Generasi Millenial, mendengar istilah itu -tentunya kita tidak asing dengan image instan, dan cendrung tergesa-gesa. Tetapi di balik itu semua justru hal itulah (industri) kekuatan terbesar serta peluang untuk menggerakkan roda prekonomian. Pendidikan dan segala aspek peradaban lainnya dalam beberapa tahun mendatang yang dikembangkan melalui industri kreatif.
Sederhananya industri kreatif merupakan industri yang menenggelamkan roda prekonomian lainnya. Hal ini karena Generasi millenial berbeda dengan generasi sebelumnya, Generasi baby boomer –yang masih berkutat pada tiga aspek dasar pemenuhan kebutuhan; sandang, pangan dan papan.
Maka wajar jika banyak dari orang tua kita yang membandingkan betapa sulitnya mereka dahulu mendapatkan sesuap nasi. Bahkan untuk menempuh Pendidikan saja butuh perjalanan belasan kilometer. Seiring bertukarnya zaman Generasi millenial tidak lagi berkutat pada hal itu.
Hiburan: Komoditi Manusia Modern
Sebab tiga aspek dasar tersebut telah terpenuhi. Maka muncullah fakta baru bahwa hari ini tidak ada yang mati karna kelaparan. Tetapi manusia hari ini bisa mati karena stres berlebihan sebab tidak adanya hiburan.
Kemoderenan telah menggeser kebutuhan primer manusia –hiburan menjadi komoditi utama manusia modern, maka hari ini kita memasuki era baru kehidupan manusia– tentunya sebagai generasi millenial yang hidup di dalamnya. Yang mana situasi ini menciptakan banyak pilihan dilematis; menjadi penikmat atau penggerak, ikut arus atau justru menciptakaan arus.
Baca Juga: Noorhaidi Hasan: Anak Muda & Gerakan Hijrah Politis
Untuk menentuan pilihan itu maka sebaiknya kita berangkat dari pertanyaan paling dasar, apa itu industri kreatif ? Industri kreatif adalah industri yang sebelumnya dianggap sebagai kebutuhan paling sekunder dari manusia yaitu hiburan sebagai generasi 90-an.
Hiburan di Era 90-an
Tentunya kita merasakan dulu saat masih kecil, waktu terbaik kita adalah hari minggu. Hari libur itu begitu dinanti, sebab dari pagi sampai siang, beberapa acara televisi menayangkan kartun favorit ala 90-an. Dragon ball, Tamia, Naruto dan beberapa kartun lainnya. Yang penulis tekankan adalah, bagaimana acara dan serial kartun itu dapat merubah banyak sekali aspek pradaban: ekonomi dan Pendidikan misalnya.
Ekonomi; disadari atau tidak beberapa tokoh animasi telah memberikan peluang ekonomi yang besar untuk pedagang kecil. Ini bisa dilihat banyaknya anak-anak kecil yang mengerumuni pedagang lotre dengan iming-iming mainan berupa salah-satu karakter kartun.
****
Tidak cukup sampai di situ kemasan jajan yang menampilkan tokoh-tokoh kartun laris manis saat itu,–kita lebih memilih aspek rekreatif dan imajinatif dari gambar yang ada di jajanan itu– secara tidak sadar mengabaikan rasa dari jajan itu sendiri.
Pendidikan: Banyak dari kita, mendadak menjadi cosplay gadungan, rambut jabrik belakang khas salah-satu tokoh anime menjadi definisi keren tersendiri. Banyak dari kita yang memilih tidak ikut upacara karena takut rambutnya di potong.
Hal itu secara psikologis memupuk perlawanan-perlawanan kecil terhadap guru. Maka tidak heran jika anak millenial cendrung berani melawan –dalam konotasi yang cendrung negatif.
Industri Kreatif Modern
Jika dikaji ulang bukankah hal inilah yang masif ditanam dan diperjualbelikan hari ini? Korea, Amerika dan Jepang misalnya. Korea; mungkin kita tidak asing dengan budaya K-Pop-nya, bahkan salah satu boyband mereka –BTS- telah mengerakkan ekonomi negara itu secara massif. Pariwisata yang secara signifikan naik, produk kosmetik yang laris-manis, bahkan sampai pada aspek budaya kekorea-koreaan yang menjalar ke seluruh dunia.
Begitu juga dengan Amerika, betapa tidak negara adidaya yang telah banyak merugikan negara lain ini berhasil menciptakan citra positif di mata dunia melalui karakter Marvel ataupun DC. Jepang, sebagai negara industri –ada rasa cemburu yang cukup besar, sebab mereka yang memproduksi ratusan kulkas.
Baca Juga: Sejarah Perjumpaan Islam-Kristen: Titik Temu dan Titik Seteru
Keuntungan yang dihasilkan tidak lebih banyak dari film Titanic. Berangkat dari hal itulah mereka mulai membuat banyak karakter imajinatif; ultraman, powerrager, anime dll. Diproduksi secara masif dan boom, dari pendapatan anime dan segala pernak-perniknya jumlahnya setara dengan 70 persen pendapatan penduduk kita di Indonesia hari ini.
Perlu Adanya Apresiasi
Lalu bagaimana dengan Indonesia? Maka di sinilah kita dapat melihat peluang yang besar, dalam beberapa tahun belakangan generasi muda millenial banyak mengambil peran mandiri dalam industri kreatif.
Ada banyak karakter kartun yang lahir dari tangan-tangan kreatif anak-anak muda. Tetapi muncul pertanyaan pentingnya, mengapa industri kreatif kita tidak mengalami kemajuan yang signifikan seperti halnya tiga negara di atas? Hanya satu jawabannya: Apresiasi.
Budaya K-Pop, tidak terjadi karena adanya faktor kebetulan, tetapi adanya apresiasi yang diciptakan dengan sengaja oleh pemerintahan Korea itu sendiri. Dan wajar mereka mendapatkan kesempatan untuk berbicara masalah kemanusiaan di salah-satu forum PBB, wong mereka medapat dukungan langsung dari pakdhe Ban Ki-moon (sekretaris jendral PBB) yang notabenya Korean tulen.
****
Begitu juga dengan amerika, hal inilah yang belum terjadi di negara kita hari ini, industri kreatif masih di pandang sebelah mata. Kurangnya apresiasi dari pemerintah dan masyarakat, menjadikan insan kreatif terseok-seok dalam berkarya.
Bahkan kabar buruknya beberapa insan kreatif memberhentikan produksi film, anime dan proses kreatif lainnya. Karena tidak adanya dana yang memadai serta dukungan yang kecil dari pemerintah dan masyarakat.
Tantangan Menjadi Peluang
Maka inilah waktunya kita bahu-membahu memberikan apresiasi terbaik untuk generasi millennial. Dengan apresiasi yang masif kita tidak lagi hanya menjadi market yang menggiurkan Tetapi kedepannya jika kita fokus dengan industri kreatif, negara kita mempunyai kapasitas bersaing bahkan dapat melampaui negara-negara digdaya.
Baca Juga: K.H Yusuf Hasyim: Ijtihad Menyatukan NU-Muhammadiyah dalam Bingkai Keindonesiaan
Bukan hanya hal itu, –selayaknya sunan Kalijaga– kita bisa menjadikan industri kreatif untuk menanamkan pesan kebaikan. Cobalah kita berimajinasi sedikit, jika saja kita bangun dulu saat kecil kita dapati kartun-kartun yang kita tonton adalah gatotkaca yang baik hati, semar yang akhlak-nya baik. Bagaimana sekarang kita tumbuh? Kita tentunya tumbuh sebagai generasi intelektual yang sopan.
Industri kreatif adalah wayang. Kita pakai untuk mendakwahkan kebaikan, menyampaikan pesan kebaikan dengan cara yang menyenangkan, bukankah hal itu membahagiakan? Tahniah anak muda.
Editor: Dartim I.R.