Oleh: Raissatunnisa Luthfiah
Kita semua mungkin pernah berada di fase “ngakak tapi mikir”, dimana ketika scroll Instagram atau X (Twitter), tiba-tiba nemu meme yang bikin ketawa, tapi setelah dipikir-pikir, pasti ada “sesuatu” dibalik itu, iya nggak? Tidak sedikit dari meme-meme yang tersebar di media sosial berisikan sindiran. Entah itu dalam konteks politik, sosial, agama, ras, gender, maupun kelompok tertentu. Kadang hal yang dikemas dengan ringan dalam bentuk candaan justru bisa menyimpan pesan yang dalam bahkan bisa membentuk cara orang berpikir. Tapi kenapa hal receh seperti meme bisa lebih efektif menyentuh pikiran dan hati seseorang?
Bagi Generasi Z atau yang kerap disebut sebagai digital native, meme bukan hanya sekedar humor belaka, namun juga sebagai bahasa baru untuk mengekspresikan perasaan, keadaan, keresahan, atau kritik sosial. Melalui kombinasi teks singkat, gambar kocak dan kadang disertai dengan backsound yang nggak kalah catchy, meme mampu menyampaikan pesan secara singkat, padat dan efektif, sangat cocok untuk generasi yang hidup di era yang serba cepat ini.
Julukan digital native sebagai nama lain Generasi Z tentu tidak serta merta tanpa alasan. Gen Z lahir dan tumbuh di tengah perkembangan teknologi dan internet sehingga mereka akrab dengan dunia digital sejak kanak-kanak. Hal itu kemudian berpengaruh pada cara mereka mengolah informasi dari media massa. Dalam laporan “Indonesia Gen Z Report 2024”, IDN Research Institute dan Advisia (2024) mengungkapkan 73% responden Generasi Z menggunakan media sosial sebagai acuan utama saat mencari informasi. Jika di zaman dahulu informasi itu harus dicari dari media-media konvensional seperti surat kabar, majalah, ataupun radio, sekarang segala macam informasi dengan mudahnya tersedia dan muncul di beranda-beranda media sosial sehingga kita tinggal mengonsumsinya. Informasi-informasi yang tersebar di media sosial dikemas sedemikian rupa dan semenarik mungkin untuk menarik perhatian publik. Salah satu bentuk yang paling sering ditemui adalah meme.
Sebagai kelompok dengan jumlah pengguna media sosial terbanyak minatnya terhadap Instagram, Generasi Z memiliki karakteristik bahwa mereka lebih menyukai informasi dalam bentuk visualisasi daripada tulisan karena lebih mudah diterima dan tidak perlu fokus terhadap satu aktivitas (Adristi et al., 2024). Dikutip dari sciencedaily.com, “Sebuah studi dari Annenberg School for Communication di University of Pennsylvania dan School of Communication di Ohio State University menemukan bahwa, dibandingkan dengan klip berita non-humor, penonton tidak hanya lebih cenderung membagikan berita yang disajikan secara humoris tetapi juga lebih mudah mengingat konten dari segmen tersebut”.
Salah satu power of the meme adalah caranya mempengaruhi pandangan dan cara berpikir seseorang, tidak secara direk melainkan secara halus. Satu meme bisa tersebar ke jutaan user media sosial dalam waktu singkat. Karena dikemas dengan gaya humoris dan santai, orang tidak merasa sedang diajak untuk berpihak pada suatu pandangan dan kadang tanpa sadar menyetujui pesan yang terdapat dibalik meme tersebut.
Salah satu contoh mengenai hal ini adalah meme mengenai tokoh politik, dimana meme tersebut bisa mempengaruhi citra tokoh tersebut. Misalnya Ketika salah satu tokoh politik dijadikan bahan meme karena keabsurdan perkataanya, ucapannya yang nyeleneh, ekspresinya yang lucu dan tingkahnya yang kontroversial, otomatis akan lebih sering muncul di feed media sosial. Namun ketenaran ini bisa menjadi pedang bermata dua, di satu sisi bisa membuat tokoh tersebut lebih dikenal masyarakat, namun disisi lain hal itu bisa menjadi bumerang terhadap tokoh tersebut jika meme yang beredar lebih menyorot kepada sisi buruk yang bisa menggiring opini negatif dari masyarakat.
Selain dalam konteks politik, meme juga memiliki peran dalam membentuk opini masyarakat mengenai kebijakan pemerintah dan perekonomian suatu negara. Contohnya adalah meme yang mengangkat isu kenaikan pajak dan harga bahan pokok. Hal-hal kompleks seperti ini dibahas secara sederhana melalui meme yang bersifat santai, sehingga masyarakat akan lebih memahami konteks yang disampaikan, berbeda dengan teks atau video berita yang panjang.
Namun disamping keefektifan meme sebagai penyebar informasi dan kemudahannya untuk dicerna masyarakat, terdapat pula resiko yang perlu diwaspadai. Karena bentuknya yang singkat dan lucu, pesan yang disampaikan meme tidak sepenuhnya menjelaskan tentang konteks sebenarnya. Akibatnya, banyak yang memahami isu yang dibahas dari permukaannya saja. Bukannya mendiskusikannya lebih dalam, orang akan lebih suka untuk menikmati informasi yang cepat dan menghibur. Padahal kalau kita hanya mengandalkan meme untuk memahami suatu masalah, pemahaman kita akan menjadi dangkal dan cara pandang kita akan menjadi sempit. Selain itu, tidak semua meme yang beredar berbasis pada fakta, dimana admin akan menyebarkan informasi hoax demi sekedar meningkatkan view dan popularitas akun.
Jadi kalau dipikir-pikir, meme bukan hanya sekedar hiburan di dunia maya, tapi juga alat komunikasi yang memiliki pengaruh besar dalam cara pandang kita. Karena itu kita perlu kritis dalam menerima setiap informasi, dan bijak sebelum menyebarluaskan informasi tersebut. Jika suatu saat kita menjumpai meme yang sedang viral, jangan hanya tertawa, namun refleksikan pesan yang terkandung dibalik kelucuan tersebut.
Editor: Astyra Gita Kinanti