Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Tarawih: Bid’ah Paling Nikmat

Nurbani Yusuf by Nurbani Yusuf
April 26, 2020
in Narasi
0
Tarawih: Bid’ah Paling Nikmat
19
SHARES
111
VIEWS

“Inilah bid’ah paling nikmat”, kata Sayidina Umar Ibnul Kathhab RA usai beliau shalat tarawih berjemaah di masjid yang barusan ia putuskan untuk dilaksanakan. Apa pasal?

***
Ni’matil bid’atu hadzihi (tarawih ini adalah sebaik-baik bid’ah) Ini pernyataan sangat menarik. Sebuah inovasi dalam hal beribadah (bid’ah) yang sebelumnya tidak pernah ada, baik pada jaman Nabi saw atau masa khalifah Abu Bakar ra. Cara cerdas hidupkan malam di bulan ramadhan.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

baca juga: Dilema Mahasiswa: Di Rantau Merana, Pulangpun Merana

Nabi saw pernah bersabda kepada salah seorang sahabatnya ini: “Andai ada nabi sesudahku maka Umarlah orangnya” bukan pujian atasnya, apalagi pembenaran adanya nabi setelahnya, hanya semacam penilaian atas karakter, kepribadian yang cerdas, kokoh dan kuat yang ada dalam diri Sayidina Umar Ibnul Khattab ra.

Saya tak hendak masuk pada wilayah ikhtilaf yang sudah diperdebatkan puluhan tahun tak kunjung selesai ini. Para ulama nahwu ‘ribut’ tentang kata ‘kullu’ apakah bermakna semua atau sebagian. Yang kemudian melahirkan dua disparitas ekstrim : ‘semua bid’ah adalah sesat’ dan ‘tidak semua bid’ah itu sesat’ ada yang ‘hasanah’ dan ada yang ‘sayyiah’ padahal bermula dari pangkal kata yang sama. Tidak cukup, perbedaan ini kemudian juga melembaga dalam bentuk kawanan yang saling menafikan bahkan tidak jarang saling menyesatkan.

^^^
Saya hanya ingin bilang bahwa wabah virus cofid-19 telah membawa kita kembali ke masa awal Islam ketika shalat tarawih di masjid masih tiada dan ketika para sahabat mengerjakan di rumah masing-masing setiap sepertiga malam terakhir.

Kita kembali ke titik nol. Mungkin itu pesan kuatnya. Semacam pusaran sebagai titik episentrum spiritualitas keberagamaan kita, bahkan mungkin pada wilayah Rubbubiyahnya untuk tidak menyeret kita pada ranah paling praksis bahwa beragama bukan hanya tentang jumlah bilangan, ruang dan waktu.

Tapi siapa mau mengerti? Bukankah sebagian besar para abid (ahli ibadah) adalah para pemburu ‘imbalan’ atas segala yang telah dilakukan untuk Tuhan? ibadah selalu bermakna mengejar atau mengumpulkan ‘pahala’ atau tentang balasan atas segala yang sudah diberikan pada Tuhan.

^^^
Apa ini yang disebut beragama dengan sistem transaksional? ‘Jual beli’ dengan Tuhan. Apa yang aku dapatkan setelah aku menyembah? Tidak ada yang gratis buat Tuhan, sebab kita selalu meminta pembalasan.

Bisakah ramadhan kali ini menjadi semacam washilah untuk tarbiyah, merendahkan diri dihadapkan Yang Maha Tinggi dan membuka ruang perjumpaan dengan Tuhan di dalam hati. Pada setiap sudut malamnya adalah mi’radz. Memulai dari yang fana dan ketiadaan menuju yang abadi.

‘Menyatu dengan kehendak Tuhan’ salah satu cara untuk mendapat ridha barangkali bisa menjadi alternatif—sehingga tidak menempatkan amal saleh sebagai keterpaksaan dan ibadah hanya sebagai pemenuhan kewajiban, karena meninggalkannya bakal diancam dengan hukuman. Cara berpikir ini memang tak lazim apalagi dikalangan para fuqaha, pasti akan dicap macam-macam. Perspektif ini memang tak mudah kecuali bagi mereka yang mau berpikir (Al baab) dan yang diberi keberuntungan besar. Wallahu taala a’lam.

Terkait

Tags: covid-19TarawihUmar
Previous Post

Dilema Mahasiswa: Di Rantau Merana, Pulangpun Merana

Next Post

Ambiguitas, antara Kesalahan atau Jurus Berkelit

Nurbani Yusuf

Nurbani Yusuf

Komunitas Padhang Makhsyar

Next Post
sang ustadz berkata seperti ini, "Syetan telah berusaha menggoda manusia berbuat baik". Ini contoh ambigutas, kata saya pada isteri. Dia mengangguk setuju.

Ambiguitas, antara Kesalahan atau Jurus Berkelit

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.