Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

PKI atau Ateisme Baru?

Nurbani Yusuf by Nurbani Yusuf
Juli 10, 2020
in Esai
0
pki
24
SHARES
141
VIEWS

Stigma bahwa agama adalah pembawa damai perlu dipertanyakan. Benarkah agama tak bisa jauh jauh dari nabinya? Apakah semakin jauh jaraknya maka kental aroma penyimpangan atas namanya?

***

Tantangan besar bagi yang mengklaim sebagai pewaris nabi adalah merawat agama sesuai aslinya pada saat pertama kali dibawa. Itu adalah kerja berat yang tak bisa diemban sendirian. Realitasnya legitimasi bahwa agama bisa membawa damai terus di soal dan diragukan.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Baca juga: Melawan Kejokeran Ego

Kebiadaban, konflik, perpecahan, kebencian juga bisa dilakukan oleh yang mengaku paling religius sekalipun. Agama kerap dijadikan alat untuk mendapat kekuasaan dan legitimasi. Sampai tahap ini akan kita dapati banyak hal dan variabel yang sulit ditangkap melalui pendekatan obyektif.

Gerakan anti Tuhan justru lahir karena kecewa berat terhadap perilaku menyimpang para pemeluknya yang antagonis, berhadapan dengan substansi ajaran agama yang lembut, mendamaikan, humanis, toleran, ta’awun, adl, dan lain-lain. Dengan kata lain para pemeluk agama justru menjadi pelanggar ajaran agama terdepan. Dari sinilah kemudian krisis atas Tuhan (delusion) bermula dalam berbagai varian.

Bukan PKI satu-satunya musuh agama. Yang secara defacto dan dejure telah dimatikan. PKI hanyalah bagian terkecil dari kaukus produk intelektual dalam bentuk politik merebut rezim. Memfokuskan pada PKI adalah keniscayaan meski tak sepenuhnya benar sebab pada realitasnya PKI justru kerap sebagai takhayul politik. Ibarat memukul angin.

Tapi sikap mendelegitimasi agama dan keberadaan Tuhan itu lebih menakutkan karena massif berjalan. Adalah Richard Dawkins yang menulis tentang God Delusion yang mengkritik banyak agama dan Tuhan dianggap tidak siginifikan bisa mengatur hidup.

***

Lantas bagaimana pula sikap meragukan Tuhan dan agama ini begitu banyak diminati? Semua berpangkal pada Pergerakan agama yang menakutkan diilustrasikan dengan anti kemanusiaan, intoleran, dan merasa paling benar, itu penyebab utamanya.

Kritik atas agama ini memang telah banyak dilakukan. Terutama pada institusi gereja abad tengah. Feurbach, Marx, Gramschy, dan generasi milenial Stephen Hawking dan Richard Dawkins, melakukan kritik atas Tuhan dan agama yang dianggapnya sebagai sumber masalah. Richard Dawkins berkata bahwa semua agama adalah non sens dan gagasan tentang Tuhan adalah tidak masuk akal.

Sebenarnya yang menjadi sasaran kritik adalah pada perilaku menyimpang para pemeluknya dan bukan pada substansi ajaran agamanya, tapi apakah bisa dibedakan antara ajaran agama dengan pemeluknya dalam satu garis demarkasi terpisah?

Argumen yang dibangun Dawkins sangat solid dan kokoh sehingga banyak ilmuwan ‘kepincut’. Meski dengan rendah hati saya berani mengkritik bahwa jika keberadaan Tuhan adalah entitas yang tak bisa dibuktikan secara ilmiah mana mungkin pula ketiadaannya dibuktikan secara ilmiah? Jadi logika Dawkins telah terjatuh pula pada paham Scholastik tentang keberadaan Tuhan.

***

Kemarahan kaum ateis baru (new atheism) ini kalau mau jujur justru dipicu oleh sikap keberagamaan umat Islam yang kian mengeras cenderung kehilangan spiritualitas. Sisi humanitasnya kian menipis dan mengering. Kritik atas agama ini sangat penting bagi para ‘pewaris nabi’ untuk menampilkan wajah agama yang humanis penyayang dan pemaaf, tugas berat ke depan.

Editor: Yusuf R Y

Terkait

Tags: ateispkiTuhan
Previous Post

Dialog Sunyi di Atas Sajadah

Next Post

Toleransi, Membunyikan Al-Qur’an dengan Tindakan

Nurbani Yusuf

Nurbani Yusuf

Komunitas Padhang Makhsyar

Next Post
gerakan hijrah

Toleransi, Membunyikan Al-Qur'an dengan Tindakan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.