Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Saat Senioritas Menolak Realitas

Jovi Fernando Setiawan by Jovi Fernando Setiawan
Januari 22, 2026
in Esai
0
Saat Senioritas Menolak Realitas
17
SHARES
99
VIEWS

Oleh: Jovi Fernando Setiawan

Seringkali kita terbangun di pagi hari dengan notifikasi yang tak henti-henti berbunyi dari grup WhatsApp keluarga. Isinya bukan kabar penting, melainkan pesan forward berantai yang diberi label “Info Valid A1”. Ironisnya, isinya sering kali adalah hoaks kesehatan atau propaganda politik yang tidak masuk akal.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

​Fenomena ini menjadi pemandangan sehari-hari yang melelahkan bagi generasi muda. Para orang tua kita, kaum Boomer dan sebagian Generasi Sandwich awal, begitu mudah menelan mentah-mentah informasi yang mereka dapatkan dari media sosial. Bagi mereka, jika ada di layar HP, maka itu adalah kebenaran mutlak.

​Ada ironi yang sangat tebal di sini. Dulu ketika kita kecil, merekalah yang selalu mewanti-wanti agar kita “jangan percaya orang asing” dan “jangan mudah ditipu”. Namun, kini di era digital, justru merekalah yang paling rentan ditipu oleh judul berita clickbait dan narasi provokatif tanpa sumber yang jelas.

​Masalah utamanya terletak pada literasi digital yang gagap. Mereka adalah imigran digital yang masuk ke dunia internet tanpa bekal navigasi yang cukup. Mereka tidak terbiasa melakukan verifikasi fakta atau cross-check sumber. Algoritma media sosial pun membaca ini dan terus

menyuapi mereka dengan konfirmasi bias.

​Ketika generasi muda mencoba meluruskan fakta dengan data dan sumber kredibel, respons yang didapat sering kali bukan diskusi sehat, melainkan tuduhan “sok tahu” atau “kurang ajar”. Senioritas dijadikan tameng untuk menutupi ketidaktahuan, seolah usia tua otomatis menjamin kebenaran absolut dalam segala hal.

​Sikap merasa paling benar ini sering kali berakar dari pola pikir feodal yang masih melekat kuat. Ada anggapan bahwa yang muda harus selalu mendengar yang tua, tanpa peduli apakah yang tua itu rasional atau tidak. Kritik dianggap sebagai pembangkangan, bukan sebagai masukan untuk perbaikan bersama.

​Lebih jauh lagi, kita melihat adanya keterputusan hubungan yang parah dengan realita ekonomi modern. Para Boomer sering kali membandingkan perjuangan mereka membeli rumah di tahun 80-an atau 90-an dengan kesulitan anak muda sekarang. Mereka lupa bahwa variabel ekonominya sudah jauh berbeda dan tidak seimbang.

​”Dulu Bapak gaji sekian bisa beli tanah luas, kalian kok boros sekali?” Kalimat ini sering terlontar tanpa memperhitungkan inflasi gila-gilaan. Kenaikan harga properti hari ini tidak berbanding lurus dengan kenaikan upah minimum. Apa yang mereka sebut “kerja keras” dulu, kini harus dilipatgandakan hanya untuk bertahan hidup.

​Mereka gagal melihat bahwa sistem ekonomi hari ini jauh

lebih predator. Pekerjaan tetap dengan uang pensiun yang mereka nikmati dulu kini menjadi barang langka. Generasi sekarang dihadapkan pada gig economy, kontrak kerja pendek, dan ketidakpastian karir yang membuat perencanaan masa depan menjadi sangat sulit.

​Namun, alih-alih bersimpati, mereka justru menuduh generasi muda lembek, boros, atau kebanyakan gaya. Istilah “Generasi Stroberi” sering dilemparkan sebagai ejekan.

Mereka menutup mata bahwa harga kopi kekinian yang sering diributkan itu hanyalah setitik debu dibandingkan harga DP rumah yang mencekik leher.

​Bagi Generasi Sandwich, tekanan ini terasa lebih ganda. Mereka terjepit antara merawat orang tua yang semakin menuntut (dan sering kali tidak punya dana pensiun yang cukup) dan membesarkan anak-anak di era yang serba mahal. Namun anehnya, sebagian dari mereka justru melanggengkan siklus toksik ini.

​Mereka sering kali termakan propaganda kesuksesan semu. Melihat postingan teman di Facebook yang pamer kesuksesan, mereka menuntut anak-anak atau pasangan mereka untuk mencapai standar yang sama, Mereka tidak sadar bahwa apa yang ditampilkan di media sosial adalah panggung sandiwara yang sudah diedit rapi.

​Propaganda politik juga memegang peran besar dalam membutakan mata mereka terhadap realita sosial. Banyak

dari mereka terjebak dalam fanatisme tokoh atau partai yang berlebihan. Kebijakan yang jelas-jelas merugikan rakyat kecil bisa mereka dukung mati-matian hanya karena “kata grup sebelah begini”.

​Ketidakmampuan melihat realita sosial juga terlihat dari cara pandang mereka terhadap isu mental health. Depresi, kecemasan, atau burnout sering kali dianggap sebagai “kurang ibadah” atau “kurang bersyukur”. Solusi yang mereka tawarkan sering kali simplistik dan mengabaikan kompleksitas psikologis manusia modern.

​Mereka menolak mengakui bahwa tekanan hidup zaman sekarang bisa merusak kewarasan. Bagi mereka, jika fisik tidak berdarah, berarti tidak sakit. Padahal, WHO dan berbagai lembaga kesehatan dunia sudah menyatakan bahwa krisis kesehatan mental adalah ancaman nyata bagi produktivitas dan kualitas hidup global.

​Dalam konteks pekerjaan, benturan budaya ini sangat terasa. Boomer dan Gen X awal terbiasa dengan budaya “asal bapak senang” dan loyalitas buta pada perusahaan. Ketika anak muda menuntut work-life balance atau remote working, mereka dianggap malas dan tidak punya dedikasi.

​Padahal, teknologi telah mengubah cara kita bekerja, Produktivitas tidak lagi diukur dari berapa lama kita duduk di kantor, tapi dari hasil yang dicapai. Namun, mereka yang out of touch ini bersikeras bahwa cara lama adalah satu-satunya cara yang benar, menghambat inovasi dan efisiensi di

tempat kerja.

​Kecenderungan untuk menolak perubahan ini sebenarnya adalah mekanisme pertahanan diri, Dunia berubah terlalu cepat bagi mereka, dan itu menakutkan, Mengakui bahwa cara mereka sudah usang berarti mengakui bahwa mereka tidak lagi relevan. Maka, penyangkalan menjadi jalan pintas yang paling nyaman.

​Mereka lebih memilih hidup dalam gelembung nostalgia, di mana harga beras murah dan tetangga saling kenal, meskipun dunia di luar sana sedang terbakar oleh krisis iklim dan ketimpangan sosial. Isu lingkungan seperti pemanasan global sering kali dianggap angin lalu atau bahkan konspirasi elit global.

​Sikap “anti-sains” juga sering muncul ketika membahas isu-isu krusial. Saat pandemi lalu, kita melihat betapa banyaknya orang tua yang menolak vaksin atau protokol kesehatan karena percaya teori konspirasi yang disebar di grup WhatsApp. Akibatnya fatal, namun rasa bersalah itu jarang sekali muncul.

​Ada juga aspek toxic parenting yang dibalut dengan dalih “demi kebaikan”. Mereka menuntut anak menjadi PNS atau dokter karena di masa mereka itu adalah puncak kesuksesan. Mereka buta bahwa sekarang menjadi content creator atau data scientist bisa jauh lebih menjanjikan secara finansial.

​Pemaksaan kehendak ini sering kali mematikan potensi

anak. Anak dipaksa menjalani mimpi orang tua yang tertunda, bukan mengejar passion mereka sendiri, Ketika anak gagal, lagi-lagi anak yang disalahkan karena dianggap tidak serius, padahal jalurnya memang tidak cocok.

​Generasi Sandwich yang menjadi “korban” orang tua mereka, terkadang tanpa sadar menjadi “pelaku” bagi anak-anak mereka. Mereka mengeluh beban hidup berat, tapi menolak memahami bahwa struktur ekonomi makro lah yang bermasalah, bukan sekadar kurang usaha. Mereka terjebak dalam hustle culture yang merusak.

​Propaganda tentang “Hidup adalah kompetisi” membuat mereka sulit berempati. Jika ada tetangga yang jatuh miskin, narasi yang muncul adalah “pasti dia malas”, bukan melihat apakah ada sistem jaminan sosial yang gagal, Pandangan yang sangat individualistis ini menghambat terciptanya solidaritas sosial yang kuat.

​Selain itu, mereka sering kali gagap menghadapi keberagaman dan inklusivitas modern. Isu-isu gender, kesetaraan hak, dan toleransi yang diperjuangkan anak muda dianggap sebagai “pengaruh barat yang merusak moral”, Mereka berlindung di balik tameng “adat ketimuran” untuk menolak kemajuan cara berpikir.

​Keengganan untuk belajar hal baru atau unlearn kebiasaan lama adalah tembok terbesar. Ketika diajari cara menggunakan aplikasi m-banking atau e-commerce dengan aman, mereka sering kali menolak dengan alasan “ribet”,

Tapi ketika saldo hilang karena phishing, bank yang disalahkan.

​Sikap defensif ini membuat dialog antar-generasi menjadi jalan buntu. Anak muda memilih diam atau “iya-iyain aja” demi menjaga kedamaian rumah tangga, sementara orang tua merasa validasi semu bahwa mereka didengarkan, Padahal, di belakang, jurang pemahaman itu makin lebar menganga.

​Realita pahitnya adalah, dunia tidak akan menunggu mereka untuk mengerti. Inflasi akan terus berjalan, teknologi akan terus berkembang, dan nilai-nilai sosial akan terus bergeser, Menutup mata dan telinga tidak akan menghentikan laju zaman, hanya akan membuat mereka semakin tertinggal di belakang gerbong peradaban.

​Kita perlu mengakui bahwa ada rasa kasihan. Mereka adalah produk dari zamannya, zaman di mana informasi terbatas dan otoritas tidak boleh dipertanyakan. Namun, di era informasi terbuka ini, ketidaktahuan yang dipelihara adalah sebuah pilihan, bukan lagi nasib yang tak bisa diubah,

​Solusinya bukan dengan memusuhi mereka, tapi juga bukan dengan membenarkan kesalahan mereka, Perlu ada ketegasan dari generasi muda untuk menetapkan batasan (boundaries). Bahwa hoaks tidak bisa ditoleransi, dan pandangan usang tentang ekonomi tidak bisa dijadikan patokan hidup masa kini.

​Pendidikan literasi digital untuk lansia dan pra-lansia

sebenarnya sangat mendesak. Sayangnya, ego sering kali lebih tinggi daripada keinginan untuk belajar, Mereka merasa sudah makan asam garam kehidupan, padahal garam yang mereka makan itu sudah berbeda rasanya dengan garam hari ini.

​Pada akhirnya, kita semua menginginkan kehidupan yang sejahtera dan harmonis. Namun, hal itu tidak akan tercapai jika satu pihak terus merasa paling benar sambil menutup mata pada fakta. Menjadi tua itu pasti, tapi menjadi dewasa dan bijak dalam melihat realita adalah pilihan yang harus diperjuangkan setiap hari.

​Kita butuh orang tua yang bisa menjadi teman diskusi, bukan komandan upacara. Kita butuh Generasi Sandwich yang berani memutus rantai trauma, bukan meneruskannya. Hanya dengan membuka mata pada realita pahit seburuk apapun itu kita bisa mulai mencari obat yang tepat untuk menyembuhkan penyakit sosial ini.

Ungaran, 17 Januari 2026

Terkait

Previous Post

Belajar Berpihak pada Korban: Kopinang, Aurelie Moeremans, dan Etika Al-Hujurat

Next Post

Catatan Kecil tentang Gerakan Lingkungan Hari Ini

Jovi Fernando Setiawan

Jovi Fernando Setiawan

Next Post
Catatan Kecil tentang Gerakan Lingkungan Hari Ini

Catatan Kecil tentang Gerakan Lingkungan Hari Ini

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.