Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Bahaya “Hoax” Bencana Corona

Arif Saifudin Yudistira by Arif Saifudin Yudistira
April 24, 2020
in Narasi
1
Saya ingat saat gempa Yogyakarta di tahun 2006. Ada kabar hoax yang disebarkan begitu cepat. Baik melalui kabar lisan maupun melalui handphone.

Saya ingat saat gempa Yogyakarta di tahun 2006. Ada kabar hoax yang disebarkan begitu cepat. Baik melalui kabar lisan maupun melalui handphone.

24
SHARES
139
VIEWS

Saya ingat saat gempa Yogyakarta di tahun 2006. Ada kabar hoax yang disebarkan begitu cepat. Baik melalui kabar lisan maupun melalui handphone. Klaten, daerah saya adalah daerah terparah saat gempa terjadi. Panik, dan bingung hendak mau kemana.

Itulah perasaan kami saat bencana alam itu terjadi. Saat hendak mengungsi ke arah utara, ada kabar kalau merapi meletus. Saat hendak ke selatan, kami dikabarkan air tsunami sudah sampai Prambanan.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Kabar hoax memang amat sangat membahayakan. Apalagi saat didengungkan di tengah bencana. Orang cenderung panik, bingung hendak kemana saat mereka mengalami bencana alam. Berita bohong tersebut bukan hanya memecah konsentrasi di tengah situasi trauma, rasa sakit karena kehilangan dan banyak hal perasaan lain.

Bencana Informasi

Orang penyebar berita bohong tidak pernah berfikir sejauh itu efek dari berita yang dikabarkan. Mereka, cenderung berbuat kisruh, dan kekacauan tanpa menimbang akibat dari informasi yang salah itu.

Era informasi saat ini membawa dua hal penting dalam peristiwa bencana. Pertama, merebaknya informasi yang cepat tentang bencana itu membuat banyak orang dalam waktu cepat untuk berbuat sesuatu, dan saling membantu. Apalagi di tengah negara besar seperti Indonesia.

Di kala gempa di Klaten dan DIY dulu, orang berbondong-bondong mengirim bantuan bahkan H+3 setelah bencana terjadi. Berbagai daerah Se-indonesia begitu cepat datang membantu mengirimkan bantuan berupa makanan, alat kesehatan, dan sebagainya.

Saat muncul bencana wabah virus Corona, di negeri kita pun banyak bertebaran hoax di sana-sini. Tidak hanya hoax tentang jumlah pasien dan korbannya, tapi juga hoax mengenai obat-obatannya.

Bagaimana mungkin Virus Corona bisa diatasi dengan masturbasi yang konon bisa memperkuat kekebalan terhadap virus. Anehnya berita online seperti itu telah dilike dan dishare ribuan kali dalam beberapa menit. Di sisi lain, berita hoax itu pun dibuat untuk memancing klik dan memancing orang yang membaca terpacu untuk membagikan berita tersebut.

Literasi Digital

Kegagapan dan kealpaan kita mencerap segala informasi yang masuk di handphone kita sering tidak dibarengi dengan kemampuan dalam “melek” literasi digital.

Heboh berita Corona dan cara pencegahannya pun dimanfaatkan oleh para pebisnis digital untuk mendulang pundi-pundi uang dari berita hoax yang diproduksi. Himbauan untuk menjauhi tempat-tempat ramai dan kerumunan pun dimanfaatkan sedemikian rupa. Malah ada yang menyebar informasi kalau jamaah sholat disarankan untuk ditiadakan sementara.

Informasi seperti itu sebenarnya muncul dari ketidaksigapan pemerintah untuk mengkarantina korban yang terindikasi terkena virus Corona. Cara ini cenderung dianggap sebagai cara yang ngawur dari pemerintah Indonesia. Mengingat pemerintah negara lain justru membuat isolasi para terindikasi virus Corona.

baca juga: Haedar Nashir: Esensi Puasa itu Mengekang Hawa Nafsu

Anehnya, hoax tentang Corona ini tidak mengatasi sama sekali upaya pencegahan maupun penanganan yang cepat menghadapi para korban virus Corona. Dan masyarakat kita semakin panik dan takut saat tiba-tiba virus Corona mendekat dalam waktu yang cepat di sekitar kita.

Hoax Memunculkan Kegaduhan

Hoax virus Corona memang perlu diberangus dan dimusnahkan. Pasalnya, hoax justru menambah kericuhan dan keruwetan di tengah gagapnya pemerintah dalam menangani Corona. Penting sekali belajar dari Cina yang dalam waktu yang cenderung cukup singkat berhasil menangani dan mengatasi para korban virus ini yang dalam angka ribuan tinggal enam sampai sepuluh orang.

Berita bohong telah melumpuhkan kesadaran kita dan membunuh nurani kita. Ada baiknya setiap diri menahan untuk berhati-hati dan terus waspada terhadap setiap informasi dan berita yang masuk ke layar ponsel kita tentang Corona.

Sebelum kita terlanjur sharing, ada baiknya kita perlu menyaring. Inilah pentingnya pendidikan literasi digital yang cenderung banyak diabaikan. Terlebih dalam Islam, kebohongan adalah hal yang dibenci dan dilarang Tuhan.

Terkait

Tags: bencanaCoronaHoax
Previous Post

Virus Corona dan Ikhtiar Melawan Hub ad-Dunya

Next Post

Agus Taufiqurrahman: Memandang Corona Secara Teologi

Arif Saifudin Yudistira

Arif Saifudin Yudistira

Kepala Sekolah Smk CITRA MEDIKA (2018-2019), Tuan Rumah Pondok Filsafat Solo, Penulis Buku Mendidik Anak-Anak Berbahaya (2020), pegiat Sarekat Taman Pustaka Muhammadiyah.

Next Post
dr Agus Taufiqurrahman, dokter ahli saraf sekaligus Ketua PP Muhammadiyah. hadir mewakili PP Muhammadiyah

Agus Taufiqurrahman: Memandang Corona Secara Teologi

Comments 1

  1. dancuk says:
    7 tahun ago

    saya kira china succes itu hanya Propaganda saja, Bio Warfare belum selesai, ingat dalam perang tersebut belum ada yang kalah, bahkan yang menang. masih berlanjut sampai ada yang hancur, toh jurnalis US yang meliput Corona bertanya tentang jumlah korban digamprat lansung sama kementrian kesehatan China, tingkat konsentrasi tinggi abu pembakaran mayat yg terlihat satelitpun itu fakta kalo korban lebih banyak dari data pemerintah china.

    apa yang harus dilakukan : Pemerintah perlu transparan informasi dalam masalah ini, selama ini pemerintah menutup akses sebaran virus dll. gimana bisa dicegah dan masyarakat waspada sedangkan daerah endemik suspect saja ndak dibuka, bahkan tidak diberlakukan Lock Down sama sekali.

    apa perlu suspect dan korban hasil quick count dan real count :v hahahaha….

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.