Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Bersikap Adil terhadap Syiah

Robby Karman by Robby Karman
Agustus 27, 2020
in Esai
0
khilafah syiah
102
SHARES
599
VIEWS

Judul “Adil Terhadap Syiah” saya ambil dari sebuah buku yang berjudul Bersikap Adil Terhadap Wahabi karangan A.M. Waskito. Buku tersebut berisi bantahan terhadap buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi yang ditulis oleh Syaikh Idahram. Idahram sendiri merupakan anagram dari nama penulis aslinya yakni Marhadi Muhayyar. Seperti judulnya, buku itu mencoba menyanggah argumen-argumen yang disodorkah Idahram, lalu mengajak kita memandang wahabi secara adil.

Adil artinya proporsional, jika kita tidak sepakat dengan pemikirannya, kita tetap tidak perlu membencinya secara berlebihan. Adil juga artinya mau memandang dari semua sisi baik positif maupun negatif. Dalam dunia jurnalistik dikenal dengan istilah cover both sides.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Adil juga artinya tidak hanya ingin pendapat kita didengar, namun juga mau mendengar pendapat orang lain. Pramoedya Ananta Toer dalam novel Bumi Manusia mengatakan seorang terpelajar itu mesti berlaku adil sejak dalam pikiran.

Jika A.M. Waskito menyerukan agar kita bersikap adil terhadap wahabi, lantas bisakah kita bersikap adil terhadap Syiah? Tentu saja jawabannya bisa. Hal ini telah dicontohkan oleh Habib Rizieq Shihab yang posternya beredar di mana-mana menjelang hari kemerdekaan Indonesia.

Menurut Habib Rizieq, aliran syiah secara umum terbagi menjadi 3: Syiah Ghulat, Syiah Rafidhah dan Syiah Mu’tadilah. Syiah ghulat sesat karena menuhankan Ali. Begitupun Syiah Rafidhah yang mengkafirkan dan mencaci maki sahabat juga sesat.

Adapun kelompok Syiah Mu’tadilah adalah Syiah yang tidak menuhankan Ali dan juga secara zahir menghormati para sahabat, adapun batinnya hanya Allah yang Tahu. Mereka hanya mengutamakan Ali dibanding sahabat lainnya dan tak segan mengkritik sahabat lainnya secara elegan dan ilmiah. Mereka mengutamakan mengambil riwayat dari Ahlul Bait.

Syiah golongan inilah yang disebut oleh Prof. Dr. Muhammad Said Al-Buthi, Prof. Dr. Yusuf Qaradhawi, Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili, Mufti Mesir Syekh Ali Jum’ah dan lainnya, sebagai salah satu mazhab Islam yang diakui dan mesti dihormati. Syiah golongan ketiga ini mesti dihadapi dengan dakwah dan dialog bukan dimusuhi.

Pembagian Syiah menjadi tiga oleh Habib Rizieq Shihab Imam Besar FPI ini menarik untuk dicermati, mengingat fenomena di kalangan umat Islam hari ini adalah gebyah uyah bahwa Syiah bukan Islam. Slogan Syiah bukan Islam ini merupakan bentuk takfir secara tidak langsung, sehingga mengatakannya harus hati-hati.

Muhammadiyah pun sangat berhati-hati untuk mengatakan syiah sesat, Muhammadiyah lebih memilih diksi menyimpang dibandingkan sesat. Jika mengatakan sesat saja berhati-hati, apalagi mengatakan Syiah bukan Islam.

Pemahaman Syiah bukan Islam ini bisa memicu aksi kekerasan yang tidak dapat dibenarkan baik secara hukum agama maupun hukum negara. Salah satunya yang terjadi di Kota Solo, yakni upaya intimidasi dan persekusi terhadap kegiatan pengajian Midodareni Habib Umar As Segaf.

Persekusi ini menyebabkan Habib Umar dan Kapolresta Surakarta terkena pukulan. Setelahnya para pelaku ditangkapi satu demi satu, dan polisi melakukan razia kepada kelompok intoleran yang berada di Surakarta.

Kita perlu kembali kepada pemahaman yang benar, bahwa diantara Sunni dan Syiah ini memang berbeda. Perbedaan antara Sunni dan Syiah bukan soal fikih semata seperti antara Muhammadiyah dan NU. Namun lebih fundamental dari itu, sehingga Sunni dan Syiah ini berbeda firqoh (sekte) bukan lagi mazhab (school of thought).

Perbedaan Sunni dan Syiah itu seperti perbedaan Sunni dengan Khawarij, Muktazilah, Murjiah yang merupakan firqoh-firqoh berbeda. Namun firqoh-firqoh tersebut masih termasuk Ahlul Qiblah, masih digolongkan ke dalam Islam dan tidak lantas membuatnya keluar dari Islam.

Kita juga perlu melakukan kilas balik ke masa lalu, bahwa Revolusi Islam Iran pernah menginspirasi seluruh dunia Islam lintas golongan. Revolusi yang dikomandoi Ayatullah Khomeini menjadi salah satu penyemangat umat Islam di seluruh dunia untuk melawan hegemoni barat.

Pemikir seperti Ali Syariati juga menjadi referensi bagi banyak muslim di dunia. Prof. Amien Rais adalah seorang yang menerjemahkan tulisan-tulisan Ali Syariati. Tahun 2000-an, sosok Mahmud Ahmadinejad menjadi presiden Iran yang dikagumi oleh kaum muslim di Indonesia karena kesederhanaannya.

Tentu saja bukan berarti tidak ada narasi-narasi kritis terhadap Syiah. Sejak tahun 1980-an, Majelis Ulama Indonesia sudah membuat sebuah fatwa tentang perlunya umat Islam mewaspadai ajaran Syiah. Di kalangan akar rumput, sudah banyak juga narasi kewaspadaan terhadap aliran Syiah.

Hal ini karena kelompok Syiah pun mulai melakukan ekspansi pemahaman dengan mendirikan lembaga dan yayasan di Indonesia. Namun karena waktu itu masih masa orde baru, pemerintah selalu dapat meredam konflik-konflik SARA di akar rumput.

Sampai tahun 2011, di saat meletusnya konflik geopolitis di Timur Tengah, jadilah Indonesia sebagai tempat perang proxy antara Saudi dengan Iran. Sentimen kebencian terhadap Syiah semakin kuat di masa ini, bahkan mencapai puncaknya dengan slogan Syiah Bukan Islam.

Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan buku saku yang dibagikan secara gratis ke masyarakat, judulnya Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia. Dalam buku tersebut, banyak dikutip pendapat-pendapat ulama Syiah yang menyimpang dan aneh menurut kita.

Buku saku dari MUI tersebut dibalas buku oleh DPP Ahlul Bait Indonesia (ABI) berjudul Buku Putih Mazhab Syiah. Dalam buku tersebut pihak ABI melakukan klarifikasi terkait dengan tuduhan-tuduhan yang dialamatkan kepada mereka.

Salah satu klarifikasinya adalah MUI mengutip pendapat ulama Syiah yang tidak disepakati oleh ulama Syiah sendiri, lalu diklaim sebagai pendapat Syiah secara keseluruhan. Baik buku dari MUI maupun dari ABI dapat diunduh secara gratis di internet, pembaca dapat membandingkan keduanya.

Berdasarkan uraian di atas, saya tidak mengajak pembaca untuk membenarkan atau setuju dengan pemahaman Syiah. Saya sendiri menolak paham Syiah, kalau saya setuju barangkali saya sudah masuk Syiah dari dulu, tapi sampai sekarang saya masih Muhammadiyah.

Namun saya mengajak agar bersikap adil terhadap Syiah. Syiah itu ya menyimpang, berbeda dengan Sunni. Kita menolak beberapa paham Syiah. Tapi ingat, Syiah itu masih bagian dari Islam.

Editor: Yusuf

Terkait

Tags: Islamsunnisyiah
Previous Post

Pancasila: Islam, Kemanusiaan dan Modernitas

Next Post

Orasi Pengukuhan Profesor, Najib Burhani Bicara Soal Intoleransi

Robby Karman

Robby Karman

Sekretaris Jenderal DPP IMM

Next Post
najib burhani - intoleransi

Orasi Pengukuhan Profesor, Najib Burhani Bicara Soal Intoleransi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.