seperti partai pada umumnya, tanpa ghirah, tanpa marwah, tanpa sokongan. Tak ada harapan selain beban masa lalu yang penuh harapan tapi gagal.

***

William Lidle dan Greg Barton seperti janjian. Ketika bicara tentang kegagalan orang-orang kampus yang masuk dunia politik. Banyak pelajaran di dapat. Dunia politik memang tak cocok untuk “orang-orang baik”.

Abu Musa al Asyari, Mr. Natsir, Mr. Kasman, adalah orang-orang baik yang dikalahkan, tapi PAN mungkin saja beda. Pak Amien saatnya “mendhito” menjadi guru politik dan rehat tidak ikutan berburu kekuasaan.

Dan memberi kesempatan pada anak-anak muda untuk meneruskan ide dan gagasanya yang belum ujud. Untuk semua itu, butuh kelapangan, hati bersih dan ketulusan, tapi sayangnya politik tak butuh itu.

Penulis merupakan Pegiat dalam Komunitas Padhang Makhsyar

What's your reaction?
0So Happy0Happy
Show CommentsClose Comments

Leave a comment