Menurut Ahmad Syafii Maarif, pada masa sekarang ini, apa yang disebut masyarakat Islam di Indonesia jauh dari posisi contoh baik yang mencerminkan suatu tatanan sosial yang benar-benar Islami (Ahmad Syafii Maarif, 2017; 267). Penyakit sosial seperti korupsi, jurang sosial antara si kaya dan si miskin yang menganga, serta isu keadilan sosial, membuat negeri ini jauh dari kata baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur (lihat Surah Saba’15).
Persoalan-persoalan di atas, sesungguhnya merupakan tanggung jawab bersama, tidak terkecuali bagi umat Islam sendiri. Bagi Ahmad Syafii Maarif, umat Islam Indonesia benar-benar memerlukan suatu fondasi intelektual-spiritual keagamaan yang kukuh bagi aktualisasi dan pengembangan potensi mereka yang luar biasa itu (Ahmad Syafii Maarif, 2017; 270).
Demi tujuan inilah, diperlukan pengertian, semangat dan kreativitas. Bertalian erat dengan Pandemi Corona Virus Disease 2019, ruh ijtihad dan semangat positif yang harus terus digalakkan dengan kuat; dan semuanya memerlukan iklim organisasi yang sehat. Muhammadiyah sebagai organisasi sosial keagamaan menjadi garda terdepan dalam mengatasi setiap bencana yang terjadi di Indonesia termasuk Covid-19.
Baca Juga: Najib Burhani: Moralitas & Humanitas Buya Syafii
Dalam sejarah gerakan modern Islam di Indonesia tahun 1900-1942, Muhammadiyah menjadi salah satu diantara tiga gerakan pembaharu yang sangat berjasa hingga saat ini. Organisasi ini didirikan di Yogyakarta pada tanggal 18 November 1912 oleh K. H. Ahmad Dahlan.
Ahmad Syafii Maarif atau lebih dikenal dengan sebutan buya Syafii Maarif merupakan seorang cendikiawan, intelektual-aktivis Muslim yang memiliki dedikasi penuh terhadap isu-isu kemanusiaan. Pada bidang akademik, beliau menjabat sebagai guru besar sejarah di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP), sekarang menjadi Universitas Negeri Yogyakarta; Institut Agama Islam Negeri Yogyakarta, sekarang menjadi Universitas Islam Negeri Yogyakarta; dan Universitas Islam Indonesia.
Terllibat dengan Muhammadiyah
Pada bidang sosial, buya Syafii Maarif terlibat aktif dalam organisasi sosial Muhammadiyah. Perjalanan kariernya di organisasi tersebut sangat cepat. Menjadi Wakil Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah (1995-1999) dan terpilih sebagai pemimpin puncak Muhammadiyah untuk periode 200-2005, serta menjadi Penasihat PP Muhammadiyah (2005-2010).
Untuk mendorong proses pembangunan demokratisasi dan tata sosial yang inklusif, toleran, dan pluralitas, buya Syafii Maarif bersama beberapa tokoh Muhammadiyah mendirikan MAARIF Institute for Culture and Humanity pada tahun 2003.
Dengan mengutif kata-kata Buya Hamka, Ahmad Syafii Maarif mengatakan bahwa ada tiga faktor yang mendorong lahirnya gerakan Muhammadiyah ini (Ahmad Syafii Maarif, 2017; 91). Pertama, keterbelakangan dan kebodohan umat Islam Indonesia dalam hampir semua bidang kehidupan.
Kedua, suasana kemiskinan yang parah yang diderita umat di suatu negeri kaya seperti Indonesia. Ketiga, kondisi pendidikan Islam yang sudah sangat kuno seperti yang terlihat pada pesantren saat itu (Hamka, 1952; 31-32). Motto Muhammadiyah, “Sedikit bicara, banyak bekerja” dan “Siapa menanam, mengetam” telah dikenal luas dalam perjalanan sejarah modenisme Islam di Indonesia.
Melalui semangat dan kreativitas, Muhammadiyah mempunyai maksud untuk “menyebarkan pengajaran Kanjeng Nabi Muhammad s.a.w kepada penduduk bumiputera” dan “memajukan hal agama Islam kepada anggota-anggotanya”. Untuk mencapai tujuan tersebut, Muhammadiyah mendirikan berbagai macamlembaga (Deliar Noer, 1996; 86).
Sifat-sifat sosial dan pendidikan dari Muhammadiyah tempo dulu, memanglah masih relevan hingga saat ini. Melakukan berbagai macam kegiatan seperti shalat, dan dalam memberikan bantuan kepada fakir miskin dengan mengumpulkan dana dan pakaian untuk mereka yang terdampak Pandemi Covid-19.
Selalu Berkhidmat untuk Umat
Penolong Kesengsaraan Umum (PKU) mulanya organisasi yang berdiri sendiri dengan nama yang sama, didirikan pada tahun 1918 oleh para pemimpin Muhammadiyah untuk meringankan korban yang jatuh disebabkan meletusnya Gunung Kelud (Deliar Noer, 1996; 90). Lalu PKU melanjutkan usaha-usahanya untuk membantu orang-orang miskin dan yatim piatu di Yogyakarta sampai ia menjadi bagian yang khusus dari Muhammadiyah pada tahun 1921.
Selain PKU, ada juga Aisyiah yang merupakan organisasi wanita dari Muhammadiyah. Secara resmi, organisasi ini menjadi bagian dari Muhammadiyah yaitu pada tahun 1922. Organisasi ini menekankan sekali pentingnya kedudukan wanita sebagai ibu.
Pendidikan pertama yang diterima oleh seorang anak adalah dirumah, maka wanita-wanita yaitu ibu-ibu mempunyai tanggung jawab yang sangat besar untuk kemajuan masyarakat melalui asuhan dan didikan anak-anaknya sendiri. Inilah yang menjadi sumbangan penting dari Muhammadiyah bagi peran perempuan ditengah masyarakat Indonesia.
Baca Juga: Islam dan Modernisasi: Merawat Ide Pembaruan Cak Nur
Begitu pula pada masa Pandemi seperti sekarang ini, dimana metode pembelajaran sekolah dilakukan dirumah. Sehingga secara tidak langsung menuntut seorang ibu untuk dapat memberikan pembelajaran yang efektif, dan juga berguna bagi si anak dimasa depan.
Oleh sebab itu, melalui semangat dan kreatifitas, serta dengan Motto “Sedikit bicara, banyak bekerja” dan “Siapa menanam, mengetam”, Muhammadiyah tidak henti-hentinya untuk selalu berkhidmat untuk negeri ditengah Pandemi Corona Virus Disease 2019. Begitu pula dengan sosok Ahmad Syafii Maarif yang dikenal sebagai salah satu tokoh nasional Muhammadiyah, yang tidak pernah berhenti berkhidmat dan berijtihad untuk negeri melalui tulisan-tulisannya yang sangat inspiratif.