Said Aqil (2): 4 Pokok Pikiran Kebangsaan

Said Aqil menjelaskan 4 pokok pikiran yang akan menjadi fondasi kuat bagi Indonesia emas 2045, yaitu Islam dan kebudayaan, Islam dan kebhinekaan, Islam dan negara, dan terakhir Islam yang toleran. Ia menjelaskan satu persatu isi pokok pikiran tersebut.

Pokok Pikiran Said Aqil 1: Islam dan Kebudayaan

Pertama, Islam dan kebudayaan. Islam melakukan transformasi kebudayaan, dengan cara afirmasi dan akomodasi dari kebudayaan-kebudayaan yang sudah ada. Karena itu, tidak heran jika sejumlah tradisi tetap dipertahankan bahkan disyariatkan. Said Aqil memberikan contoh Rukun Islam ke-5, yaitu haji. Haji adalah ritual napak tilas terhadap tradisi para Nabi seperti Nabi Adam, Ibrahim, dan juga Ismail. Begitu juga dengan ibadah puasa yang sudah menjadi tradisi para nabi dan para umat terdahulu.

Ketika Islam datang ke nusantara, Islam dibawa dan diajarkan oleh Walisongo. Menurut Said Aqil, Walisongo berdakwah tidak dengan cara memberangus kebudayaan dan tradisi yang ada, melainkan dengan menjadikan kebudayaan sebagai instrumen dakwah. Sehingga, Islam dapat bersatu dan bersenyawa dengan kebudayaan setempat. Dan dalam rangka inilah Islam Nusantara dijadikan model Islam yang ideal oleh Nahdlatul Ulama.

baca juga: Said Aqil & Ma’rifat Hasyim Asy’ari tentang Khilafah

Said Aqil kemudian menceritakan sejarah Walisongo. Tidak ada seorangpun dari Walisongo yang masuk ke suatu kampung dengan teriakan takbir. Mereka menggunakan pendekatan budaya dengan akhlaqul karimah, menghargai kebudayaan setempat, kemudian mengharmoniskan antara teologi dan budaya. Mereka tidak menolak tradisi yang berkembang di masyarakat, namun justru menjadikan tradisi itu sebagai infrastruktur agama.

Misalnya menara yang banyak dijumpai di masjid-masjid di Indonesia. Menara, pada mulanya bukan arsitektur Islam melainkan berasal dari agama Zoroaster. Apa yang dilakukan oleh Islam adalah tidak serta merta menolak keberadaan menara, tetapi memodifikasinya sehingga menara sampai hari ini tetap digunakan sebagai arsitektur masjid pada umunya.

“Padahal, menara berasal dari bahasa Arab manaroh yang artinya adalah “tempat api”. Ketika para sahabat menyebarkan Islam ke Timur, mereka melihat bangunan dengan tinggi 10-15 m, yang diatasnya ada api yang disembah. Mereka berkata “hadzihi manarotun” (ini adalah menara tempat api Zoroaster disembah). Terus apa yang dilakukan sahabat? Apinya dibuang, menaranya dilestarikan untuk monumen dimasjid”, papar Said Aqil.

Hal ini menjadi penting karena, menurut Said Aqil, pada hari ini umat Islam menghadapi sebagian kelompok yang suka mempertentangkan tradisi tertentu, apakah ia sesuai dengan Islam atau tidak. Akibatnya, kelompok ini suka menghakimi sebuah tradisi dengan vonis sesat, syirik, bid’ah, bahkan kafir. Contoh tradisi yang disesatkan adalah tahlilan, mauludan, barzanji, dan lain-lain.

Pengkafiran dan tuduhan sesat terhadap tradisi-tradisi tersebut akan menjadi hambatan signifikan bagi kemajuan kebudayaan di Indonesia. Karena itulah Said Aqil mengajak masyarakat untuk bersama-sama mengembangkan kebudayaan di Indonesia.

Pokok Pikiran Said Aqil 2: Islam dan Kebhinekaan

Kedua, Islam dan kebhinekaan. Menurut Said Aqil, dengan kajian yang mendalam terhadap Islam kita dapat menemukan bahwa Islam sangat menghargai kemajemukan. Manusia terlahir dari satu bapak dan satu ibu. Kemudian turun menurun menjadi banyak suku bahasa dan warna kulit, beragam agama dan kepercayaan.

Indonesia juga terdiri dari berbagai agama dan kepercayaan, baik yang resmi maupun tidak resmi. Tidak ada negara yang lebih beragam daripada Indonesia. Kerukunan dalam kebhinekaan ini harus terus dijaga sebagai wujud implementasi ajaran agama, dan juga sebagai komitmen anak bangsa untuk melanjutkan perjuangan para pendiri bangsa. Pada prinsipnya, tidak ada agama yang menghendaki perpecahan, mengajarkan permusuhan, dan mengajak saling bertikai. Karena itu, Islam memandang kebhinekaan itu sebagai tanda-tanda kebesaran Allah.

baca juga: Toleransi bukan Pluralisme Agama

Menurut Said Aqil, tujuan manusia dijadikan berbhineka bukan untuk saling menegasikan dan saling berperang, melainkan untuk saling mengenal, saling kolaborasi (ta’aruf), dam saling kerjasama (ta’awun) untuk menjalankan amanah dan mandat Allah kepada manusia sebagai penguasa yang bertanggungjawab di muka bumi.

“Maka, saya menegaskan bahwa Islam memberikan jaminan akan tumbuh kembangnya kebhinekaan. Saya mengajak seluruh pemuka agama untuk saling bekerjasama menciptakan Indonesia yang damai”, tegasnya.

Pokok Pikiran Said Aqil 3: Islam dan Negara

Ketiga, Islam dan negara. Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa akhir-akhir ini suara penolakan terhadap pancasila dan nafsu untuk menerapkan formalisasi syariat Islam dalam kehidupan bernegara, atau yang dikenal dengan istilah NKRI bersyariah semakin hari semakin meningkat.

Kelompok ini membangun argumen teologis dari ayat-ayat dan hadits-hadits. Salah satu ayat yang sering mereka gunakan adalah surat Al-Maidah 44 yang berbunyi wa man lam yahkum bima anzala Allahu fa ulaaika hum al-kafiruun (barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir).

Said Aqil juga mengatakan bahwa selain ayat tersebut, mereka menggunakan hadits yang berbunyi man mata wa laisa fi unuqihi baiah, mata maitatan jahiliyyah (barangsiapa meninggal tidak dalam keadaan baiat kepada suatu kepemimpinan Islam, maka ia mati dalam keadaan jahiliyah). Dalil diatas dipahami sebagai sebuah kewajiban untuk menegakkan khilafah Islamiyyah, sebagai syarat untuk menerapkan syariat Islam.

Kelompok ini agaknya lupa atau sengaja mengabaikan sejumlah fakta sejarah perihal bagaimana model kepemimpinan Islam. Setelah Nabi Muhammad wafat, mekanisme kepemimpinan 4 Khalifah Rasyidah tidak ada satupun yang sama. Said Aqil mengatakan bahwa Islam hanya memberikan prinsip-prinsip dasar kepemimpinan, seperti wajib melindungi segenap warganya, wajib mengangkat harkat dan martabat bangsa, dan menjamin pemenuhan hak-hak masyarakat.

Piagam Madinah memberikan perlindungan kepada kelompok dan etnis yang berbeda. Ada muslim pendatang (Muhajirin), muslim pribumi (Anshor, terdiri dari suku Aus & Khazraj), dan Yahudi. Selama ketiga kelompok ini sama satu tujuan dan visi misi, maka sebenarnya semua adalah satu umat.
Said Aqil menyimpulkan bahwa Nabi Muhammad sejak 15 abad yang lalu telah berhasil membangun sebuah negara yang berdasarkan konstitusi kebersamaan, keadilan, dan hak asasi manusia. Bukan berdasarkan konstitusi agama. Maka negaranya dinamakan negara Madinah, bukan negara Islam, bukan pula negara Arab.

Islam Nusantara sebagai Rujukan Islam Dunia

NU dalam rentetan sejarah telah menegaskan komitmen hubungan Islam dan negara, dibuktikan dengan turut menghapuskan 7 kata dalam piagam Jakarta melalui KH Wahid Hasyim, sekaligus menerima Pancasila sebagai asas tunggal organisasi.

Hubungan Islam dan negara adalah saling menguatkan untuk kemaslahatan bersama. “Islam bukan merupakan sistem spesifik yang menolak sistem lain. Islam di Indonesia merupakan representasi visi rahmatan lil ‘alamin. Kita adalah presentesi komitmen dan sikap beragama yang menekankan moderasi, toleransi, dan perdamaian”, tegas Said Aqil.

Peradaban yang dibangun agama Islam di dunia, kedepan akan merujuk pada praktik beragama yang ada di Indonesia, yaitu praktik keberagamaan yang menghargai keberagaman dan kebudayaan. Ini yang disebut sebagi Islam Nusantara. Islam Nusantara bukanlah mazhab, bukan aliran, melainkan tipologi masyarakat nusantara.

Terakhir, sebagai penutup, Said Aqil mengatakan bahwa pandangan Islam tentang kebudayaan, negara, dan kebhinekaan secara tepat akan menjadi modal penting dalam membangun Islam Indonesia sebagai rujukan dunia.

reporter: Yusuf R Yanuri

What's your reaction?
2So Happy0Happy
Show CommentsClose Comments

Leave a comment