Eh, kalian tahu kan kalau warga Indonesia dinilai paling ramah ke-6 loh di dunia! Tahu nggak tentang fakta itu? Aku bahkan baru tahu beberapa saat yang lalu. Kok bisa sih? Warga Indonesia bisa dianggap paling ramah sebagai negara turis, karena sadar atau nggak sadar, kita sering terkagum-kagum sama bule yang tiba-tiba lewat di depan kita yang baru makan bakso gerobakan.
Bule-nya hanya jalan di depan kita, kita aja bisa terkagum, apa lagi saat bule-nya bertanya arah jalan. Langsung tersepona, eh terpesona. Karena sifat bawaan kita yang sangat mengagumi bule-bule itu, kita jadi ramah bahkan sampai gugup seperti demam panggung saat bertemu turis dari negara asing. Kita otomatis langsung bersikap baik, atau hormat, dan semacamnya.
Ya, itu contoh yang bisa diambil atau diingat dari masa lalu. Terus, masa sekarangnya gimana? Masa sekarang dan masa lalu beda. Iya lah, ‘’sekarang’’ dan ‘’lalu’’ aja adalah kata yang berbeda, maknanya juga pasti berbeda. Apalagi kalau diingat-ingat, masa sekarang adalah masa pandemi. Sayangnya, kejadian di masa lalu akan sulit terulangi di masa sekarang. Iya nggak? Baru-baru ini, banyak banget berita yang menyebutkan, ‘’Netizen Indonesia, Netizen Paling Tidak Sopan Se-Asia Tenggara.’’
Parah ya? Kenapa bisa begitu? Ya, menurut berita sih ada tiga penyebabnya. Yaitu ketidak pastian, kesulitan ekonomi, dan respon frustasi. Mungkin itu benar, Cuma untukku sih lumayan susah untuk dipahami dan sulit untuk dicocokkan dengan masalah yang kita hadapi di depan mata, apa lagi untuk kami para remaja. Kalau menurutmu, apa penyebab netizen Indonesia dinobatkan menjadi netizen yang paling tidak sopan se-Asia Tenggara? Menurutku adalah, karena anggapan kita sekarang mengenai internet atau sosial media sudah berbeda dari anggapan kita yang dahulu.
Dulu, jika kita berniat menyerang seseorang di media sosial, pasti sudah banyak kemungkinan negatif yang muncul di benak kita, sesaat sebelum penyerangan terjadi. Seperti, ‘’Nanti kalau orang yang aku serang tiba-tiba muncul di depan rumahku, bagaimana?’’ atau, ‘’Nanti kalau aku tiba-tiba dipalak atau dimusuhi sama mereka bagaimana?’’ dan anggapan-anggapan halu lainnya, yang sebenarnya tidak akan terjadi, tetapi anggapan halu tersebut berhasil menghentikan kita untuk menyerang.
Kalau dipikir-pikir, bermain media sosial itu ribetnya minta ampun. Kita nggak bisa mengira-ngira intonasi nada seseorang saat berpesan singkat bersama kita, kita nggak bisa membayangkan ekspresi seseorang saat sedang berpesan singkat kepada kita, dan masih banyak lagi. Terjadi banyak kesalah-pahaman di media sosial, kalau lingkupnya masih kecil, itu tidak apa-apa, masih bisa diperbaiki. Nah, kalau lingkup kesalah-pahamannya sudah sebanyak semut yang mengerubungi Permen Yupi, mau bagaimana?
Memberi klarifikasi itu nggak semudah yang dibayangkan, pro dan kontra pasti selalu ada, dan nggak semua orang bisa menanganinya dengan baik. Balik lagi, netizen-netizen Indonesia yang tidak sopan mulai lalai dan meremehkan tentang aturan-aturan masyarakat yang sebenarnya sudah melekat, hanya saja netizen julid maupun netizen yang nggak julid terkadang sudah nyaman bersembunyi di balik alasan-alasan yang, nggak masuk akal sebenarnya.
Mungkin ada yang berpikir, ‘’Halah, hanya media sosial. Hari pandemi gini mana ada yang bakal ngeroyok rumahku?’’ atau, ‘’Gitu doang kok! Aku aja cuma mengingatkan dia supaya nggak pamer duit, masa aku salah?’’ Mereka mungkin nggak ngebayangin aja, saat mereka mengunggah komentar-komentar itu di media sosial, harusnya mereka juga ngebayangin, saat mereka ngomong kalimat itu di kehidupan nyata ke seseorang. Baik di media sosial atau di kehidupan nyata.
Kita nggak bakal tahu kalimat yang kita keluarin itu berdampak baik atau buruk ke orang-orang di luar sana. Kalau di kehidupan nyata, mungkin akan lebih mudah ya mengatasi kesalahan kalimat atau komentar yang menyakiti orang lain. Lah, kalau di media sosial? Sekali memposting, telanjur dilihat orang banyak, kata-katanya melekat di hati orang banyak, cie kejebak, nggak bisa diapa-apain selain menghapus komentarnya dan menahan rasa malu.
Persebaran berita itu sekarang cepat banget, hanya saja kita mungkin nggak pernah perhatiin dengan seksama. Ya karena itu, sudah telanjur nyaman duduk dan berlindung di bawah media sosial, padahal sekarang media sosial lebih kejam daripada kehidupan nyata. Netizen Indonesia jarang memperhitungkan dan mempertimbangkan baik-baik pertanyaan ini, ‘’Apa yang akan terjadi ya kalau misalnya aku berkata seperti ini?’’
Nah, dari situlah, mulai hilang rasa takut dan pertimbangan dalam berkomentar, bar-barnya mulai kelewat bar-bar. Eh, paham kan maksudku? Jadi mereka saking nggak takutnya, sampai Microsoft pun dilawan! Haduh, rasanya pingin ketawa miris dengarnya. Secara otomatis, kita kehilangan salah satu sifat atau nama panggilan yang melekat dengan Negara Indonesia, iya, hanya karena komentar-komentar atau perlakuan kasar yang ada di media sosial.
Bayangkan, hanya di media sosial loh, bisa berdampak sebesar ini. Bayangin lagi, coba kamu tiba-tiba punya nama panggilan, ‘’Si Paling Tidak Sopan.’’ Apa nggak ngeri kalau misalnya nama asli kamu berubah menjadi seperti itu? Jadi, yuk ubah kebiasaan, dari diri sendiri dulu, baru ditularkan ke orang lain.
Saring dulu kata-kata yang ingin diunggah, apakah ini bermanfaat baik atau tidak, apakah ini penting atau tidak, apakah ini berdampak baik atau tidak. Pikirkan segala kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, supaya kita semakin berhati-hati dalam berkata. Tidak hanya dalam media sosial, namun kebiasaan itu akan masuk ke dalam kehidupan kita sehari-hari kalau kita benar-benar menerapkannya. Mari kita benahi bersama, nama Indonesia ini.
Editor: Yusuf