Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Melawan Kejokeran Ego

RedaksiKS by RedaksiKS
Oktober 20, 2019
in Report
0
Melawan Kejokeran Ego
58
SHARES
343
VIEWS

Oleh: Mansurni Abadi[1]

Id, Ego, dan Superego berasal dari teori psikoanalisisnya Freud Dan merupakan Salah satu teori yang terus dibahas secara luas. Menurut Freud, 3 elemen inilah yang membentuk pikiran kita. Lalu dari situ berefek pada tindakan kita sehari-sehari. Id adalah bagian Pertama yang mengendalikan kebutuhan dan keinginan bawah sadar manusia, namun Id sendiri merupakan manifestasi dari “otak kadal”, karena di dalamnya ada libido, kebutuhan, keinginan, dan keinginan bawah sadar lainnya yang mendorong kita untuk  bertindak tanpa kendali dan batas.

TulisanTerkait

Proyek Kepemimpinan, Mahasiswa PPG Pendidikan Pancasila A2 FKIP UMS Gelar PELITA di Panti Jompo Aisyiyah Surakarta

Seminar Nasional GANTARI 2026: Regenerasi Pemuda Jadi Kunci Keberlanjutan dan Swasembada Pangan Indonesia

IQT Fair XII 2026 Capai Puncak, Seminar Nasional dan Kajian Akbar Jadi Sorotan

Sementara Ego adalah bagian otak yang rasional dan realistis, dengan kata lain bagian “diri yang sadar”. Bagian ini berusaha untuk menyenangkan segala bentuk dorongan Id dengan cara yang paling mungkin. Pada dasarnya Ego terdiri dari bagian yang terorganisir dari struktur kepribadian yang meliputi fungsi defensif, persepsi, intelektual-kognitif, dan eksekusi. Kesadaran “sadar” berada dalam Ego, meskipun tidak semua operasi Ego itu sadar secara penuh dan seringkali Ego menimbulkan masalah.

Adapun Superego adalah sistem moral yang berjuang untuk kesempurnaan dalam tindakan. Di sini termasuk juga cita-cita Ego individu, tujuan spiritual, dan agensi psikis, umumnya disebut “hati nurani” yang mengkritik dan melarang dorongan, fantasi, perasaan, dan tindakannya. Superego dapat kita  anggap sebagai jenis hati nurani yang menghukum kelakuan buruk dengan perasaan bersalah. Sebagaimana orang tua yang mengendalikan dan memaksa kita untuk bertindak benar.

Kejahatan Ego

Di antara ketiga bagian tersebut yang selalu menjadi pembahasan adalah seputarego. Ada anggapan jika Ego bisa menjadi positif dan negatif bahkan kontruksi sosial saat ini menempatkan Ego dalam deretan kata-kata negatif yang harus dibuang jauh-jauh dari diri kita. Lalu pertanyaannya, benarkah Ego seperti itu? Dan jikalau Ego bisa menjadi jahat, bagaimana mekanismenya sendiri hingga ia menjadi joker bagi diri kita?

Terlalu mengatakan Ego itu sangat berbahaya sebenarnya sama tidak masuk akalnya dengan menyatakan air itu buruk, karena air bisa menenggelamkan, atau api itu buruk, karena api itu bisa membakar. Padahal Ego, air dan api semuanya adalah bagian yang menopang kehidupan, dan mereka hanya menjadi buruk ketika kita salah menggunakannya.

Jika kita membaca kembali literature psikoanalisa pada dasarnya “Ego” (jangan dikelirukan dengan kesombongan) adalah bagian diri yang memuat berbagai dorongan kehidupan, gairah, kegembiraan, pertumbuhan, dorongan, kreativitas, dan keunikan pribadi. Lalu Bagaimana Ego kemudian menjadi jahat?

Ada sebuah Penjelasan menarik dari sudut pandang budaya Timur terutama India dalam “Buku Bahagavad Gita” yang ditulis lebih dari 2000 Tahun lalu konon oleh Khrisna, tentang sebuah konsep psikologis yang disebut “aham” yang sama definisinya dengan Ego yaitu soal ” keakuan”. Dan di dalam kisah klasik ini Ego dipersonafikasikan dengan sosok Khrisna yang didominasi oleh Ego yang baik dan Arjuna yang didominasi oleh pergolakan antara Ego baik dan jahat yang selalu membuatnya berada di posisi yang menderita.

Aham sendiri ditafsirkan sebagai keakuan yang netral yang berada di antara dua posisi, dikontrol dan mengontrol . Namun saat aham ini tidak terkontrol dan kemudian mencemari “chit” , atau pikiran di sinilah akan  terbentuk  dua jenis keakuan baru, yang pertama disebut “ahamkara”, keakuan yang berkata “akulah pelaku segala hal”. Kedua disebut “ahambhava” yang berkata, “Semua hal tersebut terjadi karena aku”, jika kedua keakuan itu muncul maka timbullah apa yang disebut egoisme dan arogansi.

Ahamkara dan ahambhava yang terus dipelihara akan berdampak pada budhi, sisi lain dari diri yang memungkinkan kebijaksaan, sehingga akhirnya kita selalu mengambil keputusan yang salah. Keterjebakan terus menerus pada ahamkara dan ahambhava itulah yang menyebabkan Ego menjadi joker bagi diri kita.

Alkisah Arjuna selalu berada dalam penderitaan, karena pengetahuannya yang terbatas, dan rasa keterpisahannya dengan jiwanya, serta bayang-bayang dari keyakinannya jika dialah pelaku segala tindakan bodohnya. Arjuna sendiri merasa bodoh dan bingung. Kualitas-kualitas ini tercermin dalam penderitaan Arjuna dan keraguan serta kecemasannya ketika sebelum dan sesudahnya berkelahi dengan lawan-lawannya. Sebenarnya penderitaannya adalah penderitaan dari egonya yang terjebak di antara ahambhava dan ahamkara.

Melawan Kejokeran Ego

Ketika kekuatan hasrat sedemikian besar, dan Ego kelimpungan tak berdaya, maka cara mengatasinya yang bisa kita lakukan baik sadar maupun tidak sadar adalah dengan membuat pertimbangan-pertimbangan sederhana yang melibatkan konsep “siapa kuat dia berjaya” atau “atas dasar keadaan darurat-bahaya”.

Sayangnya ini adalah akar yang dapat membentuk “keangkuhan” atau “mementingkan diri sendiri” (egoisme). Dan tentu ini bukanlah sebuah solusi untuk melenyapkan kejokeran Ego justru memunculkan joker-joker yang lainnya. Karena semakin tinggi cara Ego menyelamatkan diri, semakin kuat “keangkuhan” yang diperolehnya sebagai cerminan dari semakin kuatnya dominasi untuk menyelamatkan diri.

Namun jika Semakin lemah Ego, semakin kecil nuansa dominasi. Semakin berkurang pula “keangkuhan” pada diri kita. Ego melemah karena memang dirasa tidak diperlukan pemaksaan (dominasi) untuk mewujudkan nafsu. Nafsu melemah, Ego melemah pula dominasinya terhadap keadaan.

Pasti kita bertanya, bagaimana kalau nafsu memang diperlukan untuk menunjukkan adanya kebutuhan fisik kita, yang berarti memang diperlukan ego dengan dominasinya agar terpenuhi hasrat? Di sini diperlukan adanya  Superego.

Superego memberi masukan pada ego bahwa terjadi nafsu yang berlebihan (tidak pantas). Jadi nafsu yang berlebihan atau tidak pada tempatnya harus jangan dituruti ego, karena hal tersebut sudah masuk kepada kemungkaran. Tapi yang jadi masalah, Ego bisa jadi setuju dan bisa jadi tidak setuju. Jika Ego setuju, maka dia bersedia mengurangi dominasinya (mengurangi keangkuhan), sehingga beberapa nafsu dibatalkan atas dasar pertimbangan oleh Ego yang menutup katup pelampiasan.

Tetapi jika tidak setuju yang mungkin boleh jadi karena pengaruh nafsu sedemikian kuat meskipun ketika Superego telah berhasil menaklukkan Ego, tetapi katup pelampiasan pada ego berhasil dijebol, sehingga terjadilah dominasi Ego untuk mewujudkan hasrat yang tidak pada tempatnya.

Dominasi Ego

Di sini perlu diberitahukan kepada Superego suatu cara untuk mengekang Id (hasrat) di satu sisi dan memaksa Ego di sisi lain, agar keduanya, Ego dan Id dapat membentuk perilaku yang baik sesuai dengan ajaran yang diyakini oleh Superego (yang diperoleh dari kitab suci, ajaran norma-norma etika kemasyarakatan dan lainnya).

Salah satu cara mengurangi pertimbangan Ego yang cenderung mendominasi keadaan yang dapat menimbulkan keangkuhan, yaitu dengan mempelajari cara-cara mengurangi pengaruh nafsu, yang secara otomatis akan diserap oleh Superego sebagai suatu cara, sehingga kelak dapat dipakai oleh Superego dalam mempengaruhi Ego.

Kelak, ketika terjadi pertarungan antara Id dan Superego, maka Superego dapat mengingatkan Ego tentang cara mengurangi pengaruh dari Id tanpa dianggap membahayakan diri sendiri, sehingga Ego bersedia melakukannya, dan terjadilah “pengurangan pengaruh hasrat”. Konsekuensinya, umpan baliknya, Ego tidak perlu memaksa keadaan dengan dominasinya agar terpenuhi hasrat, melainkan justru mengurangi dominasinya yang berarti berkuranglah keangkuhan.[]

[1]Mahasiswa Jurusan Antropologi di Murdoch University Australia dan Aktif di World Literacy Foundation Australia

Terkait

Previous Post

Mencoba Mendamaikan Masa Lalu

Next Post

Pidato Pertama Jokowi Setelah Dilantik: Inovasi adalah Budaya

RedaksiKS

RedaksiKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
Pidato Pertama Jokowi Setelah Dilantik: Inovasi adalah Budaya

Pidato Pertama Jokowi Setelah Dilantik: Inovasi adalah Budaya

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.