Melalui perjalanan panjang selama berabad-abad melintasi spektrum kebudayaan, umat manusia terus berupaya dan mencari jalan untuk mengembangkan sebuah teknologi yang efektif bagi kehidupan guna kesejahteraan dan kemakmuran individu dan komunitas. Tradisi-tradisi filsafat, spiritual dan agama-agama besar telah memberi kontribusi penting untuk kemajuan dan pencarian bersama ini. Lebih dari itu, ada suatu konvergensi yang sangat nyata dan bahkan konsensus yang signifikan di antara tradisi-tradisi itu
Namun demikian, evolusi kebudayaan sering kali menjelaskan secara nyata bahwa gerakan evolusioner yang telah diniatkan dan diupayakan sebaik mungkin itu mengalami distorsi. Pada faktanya relasi antarmanusia terus mengalami kehancuran dan kemunduran ketika perbedaan perspektif, pandangan dunia dan ideologi saling konfrontasi. Kehidupan kini menjadikannya semakin jelas bahwa kunci utama agar kita tetap survival pada saat ini dan esok tergantung pada cara kita belajar menanggulangi kekuatan-kekuatan dan ledakan-ledakan besar ketika berbagai pandangan dunia saling bertubrukan.
Sekarang menjadi nyata bahwa prioritas paling utama untuk menghadapi pluralitas dan multikulturalitas masyarakat yang semakin canggih adalah menemukan solusi praktis dan kreatif bagi problem fundamental relasi manusia yang lahir ketika berbagai pandangan dunia bertemu. Di sinilah tampaknya, signifikansi setiap agama untuk mengembangkan dan menguji kembali tradisi masing-masing dalam rangka merespons tantangan masa depan ini.
Islam Lahir untuk Pencerahan Kemanusiaan Universal
Islam sebagai agama dan kebudayaan besar sudah sejak awal memberi sumbangsih bagi penciptaan hidup bersama. Islam mengajak semua pengikut agama-agama pada satu cita-cita bersama kesatuan umat manusia (unity of human kind) tanpa membedakan ras, warna kulit, etnik, kebudayaan dan agama. Islam lahir untuk pencerahan kemanusiaan universal, rahmatan lil ‘alamin (Q.S. al-Anbiya’: 107). Karena faktor universalitas dari dimensi kerahmatan ini pula Islam mengajak semua manusia beragama untuk mencapai satu titik temu. Sebagaimana firman Allah: “Katakanlah: Wahai semua penganut agama (dan kebudayaan), bergegaslah menuju dialog dan perjumpaan multikultural (Kalimah Sawa’) antara kami dan kamu” (Q.S. Ali Imran: 64).
Dialog bukan semata percakapan bahkan juga pertemuan dua pikiran dan hati mengenai persoalan bersama, yang tujuannya agar setiap partisipan dapat belajar dari yang lain sehingga dapat berubah dan berkembang. “Berubah” artinya dialog yang terselenggara secara terbuka, jujur dan simpatik sehingga dapat membawa pada kesaling pengertian (mutual under-standing) melalui mana prasangka, stereotip, stigma dan celaan dapat dikurangi dan di eliminir.
Pada saat yang sama dialog memupuk rasa saling percaya (mutual trust) dan penghargaan atas perbedaan, keunikan dan mungkin persamaan antara agama-agama dan kebudayaan. Dikatakan “tumbuh” karena dialog mengantarkan setiap partisipan memperoleh informasi, klarifikasi dan semacamnya dari sumber primer dan dapat mendiskusikannya secara terbuka dan tulus. Dialog merupakan pangkal pencerahan nurani dan akal pikiran (tanwir al-qulub wa al-`uqul) menuju kematangan cara beragama yang menghargai “kelainan” (the otherness).
Dengan demikian, Kalimah Sawa’ adalah menyangkut cara manusia melakukan perjumpaan dengan dan memahami diri sendiri dan dunia lain pada tingkat terdalam, membuka kemungkinan-kemungkinan untuk menggali dan menggapai selaksa makna fundamental kehidupan secara individual dan kolektif dengan berbagai dimensinya.
Dialog Adalah Jiwa Universal Melampaui Pertempuran Agama
Pluralitas dan multikulturalitas untuk dialog, bukan pertentangan, adalah teknologi masa depan yang muncul dari pandangan rasional otentik berbasis wahyu progresif (progressive revelation) yang merupakan dasar bagi semua pengalaman keragaman kultural. Dialog membawa pada pan-dangan dunia keagamaan dan kultural yang tidak parsial atau ideologi sipil yang tidak diskriminatif.
Sekali lagi, dialog adalah jiwa universal yang melampaui pertempuran agama-agama, konfrontasi pandangan ilmiah dengan kehidupan agama dan spiritual, alienasi dunia etnik yang destruktif, fragmentasi dan disintegrasi kehidupan batin individu, frustrasi kebudayaan-kebudayaan sekuler dalam upaya membuka ruang dan waktu publik di mana pluralitas pandangan dunia, perspektif dan ideologi dapat maju bersama-sama dengan spirit perdamaian, rekonsiliasi (sulh), pengampunan (‘afw) dan nir-kekerasan yang berkeadaban.
Secara eksperimental, Kalimah Sawa’ juga tampil ke permukaan dan menjangkau perjumpaan antardunia multikultural yang bergitu luas. Ketika manusia hidup melalui perjumpaan agama-agama, seolah kita mendapatkan pengalaman antar kultural. Seperti kita berjuang dengan pola-pola sejarah pertentangan berbagai pandangan dunia. Atau, kita melibatkan secara kreatif kekuatan-kekuatan besar dalam kehidupan sipil di mana pertempuran ideologi dan kehidupan terjadi. Pengalaman multikultural ini membuat kita mampu bangkit dan sadar dengan perspektif baru yang lebih memadai dan matang.
Jadi, Kalimah Sawa’ bukan hanya mengakui pluralitas kehidupan. Ia adalah sebentuk manifesto dan gerakan yang mendorong kemajemukan (plurality) dan keragaman (diversity) sebagai prinsip inti kehidupan dan mengukuhkan pandangan bahwa semua kelompok multikultural diperlakukan setara (equal) dan sama bermartabatnya (dignity).
demikian intensif merupakan suatu keharusan dan kebutuhan yang tak terelakkan. Penemuan ini adalah dasar dan sumber utama di luar perbedaan dan keragaman (diversity) pandangan dunia dan perspektif. Dengan memperoleh akses pada sumber bagi seluruh kehidupan kultural dan mengalaminya, menjadi sangat jelas bahwa umat manusia sedang berada di tengah-tengah transformasi diri yang mendalam dan kematangan kemanusiaan.
Spirit Kalimah Sawa’ Memperoleh Momentumnya Kembali
Kunci keberhasilan untuk memahami dan implementasi dalam proses ini pada akhirnya bersandar pada kehendak untuk membuka diri sendiri pada perjumpaan antar dunia yang otentik, bersandar pada kehendak untuk muncul secara kritis dan objektif dari kebiasaan-kebiasaan interpretasi yang plural dan menciptakan dunia sesuai dengan transformasi yang dicita-citakan.
Inilah hakikat perjumpaan multikultural yang melampaui batas-batas dunia kita sendiri dengan tujuan agar kita menjadi lebih mendalam bersentuhan dengan landasan-landasan utama yang menjadi sumber dunia kita dan dunia orang lain. Perjumpaan semacam ini dirancang untuk mengkonstruk masa depan agama-agama, kebudayaan-kebudayaan dan peradaban yang lebih manusiawi.
Semakin disadari pula bahwa umat manusia dalam semua kebudayaan dan dunia memainkan peran langsung dalam membentuk pengalaman dan realitas kehidupan. Satu pelajaran berharga dari evolusi kebudayaan adalah bahwa realitas multikultural secara langsung dipengaruhi oleh pola pikir manusia sendiri. Refleksi tak ternilai dari sejarah masa lalu dan kini adalah bahwa bangsa besar yang kedodoran di hamparan kepulauan Nusantara ini telah terkunci dalam pola pikir egosentris, pola pikir monolog yang membuat kita menderita dan mengalami kegagalan terbesar dalam mengelola pluralitas dan multikulturalitas. Kita merasakan betapa pedihnya kekerasan dan kehancuran relasi antar sesama atas nama etnik, budaya, politik, ideologi dan bahkan agama.
Dalam konteks ini, spirit Kalimah Sawa’ memperoleh momentumnya kembali. Tentu saja, melalui kecanggihan hermeneutik yang produktif untuk menghadirkan kedalaman makna yang menggairahkan dan mecerahkan kehidupan bersama. Kalimah Sawa’ perlu ditumbuhkan kembali sebagai wahana transformasi diri dan membangkitkan pola pikir dan pola hidup dialogis agar lebih dapat meraih kesejahteraan dan kedamaian dalam kehidupan personal dan komunal. Demi masa depan yang gemilang, seluruh kemajuan agama, spiritual, rasional, moral dan politik dalam evolusi kebudayaan harus dikonstruk dalam kematangan dialog dan perjumpaan multikultural secara kreatif (creative dialogue and multicultural encounters).
Editor : Irawan
*) Artikel pernah diterbitkan di Buletin Kalimatun Sawa’ dengan penyuntingan seperlunya
Kelainan sy kurang sepakat, mungkin bisa keberlainan, karena kelaianan itu kurang sehat secara psikologis.