Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Islam: Agama Hijau

Arif Saifudin Yudistira by Arif Saifudin Yudistira
Juni 7, 2020
in Ulûm ad-Dîn
0
Islam: Agama Hijau
21
SHARES
123
VIEWS

Islam tidak hanya dimaknai sebagai sebuah aturan, kaidah-kaidah. Islam juga merupakan tuntunan, ia adalah jalan. Dalam Islam, ada rambu-rambu, ada pedoman, ada tapal batas. Karena itulah di Surah Ar-Rohman, Tuhan sering menyeru soal “batas”. Allah telah menentukan timbangan, dan jangan melampauinya.

Pada surat yang penuh kasih itu, digambarkan pula tentang pepohonan, tumbuh-tumbuhan, dan aneka yang tumbuh dari bumi dan mencukupi manusia. Semua yang ada di bumi itu disediakan untuk manusia.

TulisanTerkait

Rausyanfikr di Era Digital: Membaca Peran Intelektual Muda melalui Pemikiran Ali Syariati

Membaca Gaya Hidup Generasi Digital melalui Perspektif Jean Baudrillard

Fiqh Al-Rahmah dalam Krisis Empati: Filantropi Islam sebagai Jalan Kepemimpinan Transformatif

Karena itulah Tuhan menyeru, “Nikmat-Ku yang mana lagi yang engkau dustakan?”. Sebagai khalifah, atau pemimpin, manusia memiliki tanggungjawab besar terhadap bumi dan kelangsungan hidupnya.

Di tangan manusia pula, bumi ini akan terjaga, dan lestari atau sebaliknya. Dalam kitabullah, Al-qur’anul karim, Tuhan menyeru: “ Sesungguhnya telah nampak kerusakan di darat dan di laut akibat tangan atau ulah manusia (Ar-Rum ayat 41). Surah ini menandakan kepedulian islam terhadap bumi ini.

***

Sebagai—kepingan surga yang dihadirkan di bumi— begitu Cak Nun menyebut, kita diberi tanggungjawab untuk mengolah, mengelola, dan juga menggunakan ala mini, untuk kebutuhan kita. Sayang sekali, akibat keserakahan, ketamakan, manusia kemudian membuat darat ataupun lautan kita menjadi rusak. Bentuk-bentuk kerusakan itu telah nampak nyata.

Di lautan kita, sampah-sampah yang dibawa dari sungai-sungai itu, bukan hanya mengotori laut, tetapi telah menghancurkan ekosistem laut kita. Tambang batubara telah terbukti mengotori dan meracuni makhluk hidup yang ada di laut kita.

Hewan-hewan itu pun mati mengapung di lautan kita. Mereka menepi, tersert ombak dan membuka mata kita, betapa sampah plastik telah membunuh makhluk-makhluk ini.

Baca Juga: Rasisme dan Xenophobia: Yang Tidak Disadari dari Virus Corona

Indonesia dalam catatan Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik mencatat sampah plastik di Indonesia terbesar nomor dua di dunia. Dalam setahun mencapai 64 juta ton, dimana sebanyak 3,2 juta ton merupakan sampah plastic yang dibuang ke laut.

Fenomena ini mendedah kenyataan bahwa adab dan kepedulian kita terhadap lingkungan masih teramat buruk. Di jalan-jalan tuan dan puan bisa melihat bagaiman punting rokok dilempar begitu saja seolah jalanan adalah asbak.

Beragama dengan Perhatian Alam

Belum lagi saat melihat pengendara motor maupun mobil yang membawa makanan berkantong plastik, makan di jalan dengan enaknya, lalu membuang ke tengah jalan. Seolah jalanan adalah tempat sampah.

Saya menduga, hanya di Indonesia jalan tol ada petugas kebersihannya yang setiap hari menyapu jalanan tol kita. Sebenarnya, aturan tentang larangan membuang sampah sembarangan saat berkendara sudah ada yakni di UU no 3 tahun 2013 tentang lalu pengelolaan sampah.

Pada pasal 126 pin H disebutkan setiap orang dilarang membuang sampah dari kendaraan. Pada pasal 130 poin c disebutkan setiap orang yang sengajar atau terbukti membuang sampah dari kendaraan, dikenakan uang paksa paling banyak Rp. 500.000. Sayang sekali penindakan terhadap pelaku pelanggaran ini masih teramat minim.

Sebagai sebuah masyarakat atau kelompok mayoritas, tentu saja kita harus malu mengapa umat Islam belum banyak memiliki kesadaran tentang kepedulian terhadap alam kita. Kebakaran hutan, kasus lumpur lapindo, serta kasus laut kita yang tercemar sampah adalah bukti bahwa ketamakan kita mengalahkan kepedulian kita.

Pembangunan cenderung mengabaikan factor lingkungan sehingga modal (capital) menjadi hal yang utama ketimbang mempertimbangkan nasib bumi ini ke depan. Deforestasi yang dilakukan di hutan Sumatera dan Kalimantan tidak lain adalah untuk kepentingan industri kelapa sawit.

Baca Juga: Ternyata Pancasila Sesuai Dengan Konsep “Umatan Washata”

Kasus Lapindo yang berupaya memperluas sektor tambang yang justru mengakibatkan semburan lumpur lapindo menandakan betapa tamak dan serakahnya kita. Begitu pula tumpukan sampah di laut ikut menunjukkan betapa tidak pedulinya kita terhadap ekosistem laut.

Kampanye Perlindungan Alam

Apa yang disuarakan oleh Greta Thunberg, aktifis lingkungan asal Swedia yang menyerukan kampanye terhadap perubahan iklim dengan melakukan gerakan mogok sekolah adalah seruan keras betapa bumi kita sudah mulai mengalami krisis lingkungan yang teramat parah. Aeshnina Azzahra, pelajar SMP N 12 Gresik adalah pegiat lingkungan cilik asal Surabaya yang terinspirasi dari Greta Thunberg.

Ia menyurati kepada kanselir Jerman Angela Merkel dan Donald Trump. Nina mengatakan Indonesia sudah hampir 40 tahun menjadi tempat pembuangan sampah bagi negara barat (Detik, 22 Januari 2020).

Pelajaran mencintai kebersihan dan juga hadist tentang perlunya menjaga lingkungan perlu dibumikan kembali di kalangan sekolah Islam. Dalam sebuah hadis riwayat Ibnu Majah, Rasul bersabda “ barang siapa yang mengeluarkan kotoran atau sampah dari masjid, maka Allah akan membangun rumah baginya di surga”.

***

Dalam Quran Surah Al-Baqarah ayat 222 Allah berfirman “ Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang selalu bertaubat dan mencintai orang-orang yang selalu bersih bersuci (Faridl, Miftah, 1985 :11).

Orang jawa memiliki pitutur (nasihat) yang cukup apik perihal menjaga lingkungan. Sapa sing nandur bakale ngunduh (Siapa yang menanam, akan memetik hasilnya). Pada dasarnya, bencana banjir yang terjadi di Indonesia adalah hasil dari membuang sampah sembarangan. Saat musibah itu terjadi, barulah kita sedikit sadar dan terpukul.

Baca Juga: Virus Corona, Ujian Bagi Kementerian Kesehatan

Sebaliknya, bila kita menjaga lingkungan kita dan merawatnya, tentu lingkungan tersebut akan ikut pula menjaga kita manusianya dari bencana. Islam pada dasarnya telah memiliki pijakan dan ajaran dalam menjaga bumi ini. Bila umat Islam mengabaikan hal ini, tentu bumi pun akan murka dengan caranya.

Sumber Ilustrasi: maulatv.vidio.com

Terkait

Tags: alamIslamLingkungan
Previous Post

Rasisme dan Xenophobia: Yang Tidak Disadari dari Virus Corona

Next Post

Pidato Prof. Haedar Nashir dalam KUII: Strategi Perjuangan Umat

Arif Saifudin Yudistira

Arif Saifudin Yudistira

Kepala Sekolah Smk CITRA MEDIKA (2018-2019), Tuan Rumah Pondok Filsafat Solo, Penulis Buku Mendidik Anak-Anak Berbahaya (2020), pegiat Sarekat Taman Pustaka Muhammadiyah.

Next Post
Strategi Perjuangan Umat Islam Indonesia Maju, Adil, dan Berkeadaban adalah judul makalah Haedar Nashir di KUII (Kongres Umat Islam Indonesia)

Pidato Prof. Haedar Nashir dalam KUII: Strategi Perjuangan Umat

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.