Di era digital yang serba terhubung seperti sekarang, kehidupan manusia tidak pernah lepas dari penilaian. Media sosial telah menjadi ruang utama bagi individu untuk menampilkan dirinya, membagikan aktivitas, serta mengekspresikan berbagai hal yang dirasakan.
Kemudahan ini memberikan peluang besar bagi setiap orang untuk dilihat dan diperhatikan, tetapi di sisi lain juga melahirkan kecenderungan baru, yaitu keinginan untuk mendapatkan validasi dari orang lain.
Validasi manusia dapat berupa perhatian, pujian, pengakuan, atau bahkan sekadar respon sederhana seperti “like” dan komentar. Tanpa disadari, banyak orang mulai menggantungkan nilai dirinya pada bagaimana orang lain menilai dan melihatnya. Apa yang dilakukan tidak lagi sepenuhnya didasarkan pada nilai kebaikan itu sendiri, tetapi lebih pada seberapa besar respon yang akan didapatkan. Ketika respon yang diterima sesuai harapan, muncul rasa puas dan percaya diri. Namun, ketika tidak sesuai, timbul perasaan tidak cukup baik, minder, bahkan kehilangan kepercayaan diri.
Fenomena ini sangat terasa di kalangan remaja dan generasi muda. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang sangat dekat dengan teknologi, sehingga media sosial menjadi bagian penting dalam pembentukan identitas diri. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media sosial memiliki hubungan dengan tingkat self-esteem seseorang. Ketika seseorang mendapatkan respon positif, ia cenderung merasa lebih dihargai. Sebaliknya, respon yang minim atau negatif dapat memicu perasaan tidak berharga dan kecenderungan untuk membandingkan diri dengan orang lain (Saputra et al., 2024; Sholeha & Sofa, 2024).
Self-esteem yang terlalu bergantung pada faktor eksternal menjadikan kondisi psikologis seseorang tidak stabil. Ia mudah cemas, overthinking, dan tidak pernah merasa cukup. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mengarah pada kelelahan emosional dan krisis identitas, terutama pada individu yang masih dalam proses pencarian jati diri (Darojat & Soleh, 2023). Dengan demikian, ketergantungan pada validasi manusia bukan hanya persoalan sosial, tetapi juga berdampak pada kesehatan mental.
Pada dasarnya, kebutuhan untuk dihargai merupakan hal yang wajar. Setiap manusia ingin diakui keberadaannya dan diapresiasi atas apa yang dilakukan. Namun, permasalahan muncul ketika validasi tersebut dijadikan sebagai tujuan utama dalam hidup. Ketika seseorang hanya berfokus pada bagaimana ia terlihat di mata manusia, maka ia akan terus berada dalam lingkaran ketidakpuasan, karena penilaian manusia bersifat relatif, berubah-ubah, dan tidak pernah benar-benar tetap.
Dalam perspektif Islam, fenomena ini berkaitan erat dengan konsep niat dan juga penyakit hati yang dikenal sebagai riya’. Riya’ adalah perbuatan melakukan kebaikan dengan tujuan untuk dilihat dan dipuji oleh manusia, bukan semata-mata karena Allah. Perilaku ini dapat mengurangi nilai amal, bahkan dalam kondisi tertentu dapat menghilangkan pahala dari perbuatan tersebut (Aini et al., 2024; Fitriana et al., 2024). Oleh karena itu, Islam sangat menekankan pentingnya keikhlasan dalam setiap amal yang dilakukan.
Al-Qur’an juga memberikan pedoman dalam interaksi sosial, termasuk dalam hal komunikasi. Komunikasi tidak hanya dipahami sebagai proses penyampaian pesan, tetapi juga sebagai aktivitas yang sarat nilai moral. Prinsip seperti qaulan sadidan (perkataan yang benar), qaulan ma’rufan (perkataan yang baik), dan qaulan kariman (perkataan yang mulia) menunjukkan bahwa seorang Muslim dituntut untuk menjaga etika dalam berbicara dan berinteraksi, baik secara langsung maupun melalui media digital . Dengan demikian, apa yang disampaikan bukan hanya benar secara informasi, tetapi juga baik secara nilai.
Berbeda dengan orientasi pada validasi manusia, Islam menawarkan tujuan hidup yang lebih tinggi, yaitu mencari ridha Allah. Ridha Allah dipahami sebagai tujuan utama dan puncak keberhasilan seorang Muslim (Gunawan, 2023; Azimi, 2024). Ketika seseorang menjadikan Allah sebagai tujuan hidupnya, maka ia tidak lagi terlalu bergantung pada penilaian manusia. Ia menyadari bahwa yang paling penting adalah bagaimana Allah menilai setiap amal yang dilakukan.
Konsep ini juga berkaitan dengan makna hikmah dalam Al-Qur’an. Hikmah tidak hanya berarti pengetahuan, tetapi juga pemahaman yang mendalam yang membimbing manusia dalam bertindak secara benar dan bijaksana. Hikmah mengarahkan seseorang untuk menempatkan sesuatu pada tempatnya serta membedakan antara yang bersifat sementara dan yang bernilai kekal . Dengan adanya hikmah, seseorang tidak mudah terjebak dalam pencarian validasi, karena ia memiliki orientasi yang lebih jelas dalam hidupnya.
Perbedaan antara validasi manusia dan ridha Allah juga terlihat dari dampaknya terhadap kondisi batin. Validasi manusia cenderung melahirkan kegelisahan karena standar yang digunakan terus berubah. Seseorang akan terus berusaha memenuhi ekspektasi orang lain yang tidak pernah selesai. Hari ini dipuji, besok bisa saja dikritik. Kondisi ini membuat seseorang sulit menemukan ketenangan dalam dirinya.
Sebaliknya, orientasi pada ridha Allah memberikan ketenangan yang lebih stabil. Hal ini karena Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, termasuk niat dan usaha yang tidak terlihat oleh manusia. Penelitian menunjukkan bahwa konsep ridha memiliki hubungan erat dengan kesejahteraan psikologis, di mana individu yang memiliki orientasi spiritual yang kuat cenderung lebih tenang dan memiliki kondisi mental yang lebih baik (Darojat & Soleh, 2023; Saputra et al., 2024). Kesadaran ini membuat seseorang tidak lagi terlalu terpengaruh oleh penilaian manusia.
Fenomena lain yang berkaitan adalah perilaku people-pleasing, yaitu kecenderungan untuk selalu menyenangkan orang lain demi mendapatkan penerimaan sosial. Penelitian menunjukkan bahwa perilaku ini dapat berdampak negatif terhadap kesehatan mental karena membuat seseorang mengabaikan kebutuhan dirinya sendiri (Dly et al., 2025). Dalam Islam, hal ini dibedakan dengan konsep ithar, yaitu mendahulukan orang lain karena keikhlasan dan mencari ridha Allah, bukan karena ingin dipuji atau takut ditolak.
Di tengah kondisi ini, media sosial sebenarnya dapat menjadi sarana kebaikan jika digunakan dengan bijak. Namun, tanpa kesadaran yang tepat, media sosial justru dapat menjadi jebakan yang memperkuat ketergantungan pada validasi manusia. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk meluruskan niat dalam setiap aktivitas yang dilakukan. Mengurangi ketergantungan pada respon orang lain, serta memperbanyak amal yang tidak dipublikasikan dapat menjadi langkah sederhana untuk melatih keikhlasan.
Pada akhirnya, setiap manusia dihadapkan pada pilihan orientasi hidup. Dunia dengan segala bentuk validasinya bersifat sementara dan tidak pernah benar-benar memuaskan. Sebaliknya, ridha Allah adalah sesuatu yang kekal dan memiliki nilai yang jauh lebih besar. Dengan menjadikan ridha Allah sebagai tujuan utama, seseorang tidak hanya memperoleh ketenangan batin, tetapi juga makna hidup yang lebih dalam.
Pertanyaan yang tersisa kemudian menjadi refleksi bagi setiap individu: apakah yang selama ini dikejar adalah penilaian manusia yang mudah berubah, ataukah ridha Allah yang abadi dan menenteramkan?
Kesimpulan
Fenomena pencarian validasi manusia di era digital merupakan realitas yang tidak dapat dihindari, terutama di kalangan generasi muda. Media sosial mendorong individu untuk terus ingin dilihat, diakui, dan dihargai oleh orang lain. Namun, ketika validasi tersebut dijadikan sebagai tujuan utama, hal ini justru menimbulkan ketergantungan emosional, ketidakstabilan psikologis, serta menjauhkan seseorang dari makna sejati dalam berbuat kebaikan.
Dalam perspektif Islam, orientasi hidup yang berpusat pada penilaian manusia berkaitan dengan perilaku riya’, yaitu melakukan amal bukan karena Allah, melainkan demi mendapatkan pengakuan. Sebaliknya, menjadikan ridha Allah sebagai tujuan utama akan melahirkan keikhlasan, ketenangan batin, serta kestabilan dalam menjalani kehidupan.
Dengan demikian, penting bagi setiap individu untuk meluruskan niat dalam setiap aktivitas, menjaga etika dalam berinteraksi, serta tidak bergantung sepenuhnya pada penilaian manusia. Validasi manusia boleh hadir sebagai konsekuensi, tetapi bukan sebagai tujuan. Pada akhirnya, nilai sejati dari setiap amal bukan terletak pada seberapa banyak ia dilihat manusia, melainkan pada bagaimana ia dinilai di sisi Allah.