Tersebarnya Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW di permukaan bumi ini merupakan sebuah revolusi yang selama berabad-abad telah berperan secara signifikan dalam panggung sejarah kehidupan umat manusia. Islam hadir sebagai teologi pembebasan untuk menyelamatkan, membela dan menghidupkan keadilan demi tercapainya satu masyarakat yang ideal menurut Islam.
Dengan demikian Islam bermakna sebagai pembebas, yaitu membebaskan manusia dari kondisi-kondisi ketidakadilan. Hal ini sebagaimana diajarkan dalam al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi SAW yang menggugat kondisi-kondisi ketidakadilan yang terjadi di tengah masyarakat, bangsa dan negara.
Asghar Ali Engineer, seorang pemikir dari India tergugah untuk melakukan sebuah reinterpretasi dan bahkan dekonstruksi terhadap ajaran-ajaran Islam yang sarat akan nilai-nilai keadilan dan kesetaraan. Baginya, Islam adalah agama yang membebaskan. Maka tidak heran jika di kemudian hari, ia terkenal sebagai penggagas konsep teologi pembebasan.
Konsep Islam tentang Teologi Pembebasan
Islam adalah agama yang membawa rahmat bagi sekalian alam terutama untuk umat manusia. Islam adalah sebuah agama dalam pengertian teknis dan sosial-revolutif yang menjadi tantangan dan ancaman struktur yang menindas pada saat ini. Adapun tujuan dasarnya adalah persaudaraan yang universal, kesejahteraan dan keadilan sosial. Untuk itu Islam sangat menekankan adanya kesatuan manusia. Hal ini telah ditegaskan oleh Allah dalam al-Qur’an surah Al-Hujurat: 13.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Artinya: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
Menurut M. Quraish Shihab, ayat ini menjelaskan bahwa kesatuan asal usul manusia menunjukkan kesamaan derajat kemanusiaan manusia. Tidak diperbolehkan seseorang berbangga dan merasa diri lebih tinggi dari yang lain, bukan saja antarsatu bangsa, suku, atau warna kulit dengan selainnya, tetapi juga antar jenis kelamin mereka. Selain itu ayat di atas secara jelas membantah semua konsep superioritas rasial, kesukuan, kebangsaan atau keluarga, sebuah penegasan dan desahan tentang pentingnya kesholehan. Kesholehan yang dibahas tidak hanya kesholehan ritual, tetapi juga kesholehan sosial.
Selain itu, Islam juga sangat mementingkan keadilan dalam segala aspek kehidupan. Keadilan ini tidak akan tercipta tanpa membebaskan golongan masyarakat lemah dan menderita, serta memberi kesempatan kepada mereka untuk menjadi pemimpin. Oleh karena itu, tidak heran Islam disebut sebagai teologi pembebasan.
Teologi Pembebasan dalam Dialog dan Aksi Agama-agama di Asia
Menurut Asghar, teologi pembebasan merupakan teologi yang menerima tauhid tidak sekedar sebagai peryataan tentang ke Esa-an Allah namun juga kesatuan manusia dalam semua hal. Perbedaan manusia atas dasar kebangsaan, suku, agama, dan ras tidak bisa dijadikan alasan untuk saling bermusuhan serta menghancurkan kedamaian dan keharmonisan satu sama lain. Namun keberagaman dan perbedaan ini menjadi sarana untuk mengidentifikasi diri dan saling mengenal.
Agama adalah fenomena spiritual umat manusia, dan dengan demikian pintu dialog terbuka antara agama-agama yang ada. Spiritualitas sebagai gerbang dialog yang dibuka oleh Asghar Ali bukanlah spiritualitas yang kering sehingga statis dan menutup gerbang itu sendiri. Spiritualitas itu sarat dengan nilai-nilai religius serta implikasi-implikasi etis yang sangat mendalam sebingga memungkinkan terjadinya dialog antar semua agama yang ada. Kemungkinan itu berarti pula bahwa di luar kerangka ideologis, yakni dalam pengalaman keagamaan, terdapat kemungkinan dialog.
Teologi pembebasan Asghar Ali menetapkan, perbedaan agama tidak pernah dapat dijadikan alasan untuk menciptakan konflik sehingga menutup pintu dialog antar penganut agama yang berbeda. AI-Qur’an selalu memuji seseorang yang berjuang demi haknya. Teks “jihad” adalah pembenaran dalam melindungi orang lemah dan tertindas serta pertahanan diri terhadap agresi.
Kemungkinan-kemungkian Baru dalam Teologi Pembebasan
Teologi pembebasan Asghar Ali diturunkan dari hukum Islam dan menjadi bagian penting dalam kerangka aksi bersama agama-agama di Asia. Sebagaimana muncul dalam teologi Dalil di India, teologi Perlawanan Rakyat di Filipina, teologi Minjung di Korea, dan teologi Buddhadasa di Thailand, Islam juga harus ditampilkan sebagai agama yang penuh dengan keterbukaan, toleransi dan respek pada agama lain.
Tidak dapat dihindari oleh siapapun bahwa selalu ada ketegangan antara yang real (asli) dan yang mungkin dalam hidup manusia. Teologi tradisional dalam mengatasi sebuah ketegangan, sebagamnana telah disinggung pada uraian di atas selalu berkompromi pada yang real dengan menggunakan istilah-istilah Al-Qur’an yang mendukungnya. Sebaliknya Teologi pembebasan berusaha untuk memperkuat ketegangan itu dengan menekankan pada yang mungkin dan berjuang menghadapi realitas yang ada untuk menjadikannya terbuka ke arah kemungkinan-kemungkinan baru.
Dengan kata lain, teologi pembebasan Asghar Ali berdasar pada yang mungkin. Teologi pembebasan itu adalah teologi yang mengusahakan untuk meningkatkan derajat kebebasan baik untuk individu maupun untuk kolektif (kelompok, masyarakat atau bangsa) dengan cara mengurangi eksploitasi ekonomi. Dengan kata lain, teologi pembebasan merupakan konsep guna membentuk masyarakat yang ideal. Upaya itupun harus diwujudkan melalui sosialisasi sarana produksi, pelarangan akumulasi kekayaan, penindakan secara hukum atas praktik riba’, pembentukan institusi-institusi tepat untuk menjamin kebutuhan pokok masyarakat, sebagaimana telah digariskan dalam A1-Qur’an.
Editor: Anisa K.