Kata siapa galau itu tidak dirasakan oleh nabi. Justru kegalauan itu sangat identik dengan kenabian. Kata siapa kalau nabi tidak pernah mengalami kegalauan? Justru nabi itu sering mengalami kegalauan dengan penderitaan umatnya atau ditinggal oleh orang-orang tercinta.
Bahkan galaunya nabi pernah menjadi nama tahun ketika itu, atau sering disebut sebagai Tahun kesedihan atau amul husni. Yaitu sedihnya nabi ketika ditinggal oleh pamannya Abu Thalib dan dalam waktu bersamaan ditinggal oleh istrinya Khadijah.
Nabi mengalami kesedihan teramat dalam. Namun yang paling penting dari peristiwa itu adalah bagaimana cara nabi mengatasi kegalauan? Karena ternyata benar orang yang dilanda kegalauan itu tidak mudah menerimanya. Hati sakit membuat pikiran tidak tenang, tidur tidak nyenyak, makan tak enak dan badan kadang menjadi lemah.
Apalah lagi terkadang hidup seakan terasa mati. Nabipun merasakan rasa sedih itu, sering melamun sendiri, tidak enak makan, tidur tidak nyenyak, dan sedih yang berkepanjangan. Satu gejala umum ketika orang dilanda kegalauan.
Namun inilah yang perlu kita teladani, yakni bagaimana resep kenabian dalam mengatasi kesedihan itu. Jadi ketika nabi sedang dilanda kesedihan seakan ada tiga cara Allah sedang mengobati kesedihan nabi. Pertama diturunkannya surat Yusuf satu surat penuh. Kedua diisrakan dari masjidil haram ke masjidil aqsa. Ketiga adalah dimi’rajkan dari masjidil aqsa menuju sidratul muntaha. Di mana ketika diangkat menuju hadapan Allah mendapatkan perintah untuk melaksanakan shalat.
Tiga Tahap Mengatasi Kegalauan
Seakan ada tiga cara dan tiga tahap untuk mengatasi kesedihan itu. Diturunkannya surat Yusuf satu surat penuh, mengisyaratkan bahwa kita disuruh untuk belajar dari kisah-kisah sedih orang lain. Ternyata dengan belajar dari kesedihan orang lain membuat kita lebih bisa menerima kesedihan kita. Atau isyarat kedua ketika kita sedang sedih maka kita disuruh untuk membaca Al-Quran. Bacalah ayat-ayat Allah dengan kekhusyuaan, maka sedihpun akan hilang.
Kemudian yang kedua adalah diisrakan artinya melakukan perjalanan, piknik, bepergian atau tadabbur alam. Setidaknya dengan melihat kebesaran Allah Swt berupa alam semesta maka akan membuat hati yang sempit itu akan menjadi lapang. Pikiran yang kacau itu karena sedih menjadi tenang.
Dengan melakukan perjalanan maka manusia akan melihat bahwa hidup tidak hanya apa yang kita rasakan, tapi bisa merasakan penderitaan orang lain. Dengan demikian kita akan mudah bersyukur meskipun dalam kesedihan sekalipun.
Baca Juga: Dialog Sunyi di Atas Sajadah
Ketiga adalah dimirajkan, nabi dipanggil oleh Allah menghadap ke hadapannya secara langsung di sidratul muntaha. Tapi karena kita tidak bisa menghadap langsung kepada Allah maka kita bisa menghadap Allah dengan melakukan shalat. Cara terakhir ketika kita sedang sedih di mana kita sudah membaca Quran, bercerita atau mendengar cerita yang lebih sedih dari orang lain, kemudian melakukan perjalanan, maka yang terakhir adalah melaksanakan shalat.
Itulah tiga resep kanabian untuk mengatasi kegalauan. Di mana penyakit kagalaun itu sering melanda masyarakat kita hari ini. Mulai dari yang muda hingga yang tua. Anak-anak hingga dewasa. Yang kecil hingga yang besar. Seakan identitas masyarakat kontemporer hari ini adalah masyarakat galau. Galau karena urusan sekolah, kuliah, hidup, rumah tangga, pekerjaan dan lain sebagainya.