Sering terjadi gesekan di tongkrongan akan hal-hal kecil wa bil khusus, perbedaan dalam beragama. Gesekan tersebut juga muncul dari perbedaan pola pikir setiap orang. Mengapa setiap orang memiliki pola pikir yang berbeda? Secara singkat setiap orang memiliki penguasaan ilmu yang berbeda.
Ilmu bukan sekadar pengetahuan. Ilmu dalam KBBI memiliki makna pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu. Kata ilmu dalam bahasa Arab “ilm” berarti memahami, mengerti, atau mengetahui.
Dalam kaitan penyerapan katanya, ilmu pengetahuan dapat berarti memahami suatu pengetahuan, dan ilmu sosial dapat berarti mengetahui masalah-masalah sosial, dan sebagainya. Ilmu terbentuk karena manusia berusaha berpikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang dimilikinya.
Untuk menyikapi gesekan dalam beragama yang ada memang membutuhkan dedikasi dan kesabaran lebih. Karena ini merupakan permasalahan kolektif dan kompleks. Perkara ini harus dibenahi dalam berbagai aspek. Namun, menurut penulis kendala paling urgensi adalah memoderasi cara beragama terutama perkara muamalah (hubungan dengan sesama manusia). Dari sekian banyak gesekan, menurut penulis yang paling fatal adalah kerancuan berpikir seperti penyederhanaan secara berlebihan atau over simplification yang sering terjadi dalam khazanah agama.
Sebagai contoh, sebagian umat Islam gampang sekali menilai seseorang tanpa mengenalinya terlebih dahulu. Seperti wanita bercadar diasosiasikan dengan terorisme, pria berjenggot tebal dianggap radikalisme, dan mengkritik pemerintah untuk lebih berbenah dianggap anti-Pancasila. Sebaliknya, tidak dapat dipungkiri bahwa terdapat sebagian lain yang mudah mengkafirkan, menganggap semua yang berbeda dalam pemahaman agama itu salah, sampai menghakimi orang-orang yang memiliki perbedaan pilihan politik. Kedua kutub ini perlu dipertemukan dengan semangat moderasi.
Pentingnya Moderasi dalam Beragama
Untuk mengurangi gesekan dan agar terjadinya keharmonisan diperlukan pemahaman lebih mendalam mengenai sikap moderat dalam beragama. Moderat adalah sebuah kata sifat, turunan dari kata moderasi, yang berarti tidak berlebih-lebihan atau sedang dengan kata lain pertengahan. Kata moderasi sendiri berasal dari bahasa Latin moderâtio, yang berarti ke-sedang-an, tidak kelebihan, dan tidak kekurangan, alias seimbang.
Ketika kata moderasi disandingkan dengan kata beragama, menjadi moderasi beragama, istilah tersebut berarti merujuk pada sikap mengurangi kekerasan, atau menghindari keekstreman dalam pola pikir dan tingkah laku. Jadi yang dimoderasi di sini adalah cara beragama, bukan agama itu sendiri. Jika pemahaman dan penafsiran yang muncul tidak sesuai dengan nilai-nilai agama tentu akan terjebak pada pemahaman yang berimplikasi pada tindakan yang berlebih-lebihan. Inilah yang kemudian dinamakan sebagai beragama yang ekstrem.
Keragaman di bidang apapun memang pasti menimbulkan adanya perbedaan, terlebih lagi jika terkait dengan agama. Harus diakui bahwa perbedaan itu (apalagi yang tajam dan ekstrem) di mana pun selalu memunculkan potensi konflik. Kalau tidak dikelola dengan baik, potensi konflik seperti ini bisa melahirkan sikap ekstrem atau berlebihan dalam membela tafsir klaim kebenaran versi masing-masing kelompok yang berbeda.
Itulah mengapa moderasi beragama penting hadir di Indonesia. Ia bisa menjadi solusi untuk membentuk kerukunan, harmoni sosial, sekaligus menjaga kebebasan dalam melaksanakan kehidupan beragama, menghargai keragaman tafsir dan perbedaan pandangan, serta tidak terjebak pada ekstremisme, intoleransi, dan kekerasan atas nama agama.
Ada banyak sekali hal beragama yang perlu dimoderasi. Dimulai dari hal-hal kecil dulu, seperti menyebarluaskan pemahaman tentang moderasi beragama dan mengubah pola pikir masyarakat agar lebih terbuka. Hal paling mendasar kenapa banyak sekali umat islam tidak bisa calm down terhadap perbedaan dalam hal furu’iyah (tafsir Al-Quran dan Hadits) merupakan tentang kurangnya pemahaman bersikap pertengahan dan kurangnya informasi atau pengetahuan. Gesekan terjadi karena orang-orang ilmunya hanya sebatas mengetahui tapi belum paham secara maksimal sehingga ketika ada perselisihan yang ringan jadi besar.
Dengan adanya ilmu menjadikan dan membentuk karakter pribadi masing masing, akhlak tepatnya. Kalau ada individu yang menerima perbedaan menandakan akhlak bagus, bukan hanya berilmu. Memang tidak semua pendapat kita baik buat orang lain mungkin pendapat orang lain yang lebih baik. Artinya saling ikhlas ketika pendapat nya tidak dijadikan landasan. Pengakhir kata dari penulis, perbedaan itu fitrah. Dan karena dari perbedaan itu juga dapat menyeleksi mana yang haq dan mana yang bathil. Dengan adanya ilmu menjadikan dan membentuk kita lebih berkarakter.
Di Persimpangan Tafsir Perbedaan NU dan Muhammadiyah
Di balik impian-impian besar menuju Islam yang damai, terdapat banyak sekali perdebatan berulang yang sesungguh bisa kita surutkan dengan mengubah cara pandang kita sebagai bagian dari warga Muhammadiyah. Dalam konteks ini, penulis mengambil contoh pada pergulatan sengit perihal NU dan Muhammadiyah.
Perbincangan renyah tentang masalah-masalah furu’iyah seringkali membuat kita terlena untuk melihat dengan kacamata yang lebih santai. Hubungan NU dan Muhammadiyah selayaknya hubungan kakak-adik yang perlu dilanjutkan untuk saling mewarnai tanpa perlu saling menodai. Namun, justru hingga saat ini banyak masyarakat yang masih menjadi korban yang masih terjebak atas persoalan yang diperumit dan diperuncing oleh pemikiran sempit ini.
Maka, akan menjadi hal yang seru dan indah bila kita melihat hubungan dan keterkaitan ini dengan mimpi bersama menuju keridhaan Allah. NU dan Muhammadiyah tidak perlu mencari pembenaran atas perbedaan yang sudah nampak jelas sedari awal untuk berkompetisi. Kita semua masih bisa untuk saling bertemu di persimpangan, seperti apa yang dilukiskan dalam QS. As-Shaf ayat 1-4 mengenai barisan yang teratur. Sesuatu yang perlu kita pelihara dan dijaga nafasnya sampai nanti.
*)Penulis: Peserta Pelatihan Kader Taruna Melati 3 PW IPM DIY, terdiri atas Ulima Nabila Adinta, Ilham Widya Pasya, Rizky Maulana Ichsan, Bambang Arief Wijayanto, Faiyana Nurul, dan Muazanah Zahra
Editor: Yusuf