Pada tanggal 24 Mei besok, umat Islam akan merayakan hari raya Idul Fitri. Hari raya tahunan yang selebrasinya begitu meriah, karena diiringi dengan janji-janji Allah berupa kabar gembira, sekaligus diiringi oleh hal yang sangat disukai oleh masyarakat Indonesia: liburan!
Meskipun lebaran tahun ini berbeda, namun akan tetap ada substansi nilai lebaran yang sama, dan sepertinya masih akan tetap bertahan selama beberapa dekade ke depan. Yaitu nilai-nilai saling meminta dan memberi maaf. Maaf yang diberikan dari orang ke orang pada hari lebaran tersebut sangat banyak dan melimpah, bahkan bisa jadi lebih banyak dari hidangan yang disuguhkan kepada tamu yang berkunjung. Namun, ada beberapa hal yang harus diperbaiki dari permintaan dan pemberitaan maaf tersebut.
Pertama, orang Indonesia yang merayakan hari raya lebaran, jarang menyebutkan kesalahan yang ia lakukan untuk dimintakan maaf. Dalam berbagai pengajian, seminar, rapat, atau hal-hal formal apapun, orang biasanya akan mengatakan “mohon maaf jika ada kesalahan”. Artinya, ia tidak benar-benar mengakui kesalahan yang ada.
Baca juga: Media Hiburan sebagai Industri Kreatif Milenial
Begitu pula dalam momen lebaran ini. Masyarakat Jawa biasanya akan mengatakan “nyuwun pangapunten sedoyo kalepatan kulo” yang artinya kurang lebih “mohon maaf atas semua kesalahan saya”. Ada juga yang menggunakan “nyuwun pangapunten menawi wonten kalepatan” yang artinya “mohon maaf jika ada kesalahan”.
Kedua, masyarakat Indonesia sering menyandarkan kesalahan yang ia lakukan kepada hal-hal diluar dirinya. Misalnya, ketika seseorang terlambat datang kenyataan acara karena hujan, ia biasa mengatakan “maaf, saya terlambat karena hujan”. Ia tidak mengakui bahwa kesalahan itu datang dari dirinya, melainkan dari hujan. Yang salah adalah hujan, bukan dirinya. Padahal, manusia diberikan akal untuk mengantisipasi kejadian alam. Misalnya dengan datang terlebih dahulu sebelum turun hujan, menggunakan payung, menggunakan jas hujan, atau yang lainnya. Ia tidak mengatakan “maaf saya terlambat karena hujan dan saya tidak mau menggunakan jas hujan. Jadi saya salah karena saya enggan memakai jas hujan” misalnya.
Dalam konteks seperti ini, ia tidak merasa benar-benar bersalah, karena yang salah adalah hujan dan hal lain diluar dirinya.
Konsep Selamat
Ada strategi menarik dari Peace Generation untuk meminta maaf secara powerful dan impactful. Mereka menyebutnya dengan “Selamat”. Selamat adalah kependekan dari Selalu berdoa dulu, Akui kesalahan, Minta maaf, Akibat diterima, Ampunan dimohonkan, dan Tindakan diubah. Mari kita ulas satu-persatu.
“Selalu berdoa dulu” sudah bukan hal yang asing bagi umat Islam. Sebelum meminta maaf, alangkah baiknya kita berdoa kepada Allah agar proses meminta maaf tersebut menjadi lancar. Setelah itu, langkah “Akui kesalahan” menjadi hal yang penting.
Sebagaimana yang telah diulas di atas, masyarakat di Indonesia masih belum maksimal dalam “mengakui kesalahan”. Ia masih suka menyandarkan kesalahan terhadap hal-hal diluar dirinya. Maka, mengakui kesalahan yang ia lakukan sendiri, dan menyandarkan kesalahan tersebut kepada dirinya sendiri, merupakan suatu hal yang sangat penting untuk dilakukan.
Tentu efek yang akan dirasakan sangat berbeda. Misalnya ketika suatu waktu seorang anak pernah marah-marah terhadap bapaknya. Kemudian ketika lebaran ia hanya meminta maaf dengan diksi “jika ada kesalahan” saja, maka peristiwa marah-marah tersebut tidak dapat dipeluk secara damai oleh kedua belah pihak. Akan berbeda ceritanya ketika sang anak berkata “bapak, saya minta maaf karena dulu saya pernah marah sama bapak. Waktu itu saya tidak bisa mengontrol emosi dengan baik. Mohon dimaafkan dengan setulus hati”.
****
Jika peristiwa itu disebutkan, maka akan terjadi pembahasan. Jika pembahasan dilakukan dalam suasana lebaran demikian, peristiwa itu akan dimaafkan dan dikenang sebagai pembelajaran untuk menjadi lebih baik. Satu pihak “meminta maaf” dan pihak lain memberikan maaf. Indah bukan main.
Setelah “meminta maaf”, maka langkah selanjutnya adalah “akibat diterima”. Berarti menerima akibat atau konsekuensi apa yang akan diminta oleh si pemberi maaf. Jika orang yang memberikan maaf mensyaratkan akan memberi maaf jika yang meminta maaf melakukan sesuatu terlebih dahulu, maka hal itu harus di penuhi.
“Ampunan dimohonkan” berarti maaf yang diminta sudah diberikan. Tinggal menyelesaikan langkah terakhir yaitu “tindakan diubah”. Eric Lincoln, co-founder Peace Generation, dalam sebuah diskusi daring mengatakan: “jangan pernah meminta maaf jika ada niat untuk mengulangi kesalahan. Ketika kita meminta maaf, maka harus diniatkan untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama setelah itu”.
Dengan cara “Selamat” itu, semoga permohonan maaf yang akan kita ajukan kepada orang sekitar di lebaran nanti menjadi impactful dan powerful. Semoga permohonan maaf dan pemberian maaf yang akan kita lakukan juga tidak sekedar gimmick dan formalitas untuk menghormati budaya semata. Namun benar-benar datang dari hati yang tulus untuk saling memperbaiki kehidupan yang akan datang. Terakhir, mohon maaf atas tulisan saya yang masih amburadul ini. Ini murni kesalahan saya yang kurang pandai mengolah kata. Wallahu a’lam.