Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Sunni Syiah adalah Konflik Politik, Bukan Agama

Nurbani Yusuf by Nurbani Yusuf
Februari 24, 2021
in Kata Bersama
0
Nurbani Yusuf sunni syiah
27
SHARES
158
VIEWS

Sunni dan Syiah adalah produk konflik politik masa lampau yang diagamakan. Dirawat dan dilembagakan bahkan dibukukan dalam bentuk paling rigid ke dalam urusan aqidah, fiqh, dan muamalah. Konflik politik pun berubah menjadi perang antar iman.

Jika dibiarkan berlarut tidak menutup peluang, konflik pasca Pilpres 2019 akan masuk pada wilayah paling sensitif: Aqidah. Yang kalah dan yang menang terus berebut benar. Ungkapan Rezim Zalim, Rezim Kafir, Rezim Munafiq, hizbu-Allah (partai Allah) dan hizbus-syaithan (partai setan), perang badar, kadrun, dan cebong terus dituduhkan kepada lawan politik.

TulisanTerkait

Urgensi Identitas Nasional Menjelang Tahun Politik 2024

Pemindahan IKN Indonesia Perspektif Keadilan Sosial

Nilai Gotong Royong dalam Budaya Santri

Istilah-istilah teknis agama masuk pada wilayah politik praktis. Jadilah konflik politik seakan perang antar iman. Konflik Sunni Syiah sungguh mengerikan.

Sejarah konflik rebutan khilafah masa sahabat juga hampir mirip. Masing-masing pengikut terus mencari pembenar, bahawa hanya kekompoknya saja yang benar yang lain salah. Kemudian membawanya pada wilayah teologis dan agama. Dijadikan bahan bakar untuk membangun ghirah dan militansi. Semua membangun fanatisme atas nama iman untuk berebut kekuasaan. Umat menjadi kurban.

Di setiap etape, di setiap masa, selalu saja ada orang macam Yahya Waloni, dan Yusuf Roni, si mualaf dan si murtad, keduanya sama. Sama-sama menjadi penceramah pada agama yang baru dipeluknya. Sama-sama menjelekkan agama sebelumnya. Si mualaf Yahya Maloni disetiap mimbarnya selalu menjelekkan Kristen. Pun dengan Yusuf Roni yang disetiap ceramahnya selalu menjelekkan agama Islam. Ahama yang dulu pernah dipeluknya.

Dua orang tersebut tak patut dipujikan apalagi diikuti. Dia akan memuji-muji di saat senang dan menguntungkan, kemudian pergi sambil mencaci-maki setelah keinginan tidak lagi di dapatkan.

Islam dan Kristen tak butuh orang macam itu. Islam dan Kresten tidak akan menjadi besar dengan kedatangannya dan tidak akan menjadi susut dengan perginya. Kecuali kebencian, konflik dan permusuhan yang ditebar untuk mendapatkan aplaus atau riuh dari penonton yang tak sepenuhnya mengerti.

Kenapa begitu? Ini tak lebih hanya soal karakter. Suka menjelekkan dan menggunjing pihak yang tak disukainya. Apa yang “tak disukainya” pun kadang karena faktor sosial-politik-ekonomi saja. Bukan karena faktor munculnya getaran hati nurani. Ini bukan soal ‘hidayah’ yang ia dapatkan. Tapi soal status dan pendapatan. Semacam pengakuan bahwa dirinya ada dan dibutuhkan.

Migrasi agamanya seperti migrasi politik bukan karena hidayah. Ia tidak mendapati manisnya hidayah kecuali kebencian dan permusuhan yang terus berkecamuk dalam hatinya.

Tapi, ada seorang tokoh yang pindah agama dan tetap baik pada agama sebelumnya, Kristen. Ia mualaf tanpa pretensi membenci atau menjelekkan agama masa lalunya. Bahkan ia akrab dan menjalin hubungan baik dengan tokoh agama Kristen.

Cendekiawan masyhur, Dr Arief Budiman, almarhum. Ia akrab dengan Gus Dur. Ia juga akrab dengan Romo Mangun, Aristides Katopo, dan lain-lain yang beragama Kristen atau Katolik. Arief Budiman menjalani masa mualafnya dengan hening, pertobatan dan perenungan spiritual, semoga Dr Arief Budiman mendapatkan manisnya iman. Wallahu Ta’ala a’lam.

Editor: Yusuf

Terkait

Tags: Politiksunnisyiah
Previous Post

Sebuah Jalan Menuju Perdamaian

Next Post

Persimpangan Tafsir NU dan Muhammadiyah

Nurbani Yusuf

Nurbani Yusuf

Komunitas Padhang Makhsyar

Next Post
NU dan Muhammadiyah

Persimpangan Tafsir NU dan Muhammadiyah

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.