Oleh:Wildan Ahsan Zufar
Siapa di antara kita yang pernah membandingkan diri dengan orang lain? Siapa yang pernah menjadi objek perbandingan dengan orang lain? Pasti semua orang ramai akan beramai-ramai untuk mengangkat tangannya, lalu mengatakan, “Saya!”. Ya, saya juga pasti akan mengangkat tangan bila ditanya hal tersebut karena pernah melakukannya. Sejatinya, kita semua pernah membandingkan diri, karena menurut teori perbandingan sosial itu manusia selalu membutuhkan yang namanya evaluasi.
Pengenalan Perbandingan Sosial
Perbandingan sosial adalah sebuah proses psikologis di mana individu menilai diri mereka sendiri dengan membandingkan kondisi, kemampuan, atau pendapat mereka dengan orang lain. Konsep ini pertama kali diusulkan oleh Leon Festinger pada tahun 1954 dalam teorinya yang dikenal sebagai Social Comparison Theory.
Menurut Festinger, perbandingan sosial adalah kebutuhan dasar manusia untuk mengevaluasi diri mereka, baik secara fisik, emosional, maupun sosial. Dalam upayanya untuk memperoleh penilaian yang lebih objektif mengenai diri sendiri, individu cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain yang memiliki standar atau kondisi serupa.
Menurut Festinger (1954), ada dua alasan utama mengapa individu melakukan perbandingan sosial: pertama, untuk memperoleh informasi yang lebih akurat mengenai kemampuan atau nilai diri mereka; dan kedua, untuk meningkatkan atau mempertahankan harga diri mereka. Dalam konteks ini, perbandingan sosial menjadi alat evaluasi yang sangat penting bagi individu untuk memahami posisi mereka dalam kelompok sosial mereka.
Perbandingan sosial di era digital
Di Tengah derasnya arus informasi dan visual di media sosial, kita sering kali terjebak dalam kebiasaan yang tampak sepele namun berdampak besar yaitu membandingkan hidup kita dengan kehidupan orang lain yang kita lihat di layar sosial media. Dalam sekali geser layar, kita disuguhi pemandangan hidup yang terlihat sempurna, liburan ke luar negeri, pasangan harmonis, tubuh ideal, karier yang sukses. Sementara itu, kita duduk terpaku dengan pikirian, Mengapa hidupku tidak seperti mereka?.
Fenomena ini muncul tidak tanpa sebab. Media sosial telah membentuk budaya digital baru menampilkan skema visual yang terbaik dan menyembunyikan yang sebenarnya. Kita sering kali hanya menyaksikan momen-momen terbaik yang di pamerkan, cuplikan yang sengaja ditampilkan agar terlihat memukau. Tanpa disadari, kita mulai membandingkan seluruh kehidupan kita, lengkap dengan kekurangan dan kerumitannya, dengan potongan kehidupan orang lain yang sudah dipoles, disaring, dan dipilih secara cermat.
Dalam buku karya dr. Feli Sulianta yang berjudul ego dan media sosial menyebutkan bahwa media sosial yang sering disuguhkan gambaran kehidupan orang lain yang tampak sempurna, penuh kebahagiaan, kesuksesan, dan petualangan, foto liburan, karir gemilang dan momen-momen bahagia yang dibagikan membuat kita merasa bahwa standar kebahagiaan itu adalah sesuatu yang harus di capai oleh semua orang, namun sebenarnya standar bahagia ini sering kali sangat tidak realistis.
Apa yang kita lihat hanyalah “ hightlight reel” cuplikan terbaik dari kehidupan seseorang yang telah di edit dan dikurasi dengan cermat. tindakan tersebut memicu ego digital dimana yang kita harus selalu tampil sempurna dan bahagia sehingga, kita terjebak dalam situasi kebahagiaan yang sebenarnya palsu dan sementara. Standar kebahagiaan yang tidak realistis juga menekankan pada tekanan sosial untuk mengikuti tren, gaya hidup dan pencapaian tertentu agar terlihat berhasil dan bahagia oleh pandangan masyakat digital.
Tak hanya itu krisis harga diri dalam dunia penuh pencitraan juga menjadi ujian dan guncanngan. Disebutkan dalam buku tersebut harga diri adalah pondasi penting dalam kesejahteraan psikologis sesorang.
Pencitraan sering kali dibuat dengan tujuan untuk menarik perhatian, mendapatkan pujian, dan membangun reputasi digital. Dalam hal tersebut sering kali kita mulai mengukur nilai diri berdasarkan seberapa banyak followers, like, komentar postingan. Krisis harga diri ini juga dapat menyebabkan rasa rendah diri, kecemasan sosial, bahkan depresi.
Apa Saja Langkah-langkah yang membuat kita Agar Kita percaya diri?
1. Sadari bahwa perbandingan sosial itu wajar, tapi tetap perlu dikontrol
Membandingkan diri dengan orang lain sebenarnya hal yang sangat manusiawi. Dalam teori yang dikemukakan oleh Leon Festinger (1954), manusia memang punya kecenderungan alami untuk menilai dirinya dengan melihat orang lain. Tapi masalahnya, tidak semua perbandingan itu sehat. Kalau tidak disadari, justru bisa membuat kita merasa kurang dan tidak percaya diri.
Karena itu, penting untuk mulai lebih peka terhadap diri sendiri. Saat mulai membandingkan diri, coba berhenti sebentar dan pikirkan: “Apakah ini membantu saya berkembang, atau justru membuat saya down?” Dari situ kita bisa belajar mengontrol pikiran sendiri, bukan malah dikendalikan oleh perasaan tidak cukup.
2. Batasi konsumsi media sosial yang bikin overthinking
Tidak bisa dipungkiri, media sosial sering menampilkan kehidupan yang terlihat “sempurna”. Padahal yang kita lihat biasanya hanya bagian terbaiknya saja, bukan keseluruhan realita. Hal ini bisa membuat kita tanpa sadar merasa hidup orang lain lebih baik, lebih sukses, dan lebih bahagia. Solusinya bukan harus berhenti total, tapi lebih ke mengatur penggunaan. Misalnya dengan mengurangi waktu scrolling atau memilih konten yang lebih positif dan realistis.
3. Fokus ke perkembangan diri sendiri
Setiap orang punya jalan hidup yang berbeda. Ada yang sukses cepat, ada juga yang butuh proses lebih panjang. Jadi, membandingkan diri dengan orang lain sering kali tidak adil, karena kita tidak tahu proses yang mereka lewati.
Lebih baik fokus ke diri sendiri: apakah hari ini lebih baik dari kemarin? Perkembangan sekecil apa pun tetap berarti. Kamu bisa mulai dengan mencatat hal-hal yang sudah berhasil dicapai, meskipun terlihat sederhana. Cara ini bisa membantu kita lebih menghargai proses, bukan cuma hasil.
4. Tentukan standar bahagia versi diri sendiri
Sering kali kita merasa tidak puas karena memakai standar orang lain. Padahal, kebahagiaan itu sifatnya personal. Apa yang bikin orang lain bahagia belum tentu sama dengan kita.
Coba mulai definisikan ulang apa arti bahagia buat diri sendiri. Tidak harus selalu tentang uang, jabatan, atau pencapaian besar. Bisa saja hal sederhana seperti punya waktu istirahat yang cukup, hubungan yang baik dengan keluarga, atau hati yang tenang. Dalam psikologi positif, hal ini dikenal sebagai subjective well-being, yaitu kebahagiaan yang ditentukan oleh penilaian diri sendiri, bukan orang lain (Diener, 1984).
5. Kurangi ketergantungan pada penilaian orang lain
Di era sekarang, mudah banget mengukur diri dari jumlah like, komentar, atau followers. Tapi kalau terlalu bergantung pada itu, kita bisa kehilangan rasa percaya diri yang sebenarnya.
Penting untuk mulai membangun validasi dari dalam diri. Artinya, kita tetap merasa berharga meskipun tidak mendapat pengakuan dari orang lain. Salah satu caranya adalah dengan mengenali kelebihan diri sendiri dan tidak terlalu keras dalam menilai diri. Menurut Crocker & Wolfe (2001), harga diri yang bergantung pada validasi eksternal cenderung lebih rapuh dibandingkan yang berasal dari dalam diri.
Kesimpulan
Dari seluruh langkah yang tertera di atas Pada dasarnya, persoalan ini kembali pada bagaimana seseorang mengelola pola pikir serta lingkungan yang memengaruhinya. Perbandingan sosial memang tidak bisa dihindari sepenuhnya, tetapi masih bisa diarahkan ke hal yang lebih konstruktif. Jika dilakukan secara sadar dan konsisten, individu cenderung lebih fokus pada proses hidupnya sendiri.
Editor: Ahmad Muwaffiqul Choir