Kamis, Oktober 8, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Identitas Pancasila (1): Stereotip vs Branding

RedaksiKS by RedaksiKS
September 12, 2020
in Esai
0
Kolaborasi Islam Berkemajuan, Budaya Nusantara dan Pancasila
54
SHARES
319
VIEWS

Memandang Indonesia tidak bisa hanya dari 1 (satu) pulau, satu kota, satu suku, satu agama, satu golongan, atau satu budaya tertentu. Memandang Indonesia haruslah dengan segenap jiwa dan raga melihat dan memperhatikan terkait kesatuan bangsa, yaitu bangsa Indonesia.  Sebagai satu buah bangsa yang terus menerus berevolusi dalam kehidupan bangsa dan negara. Dimulai dari nusantara yang terkenal dengan kerajaan-kerajaannya, hingga menjadi republik Indonesia yang menggunakan sistem presidensial, nomokrasi dan demokrasi berazaskan UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, Pancasila, dan NKRI, empat hal itu dikenal sebagai Empat Pilar.

Perumusan Pancasila yang dicetuskan oleh para founding father. Saat perang dunia kedua, Pancasila menjadi ideologi pembebas saat perang dunia berlangsung yang saat itu dihadapkan dengan dua ideologi besar, yakni liberalisme dan komunisme. Pancasila merupakan ideologi alternatif yang ditawarkan Bung Karno saat dunia dihadapkan pada perang dunia kedua. Alasannya, karena Pancasila mampu mempersatukan ideologi yang bertarung, dan bahkan menjadikan Indonesia terbebas dari perang dunia kedua. Tidak hanya membebaskan Indonesia dari keterlibatan perang dunia kedua. Pada saat kemerdekaan Nusantara pun, keunikan ideologi pancasila pun digunakan dalam mencapai kemerdekaan serta pembentukan UUD 1945 dan NKRI.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Ideologi dan sudut pandang yang telah dibangun oleh penjajah jaman dulu yang kurang lebih telah berlangsung 350 tahun lamanya. Memisahkan kita dari satu kelompok dengan kelompok lain, membangun stereotip-stereotip agar memudahkan mereka menduduki nusantara dan mengatur manusia didalamnya. Semua jajahan itu terkalahkan saat nusantara mulai bersatu. Tercetusnya semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang bermakna bersatu kita utuh, bercerai kita runtuh,  terundangkan 5 aspek Pancasila, bersatunya para pahlawan dan founding father menghadapkan nusantara di pintu gerbang kemerdekaan 1945, tersiar proklamasi 17 Agustus, hingga terus berjuang dan diakui oleh dunia di tahun 1949. Lalu mengapa perbedaan saat ini malah merusak Indonesia?

Stereotip menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia diistilahkan sebagai konsepsi mengenai sifat suatu golongan berdasarkan prasangka yang subjektif dan tidak tepat. Stereotip mengenai suku yang superior diatas suku lainnya, golongan yang superior terhadap golongan lainnya, bahkan bangsa yang superior dari bangsa lainnya telah lama dikumandangkan di bumi pertiwi ini oleh penjajah. Salah satunya adalah pembentukan kasta dan merendahkan warga keturunan asli dengan warga keturunan asing.

Walaupun demikian warga keturunan asli dan warga keturunan asing pun harus tunduk dibawah bendera penjajah. Penjajah menganggap bahwa mereka memiliki kasta tertinggi di bumi pertiwi sehingga semua peraturan dan budaya harus menyesuaikan dengan pemahaman dan konsep dari para penjajah. Tentu saja targetnya adalah kelemahan orang orang di nusantara, baik dari sisi kepercayaan terhadap pimpinan/raja/ketua, atau dari perekonomian dan politik.

Kegiatan pembentukan stereotip pun masih berlangsung hingga saat ini. Pembentukan stereotip ini dikenal juga dalam salah satu metode modern yang diciptakan akibat geopolitik. Bahkan tidak hanya serangan dari satu negara terhadap negara lainnya. Sekarang telah berkembang menjadi serangan dari satu orang atau satu kelompok tertentu terhadap negaranya sendiri. Bercermin dari terjadinya stereotip negatif yang telah lama terjadi, maka diperlukan branding yang baru mengenai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

baca juga Siapa Khalifah di Negeri HTI?

Branding adalah bahasa modern yang telah dikenal luas di era Revolusi Industri 4.0. Branding dalam bahasa indonesia dikenal juga sebagai merk. Merk menurut KBBI adalah tanda yang digunakan oleh pengusaha pada barang yang dihasilkannya atau sebagai cap yang menjadi pengenal untuk menyatakan nama, simbol, gambar, huruf, kata dan sebagainya, dapat pula diistilahkan sebagai kegagahan, keunggulan, dan kualitas.

Saat ini, branding terhadap Indonesia yang diciptakan founding father adalah asas kegotongroyongan serta penerapan pancasila sebagai ideologi, falsafah, dan pandangan hidup. Peran Pancasila sangat terlihat jelas untuk menjaga kestabilan dari isu isu dan ancaman yang terus dikumandangkan oleh negara lain terhadap Indonesia, misalnya saja sila ketiga persatuan Indonesia. Dalam sila ketiga Pancasila, “Persatuan Indonesia”. Sila ini memberikan karakteristik yang holistik atas paham kebangsaan Indonesia dan didalamnya terkandung makna nasionalisme. Dalam konteks situasi pandemi corona ini tentunya kita butuh rasa nasionalisme, kekeluargaan, kebersamaan, dan gotong-royong saat ini.

Dalam ajaran Khonghucu ditegaskan, di empat penjuru lautan semua bersaudara. Maka melihat Indonesia sebagai satu bangsa dimulai dari melihat manusia yang ada di dalamnya sebagai saudara sendiri, sebagaimana dikatakan satu nusa, satu bangsa, satu bahasa, tumpah darah Indonesia demi tanah air tercinta, darahku Indonesia, Indonesia jiwa ragaku. Ditegaskan pula dalam ayat lainnya “Tanah air harus dijaga dari generasi ke generasi, tidak boleh ditinggalkan sekedar pertimbangan pribadi. Bersiaplah untuk mati, tetapi jangan pergi”.

Memandang Indonesia tidak bisa hanya dari satu sisi atau sudut pandang tertentu. Apalagi menganggap prespektif yang dimiliki sebagai satu-satunya prespektif yang baik diantara lainnya. Hal itu sejalan dengan misi para penjajah jaman dulu yang membeda-bedakan melalui stereotip-stereotip yang dibangun sejak 350 tahun yang lalu. Maka melihat Indonesia mulailah melihat branding atau merk Indonesia. Yakni melalui nama Negara Kesatuan Republik Indonesia, Simbol Pancasila, Gambar Garuda, huruf Bhinneka Tunggal Ika, kata gotong-royong dan persatuan yang mencerminkan keunggulan dan kualitas Indonesia lebih baik dari negara lainnya.

Musyawarah sebagai Lampu Bimbingan

Akhir-akhir ini, kehidupan yang semakin dinamis dan persoalan yang bertambah kompleks. Diiringi dengan kemajuan pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi telah membuat keanekaragaman sudut pandang, cara berpikir, dan pendapat setiap orang.

Hal itu pula yang memancing perdebatan dan pertikaian diantara masyarakat. Padahal dengan perbedaan cara pandang, cara berpikir pendapat akan membantu kita untuk memperkaya diri kita masing-masing dalam menjalankan kehidupan sebagai makhluk sosial yang saling berinteraksi. Keanekaragaman tersebut memberikan inspirasi. Dari orang lain kita belajar banyak untuk merefleksikan apa yang sudah kita lakukan terutama dalam menghadapi tantangan.

Dalam kehidupan sehari-hari, berbicara dengan orang lain dalam situasi apapun mengenai situasi yang terjadi. Kita tentunya bertemu orang dari berbagai latar belakang, karakter, lingkungan, dan sikap yang berbeda, yang akan mempengaruhi cara berpikirnya. Tentu saja dibutuhkan sikap kedewasan ketika menerima perbedaan itu. Perbedaan yang akan memunculkan diskusi dengan menambah tingkat kedewasaan. Musyawarah untuk merefleksikan apa yang sedang terjadi dan bagaimana respon kita menyikapi hal tersebut.

Musyawarah dilakukan untuk mencapai keputusan. Karena musyawarah diibaratkan seperti lampu yang membimbing dan menunjukkan jalan serta memberi pengertian bagi kita. Jadi musyawarah merupakan hadiah yang luar biasa bagi umat manusia untuk membantu kita belajar sedikit demi sedikit, hari demi hari bagaimana menjalankan perintah dan hukum Tuhan yang diajarkan melalui perwujudan-Nya. Ketika bermusyawarah, bersama-sama mencari kebenaran, mendiskusikan berbagai kemungkinan, membicarakan ide-ide dan berbagi pemahaman.

Kita harus bermusyawarah dalam segala hal dan dengan siapapun. Tak bisa mengkotak-kotakkan atau hanya bermusyawarah dengan orang-orang tertentu saja. Jadi alangkah baiknya jika bermusyawarah dengan semua orang, diawali dengan orang terdekat yaitu keluarga, kemudian tetangga, teman baik itu teman sekolah, teman kampus, teman kerja dan lainnya.

Selain itu, dalam bemusyawarah harus netral, tidak berpihak pada siapapun. Ada hal penting juga patut kita sadari, tak jarang karena status dan hubungan membuat orang-orang tidak mengedepankan prinsip musyawarah. Misalnya hanya karena mempunyai hubungan keluarga merasa sungkan untuk bermusyawarah. Contoh lain, hanya karena memiliki hubungan pertemanan yang baik dan berlandaskan rasa saling percaya maka mengabaikan musyawarah. Di sisi lain, tidak enggan melakukan musyawarah karena merasa dari golongan yang berbeda  dan beranggapan akan menimbulkan perbedaan.

Menggunakan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Pancasila yang tidak sekedar ideologi, tidak sekedar simbol, namun juga sebagai falsafah bangsa Indonesia, perlu kita refleksikan apakah kita benar-benar memahami pancasila? Sudahkan mengamalkan nilai-nilai pancasila dan menerjemahkan ke dalam tindakan?

Sila pertama, yakni Ketuhanan Yang Maha Esa. Bumi diibaratkan suatu Negara dan manusia adalah warganya. Kita diciptakan oleh Tuhan dari berbagai latar belakang budaya, ras, suku, bahasa, warna kulit, agama dan keragaman lainnya. Tuhan menciptakan kita karena cintanya pada umat manusia. Kita meyakini pada Tuhan Yang Maha Esa.

Sila kedua, yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab. Sesama anggota masyarakat, sudah ditanamkan dalam diri kita rasa santun dan menghargai sesama, serta berlaku adil yang tidak memandang beragam latar belakang.

Di Sila ketiga, persatuan Indonesia. Kita analogikan sebagai gelombang disatu lautan, buah-buah dipohon-pohon satu di kebun, bunga-bunga dalam satu taman. Baha’u’llah, pembawa ajaran Baha’i mengatakan bahwa “Anggaplah dunia ini sebagai tubuh manusia”. Tubuh manusai terdiri dari berbagai organ yang masing-masing mempunya fungsi untuk membuat kondisi tubuh selalu sehat. Walaupun diciptakan utuh dan sempurna namun karena berbagai sebab telah mengalami gangguan dan penyakit yang parah. Oleh karena itu dibutuhkan persatuan untuk membangun peradaban, membangun dunia yang lebih baik lagi.

Bersatu dengan 260 juta lebih anak bangsa untuk mengatasi Covid-19 dan mencegah disintegrasi bangsa dan perpecahan sesama anak bangsa. Menghindari konflik sosial dan konfrontasi politik yang dapat membuat kepanikan dan kegaduhan rakyat. Saatnya persatuan bangsa menjadi lebih kokoh dalam menghadapi musuh bersama yaitu virus korona.

Diperjelas di sila keempat, yaitu Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Bagaimana caranya untuk mewujudkan persatuan? Melalui musyawarah, kita mulai mewujudkan persatuan. Musyawarah merupakan tempat yang ideal untuk mulai mempraktikkan persatuan, yang akan memberikan manfaat dan memudahkan dalam menghadapi tantangan-tantangan.

Yang kita ingat, dalam musyawarah, harus disertai dengan kasih sayang, bukan dengan ketegasan yang tak beralasan. Nilai-nilai musyawarah dalam hikmat kebijaksanaan, berlaku santun terhadap setiap pandangan setiap orang. Ikut serta menjalankan setiap keputusan yang dihasilkan. Menyelesaikan setiap perdebatan dengan mengedepankan musyawarah. Memulai musyawarah dengan persatuan.

Kita diminta oleh ‘Abdu’-Baha, Sang Suri Teladan, untuk harus bermusyawarah dalam segala hal, karena ini akan membawanya pada kedalaman setiap masalah dan memungkinkannya untuk menemukan solusi yang benar.

Selain itu musyawarah hendaklah dilakukan dengan rendah hati. Ketika kita berada dalam ruang musyawarah, kita tidak boleh berpikir siap kita, apa yang kita ketahui, apa yang kita lakukan harus dilakukan oleh orang lain. Biarlah musyawarah yang menentukan. Begitu pula, ketika pendapat kita tak disetujui, alih-alih kecewa bahkan emosi, justru hargailah pendapat orang lain dan berbesar hati menerimanya. Berusaha mempertahankan persatuan dengan keragaman ide dan pendapat. Sehingga tidak muncul dominasi, keserakahan, dan manipulasi. Jika para  pendahulu kita telah bahu membahu mendirikan negara ini dan saatnya kini,  kita bahu membahu menyelesaikan tantangan dalam ujian Covid-19 ini dengan mufakat dan musyawarah dalam kehidupan masyarakat.

Sila kelima, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Setiap orang mempunyai hak dan kewajiban untuk bersuara dan mengemukakan pendapatnya. Kesetaraan dalam bermusyawarah mengenai kondisi saat ini. Kondisi krisis saat yaitu pandemia COVID-19. Karena dunia sebagai satu tubuh manusia. Berbagai respon terhadap krisis ini, berupaya mencari solusi. Semuanya dari berbagai latarbelakang turut memiliki andil untuk bermusyawarah menjadi jalan. Karena situasi ini memberikan dampak disetiap Bidang dan mempengaruhi kehidupan sosial. Perlu semangat solidaritas bersama untuk saling membantu dan menguatkan untuk melewati ujian Covid-19 sehingga tidak ada anak bangsa yang termarjinalisasi dan tidak terpedulikan. Sebaliknya, musibah Covid-19 ini meningkatkan solidaritas bangsa Indonesia.

Esensi Pancasila di Era Pandemi

Dewasa ini Indonesia tengah dihadapkan dengan problem wabah atau pandemi yang terjadi kurang lebih selama empat bulan dan ttidak tahu kapan berakhirnya. Covid-19 (Corona Virus Disease) menjadi musuh di berbagai belahan dunia. Indonesia merupakan negara terparah di asia tenggara dengan lebih dari 100.000 positif Covid-19 melebihi Singapura, Malaysia dan negara lainnya di Kawasan Asia Tenggara. Jumlah pasien positif terus melonjak bahkan mencapai angka 2000 orang perhari terjangkit di Indonesia. Amerika Serikat merupakan negara terparah didunia dengan kasus positive menyentuh angka 3,4 juta penjangkit. Setiap hari Amerika Serikat menerima laporan positif sekitar ratusan ribu orang terjangkit.

Untuk saat ini negara-negara menerapkan New Normal yang merupakan Era baru diterapkan dalam rangka mengantisipasi terjadinya penularan Covid-19 yang mudah menyebar melalui sentuhan, udara dan cairan. Era baru ini menerapkan protokol Kesehatan yang diterapkan oleh kementrian Kesehatan Indonesia yang didalam perintahnya masyarakatnya diharuskan menerapkan social distancing, menggunakan masker dan membersihkan diri secara teratur dan intesif.

Indonesia sebagai negara dengan penjangkit terbanyak di Asia Tenggara mengalami gangguan dibeberapa sektor, bukan hanya di sektor Kesehatan tetapi juga merebak ke sektor ekonomi dan pendidikan. Dalam sektor ekonomi Indonesia porak poranda dengan meningkatnya inflasi dan meningkatnya PHK yang menjadikan hilangnya sumber pendapatan masyarakat serta menjadikan pengagguran meningkat drastis.

Sektor pendidikan menjadi berubah haluan, awalnya dengan metode tatap muka dan sekarang berubah online. Sampai saat ini perdebatan mengenai pembelajaran yang akan dilangsungkan mendatang antara daring atau luring masih menjadi pertimbangan pemerintah. Semua mengalami perubahan semenjak pandemic Corona menyerang dan dunia saat ini sedang disibukan untuk beradaptasi dengan semua itu.

Pandemi ini membuat perpecahan jika kita tidak saling support dan gotong royong, esensi Pancasila saat pandemi ini harus kita pegang atau menjadi pedoman agar Indonesia tetap satu dalam menghadapi masalah ini. Memaknai Pancasila terutama pada saat pandemi Covid-19 perlu kembali mengaktualisasi nilai-nilai Pancasila. Kita perlu mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena secara esensi sengenap ujian ini datangnya dari Tuhan sebagai peringatan bagi kita semua.

Dalam alam Pancasila, negara memberikan kebebasan kepada setiap anak bangsa untuk menjadi hamba Tuhan yang taat dan dapat melaksanakan keyakinan masing-masing tanpa paksaan. Karena agama merupakan ranah yang sangat hakiki yang datang dalam hati manusia. Oleh karenanya, doa dan ibadah menjadi lebih kuat dan dalam mengingat-Nya yang ada lebih dekat dari urat nadi kita. Adanya pandemi ini membuat kita lebih religius dan berhati-hati dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, namun tidak berarti kita terpenjarakan oleh musibah ini.

baca juga Momen Idul Adha, Momen Untuk Berbakti Kepada Orang Tua

Pada situasi seperti ini kita diharuskan lebih peka terhadap apa yang terjadi di sekeliling kita, bukannya saling menyalahkan berbagai pihak sehingga menjadikan suasana semakin buruk. Sila kemanusiaan yang adil dan beradab yang mengajak kita saat musibah Covid-19 ini untuk menjadi hamba-Nya yang bermanfaat bagi orang lain. Hamba Tuhan yang dapat membawa nilai-nilai kemanusiaan yang merasa sedih atas penderitaan dan dengan penuh kasih sayang memberikan pertolongan kepada sesama umat manusia. Musibah Covid-19 ini merupakan asa kita untuk melatih nilai kemanusiaan kita dan kepekaan kita kepada sesama umat manusia yang menghirup udara yang sama.

Dunia ini memiliki dua zona yang membedakan antara satu dengan lainnya, yaitu zona positif dan zona Negatif. Zona positif merupakan keadaan ideal yang menjadikan kita tenang dengan segala yang ada di sekeliling kita dan zona negatif merupakan kebalikannya. Pada keadaan tidak menyenangkan ini Indonesia masuk dalam zona negatif yang didalamnya berisi ketidak-nyamanan, kegusaran dan kesengsaraan. Tidak ada pilihan lain bagi kita, kita harus segera berpindah dari zona negatif ke zona positif dengan mengingat dan mengimplementasikan esensi Pancasila dengan itu kita dapat Bersatu dan berpindah. Pancasila merupakan konsep besar yang dapat menampung semua kemajemukan yang ada di Indonesia, berpedoman pada keadaan dan karakter bangsa.

Peran Pancasila di Tengah Pandemi Covid-19

Pembahasan mengenai Covid-19 tidak berhenti untuk didiskusikan bahkan dibahas tuntas, hal ini terlihat bagaimana peningkatan angka yang terus naik dari orang-orang yang terkena virus misterius ini. Tidak bisa dipungkiri telah banyak memakan korban, bahkan setiap hari kita tidak terlepas dari berita kematian yang diinformasikan melalui media sosial seperti, Facebook, Twitter, Instagram, dan media berita pada umumnya. Yang disebabkan oleh Covid-19 itu.

Peningkatan korban dari Covid-19, tentu saja membuat kita menjadi resah, takut, bahkan jatuh sakit. Hal ini perlu untuk segera ditangani oleh pemerintah atau pun oleh individu  sebagai upaya dalam pencegahan jatuhnya banyak korban. Tentunya dengan cara sesuai  petunjuk dari para ahli di bidang itu. Pada kali ini saya ingin berasumsi, bagaimana peran Pancasila di tengah pandemic Covid-19.

Perumusan Pancasila sebagai dasar negara yang dicetuskan oleh para pendiri bangsa, telah melalui perjalanan panjang. Bahkan, Pancasila menjadi ideologi pembebas saat perang dunia berlangsung. Dalam sejarah perang dunia kedua, Pancasila menjadi pembebas bangsa Indonesia, yang saat itu dihadapkan dengan dua ideologi besar, yakni liberalisme dan komunisme. Kini, saat perang medis melawan Covid-19, Pancasila juga menjadi penunjuk arah bagi bangsa Indonesia terlepas dari wabah yang disebabkan virus SARS-CoV-2 ini.

Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi menjelaskan, nilai inti dari sila-sila Pancasila adalah gotong royong dalam kehidupan berbangsa. “Kita akan melihat fakta bahwa Pancasila akan berhadapan dengan perang medis, dalam hal ini melawan Covid-19”. Yudian menjelaskan, sejak awal Pancasila terbentuk, sudah dihadapkan dengan banyak konflik. Namun, Pancasila tetap tegak berdiri menyelamatkan Bangsa Indonesia. Presiden Soekarno tidak memilih untuk mengikuti ideologi komunisme dan liberalisme yang saat itu tengah bertarung. Sang proklamator menyaring ideologi dari budaya asli masyarakat Indonesia yang terdiri dari banyak suku, ras, dan agama.

Beliau menyebutkan Pancasila sebagai mukjizat ideologi unik. Menurut sejarah, Pancasila merupakan ideologi alternatif yang ditawarkan Bung Karno saat dunia dihadapkan pada perang dunia kedua. Alasannya, karena Pancasila mampu mempersatukan ideologi yang bertarung, dan bahkan menjadikan Indonesia terbebas dari perang dunia kedua.

Keunikan Pancasila ini, dikatakan Yudian, adalah karena sejak 1 Juni 1945, Indonesia telah mendapatkan ideologi pemersatu dan juga pembebas dari konflik. Maka ia meyakini bahwa dalam kondisi perang melawan Covid-19 pun, Pancasila bisa mempersatukan dan menyelamatkan bangsa Indonesia melalui semangat gotong royong. Dengan berbekal Ketuhanan Yang Maha Esa, kita letakkan diri kita sejajar, turunkan ego, dan kembali pada keputusan bersama yang diwakili pemerintah. Jika ini bisa kita lakukan, maka Pancasila kembali jadi mukjizat ideologi yang menyelamatkan Indonesia.

Nilai-Nilai yang Terkandung dalam Sila Pancasila

Berbicara aktualisasi nilai-nilai Pancasila dalam penanganan pandemi Covid-19, Mantan Menteri Dalam Negeri tersebut menuturkan tiga nilai yang ia rasakan sebagai blessing atau berkah dari penanganan pandemi Covid-19. Pertama, nilai persatuan. Hal ini diwujudkan dalam kolaborasi yang cukup solid dari sisi pemerintah dan masyarakat dalam mencegah dan mengatasi penyebaran Covid-19. Manajemen penanganan Covid-19 juga cukup efektif dilaksanakan dari pusat sampai ke daerah.

Berkah kedua adalah nilai kemanusiaan. Nilai ini terlihat dari solidaritas sosial seluruh elemen masyarakat yang bahu membahu untuk membantu pelaksanaan tugas Satgas Covid-19 maupun membantu sesama saudara sebangsa yang terdampak pandemi Covid-19. Lalu, berkah ketiga, keadilan sosial. Ketika pemerintah ingin menjaga keselamatan bangsa akibat pandemi Covid-19, pemerintah memikirkan bagaimana jaring pengaman sosialnya. Pemerintah juga memikirkan bagaimana roda perekonomian berjalan kembali sehingga kehidupan sosial-ekonomi bisa berangsur pulih kembali. (bersambung …)

Penulis: Muhammad Saleh, Malikha Emayusita, Aldi Destian Satya, Reza Nur Faizin, Desdiandi Hartopoh, dan Erma Yesiana. (Alumni pelatihan #PancasilaLahirBatin yang diselenggarakan oleh PSBPS UMS bekerjasama dengan LPIDB UMS pada 25-28 Agustus 2020).

Terkait

Tags: BrandingpancasilaStereotip
Previous Post

Identitas Pancasila (2): Refleksi Nilai dan Penerapan

Next Post

Air dan Minyak Pancasila

RedaksiKS

RedaksiKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
Hari ini, degradasi moral yang sering disoroti dan menjadi penting adalah tentang perilaku anak muda yang cenderung makin tak terkontrol

Air dan Minyak Pancasila

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.