Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Kemuliaan Seorang Habib, Perspektif Teologis & Kultural

Nurbani Yusuf by Nurbani Yusuf
November 14, 2020
in Esai
0
Nurbani Yusuf
63
SHARES
373
VIEWS

Keluarga Nabi saw disebut ahlu bait. Terdiri dari istri, anak dan kerabat dekat lainnya yang diikat oleh taqwa dan amal saleh. Habib adalah istilah baru yang tidak bersumber dari sunah sahihah, merupakan kultur atau tradisi orang Yaman menyebut keturunan Rasulullah dari trah Husein ra. Sedangkan trah Hasan ra disebut Syarif atau Hasaniyah.

Ahlu-bait disebut dalam berbagai sandaran syar’i dan sunah sahihah. Diantaranya adalah sabda nabi saw : “Dan keluargaku, aku mengingatkan kalian kepada Allah tentang ahlu baiti (keluargaku), aku mengingatkan kalian kepada Allah tentang ahlu baiti (keluargaku), aku mengingatkan kalian kepada Allah tentang ahlu baiti (keluargaku).” (HR Muslim no 2408)

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Abu Bakar ra berkata : “Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh kerabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih aku sukai untuk aku sambung (silaturahmi) daripada kerabatku sendiri.” (HR Al-Bukhari no 3711)

“Sesungguhnya orang-orang yang paling dekat dengan aku adalah orang-orang yang bertakwa, siapa saja mereka dan di mana saja mereka.” (*HR Ahmad no 22052)

“Sesungguhnya Ahlul Bait memandang bahwasanya mereka adalah orang yang paling dekat denganku, padahal masalahnya tidak demikian. Sesungguhnya para wali-waliku dari kalian adalah orang-orang yang bertakwa, siapapun mereka dan di manapun mereka.” (HR At-Thobroni 20/120)

Habib Adalah Tradisi Yaman

Istilah habib adalah istilah baru, sebutan untuk keluarga Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah ahlul bait yakni istri, anak, dan kerabat beliau.

Di kisahkan, seseorang di Baghdad (tidak tau dia sunni atau syiah) yang mengaku ahlul bait, mengungsi ke Hadrahmaut, Yaman. Lalu keturunannya membuat aturan-aturan dalam keluarga dengan sebutan habib dan habibah karena klaim sebagai keluarga Nabi dari trah Husain ra.

Mereka juga menyebut syarif atau hasaniyah, atau syarifah bagi keturunan Hasan ra. Kemudian keturunan mereka menyebar di beberapa negara, dan saling berkomunikasi dengan menyebut habib.

Rasulullah saw berdiri ketika turun ayat, ”Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (QS. Asy Syu’ara: 214). Lalu beliau berkata, “Wahai orang Quraisy -atau kalimat semacam itu-, selamatkanlah diri kalian sesungguhnya aku tidak dapat menolong kalian sedikit pun dari Allah. Wahai Bani ‘Abdi Manaf, sesungguhnya aku tidak dapat menolong kalian sedikit pun dari Allah. Wahai ‘Abbas bin ‘Abdul Muthollib, sesungguhnya aku tidak dapat menolongmu sedikit pun dari Allah. Wahai Shofiyah bibi Rasulullah, sesungguhnya aku tidak dapat menolongmu sedikit pun dari Allah. Wahai Fatimah puteri Muhammad, mintalah padaku apa yang engkau mau dari hartaku, sesungguhnya aku tidak dapat menolongmu sedikit pun dari Allah.” (HR. Bukhari no. 2753 dan Muslim no. 206).

Dan maknanya adalah: yang menjadi waliku hanyalah orang yang saleh meskipun nasabnya jauh dariku, dan tidaklah termasuk waliku orang yang tidak saleh meskipun nasabnya dekat” (Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim 3/87)

Meski keturunan manusia paling agung, ahlu bait (menurut sunah) atau habib (dalam tradisi Yaman) adalah manusia biasa. Bukan manusia suci yang tidak bisa salah. Sebab yang suci dan terjaga dari salah (ma’shum) hanyalah baginda Nabi saw bukan keluarga atau keturunannya. Wallahu Taala a’lam.

Editor: Yusuf

Terkait

Tags: ahlul baithabibnabi
Previous Post

Sah-kah Shalat Berjamaah Pada Masjid Bertingkat?

Next Post

Seruan Muhammad SAW untuk Menyempurnakan Akhlaq, Bukan Me-Revolusi Akhlaq

Nurbani Yusuf

Nurbani Yusuf

Komunitas Padhang Makhsyar

Next Post
Pada tanggal 9 April 2020, Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah bersama Jaringan Intelektual Berkemajuan mengadakan diskusi daring dengan tema Nasib Islam Moderat Pasca Reformasi. Yang menjadi pembicara dalam diskusi tersebut adalah Ahmad Fuad Fanani dan Andar Nubowo. Menurut Andar, Islam moderat diambil dari Islam washatiyah, merujuk pada surat Al-Baqoroh ayat 143 yang berbunyi wa kadzalika ja’alnakum ummatan wasathan litakuunu syuhadaa ‘ala an-naas wa yakuuna ar-rasuulu ‘alaikum syahiida… (dan demikianlah kami jadikan kalian sebagai umat pertengahan, agar menjadi saksi bagi semua manusia, dan Rasul menjadi saksi atas kalian semua).

Seruan Muhammad SAW untuk Menyempurnakan Akhlaq, Bukan Me-Revolusi Akhlaq

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.