Stigma bahwa agama adalah pembawa damai perlu dipertanyakan. Benarkah agama tak bisa jauh jauh dari nabinya? Apakah semakin jauh jaraknya maka kental aroma penyimpangan atas namanya?
***
Tantangan besar bagi yang mengklaim sebagai pewaris nabi adalah merawat agama sesuai aslinya pada saat pertama kali dibawa. Itu adalah kerja berat yang tak bisa diemban sendirian. Realitasnya legitimasi bahwa agama bisa membawa damai terus di soal dan diragukan.
Baca juga: Melawan Kejokeran Ego
Kebiadaban, konflik, perpecahan, kebencian juga bisa dilakukan oleh yang mengaku paling religius sekalipun. Agama kerap dijadikan alat untuk mendapat kekuasaan dan legitimasi. Sampai tahap ini akan kita dapati banyak hal dan variabel yang sulit ditangkap melalui pendekatan obyektif.
Gerakan anti Tuhan justru lahir karena kecewa berat terhadap perilaku menyimpang para pemeluknya yang antagonis, berhadapan dengan substansi ajaran agama yang lembut, mendamaikan, humanis, toleran, ta’awun, adl, dan lain-lain. Dengan kata lain para pemeluk agama justru menjadi pelanggar ajaran agama terdepan. Dari sinilah kemudian krisis atas Tuhan (delusion) bermula dalam berbagai varian.
Bukan PKI satu-satunya musuh agama. Yang secara defacto dan dejure telah dimatikan. PKI hanyalah bagian terkecil dari kaukus produk intelektual dalam bentuk politik merebut rezim. Memfokuskan pada PKI adalah keniscayaan meski tak sepenuhnya benar sebab pada realitasnya PKI justru kerap sebagai takhayul politik. Ibarat memukul angin.
Tapi sikap mendelegitimasi agama dan keberadaan Tuhan itu lebih menakutkan karena massif berjalan. Adalah Richard Dawkins yang menulis tentang God Delusion yang mengkritik banyak agama dan Tuhan dianggap tidak siginifikan bisa mengatur hidup.
***
Lantas bagaimana pula sikap meragukan Tuhan dan agama ini begitu banyak diminati? Semua berpangkal pada Pergerakan agama yang menakutkan diilustrasikan dengan anti kemanusiaan, intoleran, dan merasa paling benar, itu penyebab utamanya.
Kritik atas agama ini memang telah banyak dilakukan. Terutama pada institusi gereja abad tengah. Feurbach, Marx, Gramschy, dan generasi milenial Stephen Hawking dan Richard Dawkins, melakukan kritik atas Tuhan dan agama yang dianggapnya sebagai sumber masalah. Richard Dawkins berkata bahwa semua agama adalah non sens dan gagasan tentang Tuhan adalah tidak masuk akal.
Sebenarnya yang menjadi sasaran kritik adalah pada perilaku menyimpang para pemeluknya dan bukan pada substansi ajaran agamanya, tapi apakah bisa dibedakan antara ajaran agama dengan pemeluknya dalam satu garis demarkasi terpisah?
Argumen yang dibangun Dawkins sangat solid dan kokoh sehingga banyak ilmuwan ‘kepincut’. Meski dengan rendah hati saya berani mengkritik bahwa jika keberadaan Tuhan adalah entitas yang tak bisa dibuktikan secara ilmiah mana mungkin pula ketiadaannya dibuktikan secara ilmiah? Jadi logika Dawkins telah terjatuh pula pada paham Scholastik tentang keberadaan Tuhan.
***
Kemarahan kaum ateis baru (new atheism) ini kalau mau jujur justru dipicu oleh sikap keberagamaan umat Islam yang kian mengeras cenderung kehilangan spiritualitas. Sisi humanitasnya kian menipis dan mengering. Kritik atas agama ini sangat penting bagi para ‘pewaris nabi’ untuk menampilkan wajah agama yang humanis penyayang dan pemaaf, tugas berat ke depan.
Editor: Yusuf R Y