Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Pesan Buya Syafii Hadapi Covid-19

Erik Tauvani by Erik Tauvani
Maret 27, 2020
in Narasi
0
Buya Syafii Maarif
20
SHARES
118
VIEWS

Selama covid-19 masih lagi mewabah di bumi yang indah nan elok ini, khususnya di Indonesia, Buya Syafii Maarif memilih untuk tidak ke mana-mana, tetap di rumah saja dan menjaga kesehatan jasmani rohani. Ini sesuai dengan arahan pemerintah, tim medis, para pakar, dan maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Buya belum lagi bisa menerima tamu sampai keadaan pulih kembali. Kita semua sama-sama saling mengerti dan menjaga sekaligus berupaya memutus rantai penularan virus ini demi keselamatan bersama. Menolak mudarat, dalam kaidah fikih, lebih didahulukan dari pada mengambil manfaat.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

baca juga: Islam Jawa Islam Jabbariyah

21 Maret 2020 pagi sekitar pukul 07.50, saya menyapa Buya via telepon untuk menanyakan kabar. Alhamdulillah Buya dalam keadaan baik. Buya berpesan agar tetap waspada dan awas, namun jangan panik. Tetap di rumah saja. Jika tidak penting sekali, tidak perlu keluar rumah. Jangan berkerumun. Shalat lima waktu pun di rumah saja. Jaga kebersihan badan dan lingkungan. Jaga kesehatan jasmani dan rohani.

Aktifitas Buya selama dalam masa isolasi mandiri ini masih seperti di hari-hari biasa saat keadaan masih normal. Membaca, menulis, bersih-bersih rumah, mencuci pakaian, dan menyirami tanaman. Sebagian pekerjaan rumah tangga kadang dilakukan secara mandiri untuk meringankan beban sang istri. Bersepeda keliling kampung sebagai olah raga Buya sehari-hari, diistirahatkan dulu sampai situasi normal kembali. Prinsipnya, seperti yang pernah Buya sampaikan, otak jangan dibiarkan menganggur, badan jangan dimanjakan.

Bagi si kreatif, rumah pun bisa menjadi tempat orang tetap produktif. Melalui tangan dingin seorang Buya, rumah adalah tempat di mana ia menghasilkan banyak karya tulis yang bernas dari hasil bacaan dan olah pikir yang mendalam. Baginya, isolasi mandiri bukan alasan untuk berdiam diri dan berpangku tangan. Justru ini menjadi peluang untuk banyak membaca, menulis, dan merenung. Tentu masih banyak lagi aktifitas positif dan produktif di dalam rumah yang bisa dilakukan di samping kewajiban kerja dari rumah.

Dalam situasi seperti saat ini, Buya memberi imbauan:

Dari analisis para pakar, wabah covid-19 pasti akan berlalu, asal kita semua mau mendisiplinkan diri untuk tidak keluar rumah, jika tidak sangat penting. Wabah yang telah membunuh umat manusia dalam jumlah jutaan bukanlah masalah baru, tapi sudah pernah melanda dunia jauh sebelum abad modern. Oleh sebab itu, demi menjaga kelangsungan hidup kita semua, semangat solidaritas sosial dan saling membantu perlu selalu diingatkan. Kita tidak mungkin hidup sendirian di muka bumi, kita memerlukan orang lain. Tanpa orang lain, kita tidak punya arti apa-apa.

Beberapa pakar dan tim medis yang berjuang keras pun tidak kebal dari wabah ini. Kepada mereka, Buya menyampaikan rasa hormat dan penghargaan yang amat tinggi. Kita semua bisa membantu perjuangan mereka dengan mendisiplinkan diri dan mengindahkan semua arahan pemerintah, tim medis, dan para pakar.

baca juga: Said Aqil & Ma’rifat Hasyim Asy’ari tentang Khilafah

Jangan hanya pasrah namun bandel. Ini bukan hanya persoalan pribadi, tapi menyangkut kelangsungan hidup banyak orang. Ikhtiar dan tawakal adalah satu kesatuan sebagai ajaran agama yang harus ditempuh. Memisahkan ikhtiar dan tawakal atau memilih salah satunya sama saja menghianati ajaran agama itu sendiri.

Akhirnya, kata Buya:

Info tentang covid-19 begitu masif disiarkan melalui media cetak, TV, dan medsos, namun peringatan agar tetap waspada dan tidak panik kurang begitu diacuhkan publik. Tetapi bukankah akan lebih baik kita mau merenung untuk meningkatkan stamina spiritual kita agar terlihat jelas keterbatasan manusia dalam memecahkan masalah-masalah hidupnya. Teknologi kedokteran semakin canggih, tetapi jenis penyakit pun tidak mau kalah. Inilah dunia tempat kita bermukim sementara untuk kita pelihara bersama, bukan untuk ditaklukkan.

Semoga wabah covid-19 ini segera berlalu. Kita semua tentu merindukan shalat berjama’ah di masjid, sekolah, kuliah, dan momen kebersamaan lainnya dengan perasaan aman, damai, tanpa rasa was-was. Tapi semuanya kembali pada diri kita sendiri. Jika arahan pemerintah, tim medis, dan para pakar diindahkan, insyaallah momen kebersamaan itu bisa pulih lebih cepat. Wallahu a’lam.

Terkait

Tags: Buya SyafiiCoronacovid-19wabah
Previous Post

Islam Jawa Islam Jabbariyah

Next Post

Toleransi Bukan “Pluralisme Agama”

Erik Tauvani

Erik Tauvani

Next Post
agama

Toleransi Bukan "Pluralisme Agama"

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.