Selasa, Oktober 6, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Small Country: Model Negara Milenial

Nurbani Yusuf by Nurbani Yusuf
September 25, 2020
in Esai
0
Small country
30
SHARES
175
VIEWS

Small Country itu model Negara Milenial. Meski kecil tapi efisien. Tidak banyak pengeluaran yang menjadi beban utang. Luas wilayah dan jumlah penduduk tidak menjadi ukuran. Khilafah atau demokrasi tidak menjadi pilihan sebab kesejahteraan, keadilan dan kemakmuran menjadi yang utama.

Small Country tidak mengutamakan bentuk tapi substansi. Bukankah konsep awal negara khilafah dan negara demokrasi tidak didesain untuk negara berskala besar baik penduduk maupun wilayah? Taruhlah ada, pasti banyak masalah dan berjalan tidak ideal. Jadi dua model itu sudah ketinggalan jaman.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Small Country ternyata lebih memikat dibanding negara-negara besar. Lebih terawat dan terurus. Maka Small Country semacam Singapura, Brunei, New Zealand, Abu Dhabi, Bahrain, dan negara-negara kecil lainnya lebih layak dijadikan model negara masa depan yaitu social welfare, negara berbasis kesejahteraan sosial.

Mc-Iver, negarawan Eropa terkemuka, menyebut bahwa luas wilayah yang kerap menjadi simbol hegemoni atas kekuasaan berasal dari spirit imperium untuk menguasai dan menjajah. Wilayah kekuasaan hanya berfungsi sebagai koloni yang diperas dan disengsarakan. Diambil kekayaannya untuk ‘negara induk’. Dari sinilah segala kesengsaraan, kezaliman, dan ketidakadilan bermula.

Umumnya penguasa hanya mengedepankan simbol luas wilayah sebagai hegemoni bukan dengan tujuan membuat rakyatnya sejahtera. Koloni-koloni hanya sesembahan unyuk sesuatu yang sama sekali berada di luar spirit bernegara.

Singapura dan Brunei Darussalam adalah contoh Small Country yang sangat dekat. Keduanya lebih pas disebut ‘negara kota’ sebagaimana konsep Plato. Dua negara ini sangat efisien dan lincah, luas wilayah dan jumlah penduduk tidak menjadi ukuran sebab kemakmuran dan kesejahteraan menjadi yang prioritas, maka kerajaan, khilafah atau republik tidak menjadi pilihan.

City-state (negara kota) lebih mengedepankan kebajikan dan pengetahuan. Para filsuf dan ulama (The Philosophiers King) yang paling berhak memerintah dengan kebajikan dan pengetahuan. Herodhotus dan Aristophanes memberi banyak inspirasi bagaimana mengelola Small Country dengan pengetahuan dan kebijakan (virtuouso).

Mengelola negara sebesar Indonesia dengan banyak agama, ideologi, pulau, suku, bahasa, dan penduduk yang amat besar tentu lebih rumit dibanding mengelola negara Singapura atau Brunei Darussalam. Ke depan, skema Small Country akan menjadi pilihan menarik karena lebih punya prospek dibanding negara besar tapi sarat beban.

Bentuk negara konvensional semisal Amerika, India, Tiongkok, Rusia bahkan Indonesia sudah amat ketinggalan dan tidak relevan dengan perkembangan. Apa yang dibanggakan dari wilayah luas dan jumlah penduduk selain utang besar, kekacauan sosial, ketidak merataan ekonomi, kemiskinan dan ketidak adilan?

Editor: Yusuf

Terkait

Tags: demokrasiNegarasmall country
Previous Post

Nasehat Buya: Bukan Telat tapi Kartu Truf

Next Post

Begini Ijtihad Muhammadiyah Menurut Ahmad Syafii Maarif

Nurbani Yusuf

Nurbani Yusuf

Komunitas Padhang Makhsyar

Next Post
buya syafii kebijaksanaan

Begini Ijtihad Muhammadiyah Menurut Ahmad Syafii Maarif

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.