Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Distraksi Digital: Dampak Kecanduan Dracin terhadap Konsistensi Ibadah Harian

Raissatunnisa Luthfiah by Raissatunnisa Luthfiah
April 10, 2026
in Esai, Narasi
0
Distraksi Digital: Dampak Kecanduan Dracin terhadap Konsistensi Ibadah Harian
21
SHARES
124
VIEWS

Oleh: Raissatunnisa Luthfiah

Jam menunjukkan pukul 23.30. Layar ponsel masih menyala, menyorot wajah yang tak juga beranjak tidur. Episode demi episode drama Cina bergulir tanpa henti. Satu selesai, otomatis episode berikutnya dimulai. Ketika mata akhirnya terpejam, alarm subuh hanya menjadi suara yang ditekan snooze berulang kali. Shalat Subuh pun terlewat, lagi.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Fenomena ini bukan lagi pengecualian. Di era streaming on-demand, drama Cina atau yang akrab disebut dracin telah menjadi salah satu bentuk hiburan paling adiktif di Indonesia. Data menunjukkan sebanyak 46,6% dari penduduk Indonesia gemar menonton drama Asia, termasuk drama Cina.

Namun di balik keseruan alur cerita yang memukau, muncul pertanyaan serius, apakah kebiasaan nonton dracin hingga larut malam perlahan menggerus konsistensi ibadah kita?

Mengapa Dracin Begitu Memikat?

Dracin dirancang dengan formula yang sangat terukur untuk mempertahankan perhatian penonton. Teknik cliffhanger (akhir cerita menggantung) di akhir setiap episode, chemistry antartokoh yang dibangun perlahan, serta konflik emosional yang terasa nyata, semuanya bekerja sinergis untuk memicu rasa ingin tahu yang terus-menerus. Secara neuropsikologis, otak merespons dengan melepaskan dopamin setiap kali kita mengantisipasi kelanjutan cerita.

Platform streaming seperti WeTV, Melolo, dan ReelShort bahkan menggunakan fitur autoplay yang secara otomatis memutar episode berikutnya dalam hitungan detik.

Desain ini bukan kebetulan, ia adalah rekayasa perhatian yang sengaja melemahkan niat untuk berhenti. Akibatnya, berjam-jam waktu tersedot tanpa terasa, termasuk waktu-waktu yang seharusnya dialokasikan untuk ibadah.

Kebiasaan Marathon dan Gangguan Ritme Ibadah

Ibadah harian wajib dalam Islam, yakni shalat lima waktu, memiliki jadwal yang terikat dengan pergerakan waktu. Subuh saat fajar menyingsing, Dzuhur di tengah hari, Ashar di sore hari, Maghrib saat matahari terbenam, dan Isya di malam hari.

Setiap waktu memiliki durasi yang terbatas. Kebiasaan menonton drakor hingga dini hari secara langsung berbenturan dengan waktu Subuh, yang merupakan shalat paling rawan terlewat.

Lebih dari sekadar rasa kantuk, masalah sesungguhnya terletak pada pergeseran prioritas yang terjadi secara perlahan dan tidak disadari. Ketika seseorang terbiasa menempatkan hiburan di atas kewajiban spiritual, pola pikir ini perlahan merasuk ke bawah alam sadar. Yang semula terasa bersalah karena menunda atau bahkan melewatkan shalat, lama-kelamaan terasa biasa saja.

Dampak yang Perlu Diwaspadai

Para psikolog menyebut kondisi ini sebagai “displacement behavior”, yaitu perilaku di mana aktivitas yang memberikan kesenangan instan menggusur aktivitas yang membutuhkan komitmen jangka panjang.

Ibadah memerlukan disiplin, ketenangan batin, dan Keikhlasan. Sementara Dracin menawarkan kepuasan instan, emosi yang intens, dan pelarian dari tekanan sehari-hari.

Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat menyebabkan apa yang para ulama sebut sebagai “qaswatul qalb” atau kekerasan hati, yaitu kondisi dimana hati menjadi semakin sulit tersentuh oleh nilai-nilai spiritual.

Seseorang mungkin masih melaksanakan shalat, tetapi dengan penuh ketergesa-gesaan dan tanpa kekhusyukan, karena pikirannya masih melayang pada alur cerita yang baru saja ditonton.

Selain itu, paparan konten romantis yang berlebihan dalam dracin dapat memunculkan standar hubungan yang tidak realistis, kecemburuan sosial, bahkan perasaan tidak puas dengan kehidupan nyata. Kondisi mental yang tidak stabil ini tentu memengaruhi kualitas hubungan seseorang dengan Tuhannya.

Mencari Keseimbangan

Solusinya bukan berarti harus berhenti menonton dracin sama sekali. Islam sendiri tidak melarang hiburan yang halal. Kuncinya adalah membangun kesadaran dan kontrol diri yang kuat. Berikut beberapa strategi konkret yang dapat diterapkan:

Pertama, tetapkan “jam mati layar” setidaknya satu jam sebelum waktu tidur ideal. Jika Subuh pukul 04.30, maka sebaiknya berhenti menonton paling lambat pukul 22.00 agar tubuh mendapatkan istirahat cukup dan bisa bangun tepat waktu.

Kedua, aktifkan fitur pembatas waktu di aplikasi streaming. Hampir semua platform kini menyediakan fitur ini. Manfaatkan sebagai pengingat eksternal ketika niat internal belum cukup kuat.

Ketiga, jadikan ibadah sebagai “anchor” atau jangkar rutinitas harian. Artinya, segala aktivitas hiburan dijadwalkan di antara waktu-waktu shalat, bukan sebaliknya. Dengan pola ini, dracin menjadi pelipur lara yang menyegarkan, bukan penjara waktu yang membelenggu.

Keempat, praktikkan “conscious viewing“, yaitu menonton dengan penuh kesadaran, bukan sekadar autopilot. Putuskan berapa episode yang akan ditonton sebelum mulai, dan patuhi keputusan itu.

Ada pertanyaan yang layak kita renungkan Bersama, mengapa seringkali jauh lebih mudah duduk selama empat jam menonton drakor dibanding khusyuk shalat selama empat menit? Jawabannya mungkin terletak pada seberapa besar kita sungguh-sungguh menginvestasikan diri dalam hubungan kita dengan Tuhan.

Layar menawarkan stimulasi visual yang konstan, musik latar yang emosional, dan narasi yang terus bergerak. Shalat, sebaliknya, mengajak kita pada keheningan, introspeksi, dan penyerahan diri.

Di era yang penuh distraksi ini, kemampuan untuk hadir penuh dalam ibadah justru menjadi keterampilan langka yang perlu dilatih terus-menerus.

Bukan salah dracinnya. Bukan pula salah teknologinya. Yang perlu diperiksa adalah tata kelola diri kita dalam berinteraksi dengan semua kemudahan digital ini. Seperti kata pepatah klasik: segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, termasuk hiburan.

Editor: Ahmad Muwaffiqul Choir

Terkait

Tags: IslamPeradaban
Previous Post

Mengapa Kamu Harus Berhenti Membandingkan Diri dengan Orang lain

Next Post

Overthinking di Kalangan Remaja: antara Tekanan atau Pencarian Jati Diri

Raissatunnisa Luthfiah

Raissatunnisa Luthfiah

Next Post
Overthinking di Kalangan Remaja: antara Tekanan atau Pencarian Jati Diri

Overthinking di Kalangan Remaja: antara Tekanan atau Pencarian Jati Diri

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.