Oleh: Fathin Robbani Sukmana
Dalam rilis kominfo.go.id pada tahun 2017 meyebutkan UNESCO menyebutkan Indonesia urutan kedua dari bawah soal literasi dunia, artinya minat baca sangat rendah. Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya dari 1000 orang Indonesia cuma 1 orang yang rajin membaca
Riset berbeda bertajuk World’s Most Literate Nations Ranked yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Padahal, dari segi penilaian infrastuktur untuk mendukung membaca, peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa.
Ironisnya lagi mayoritas masyarakat Indonesia adalah Muslim, Indonesia merupakan negara muslim terbesar dunia. Berdasarkan data Global Religius Future, penduduk Indonesia yang beragama Islam pada 2010 mencapai 209,12 juta jiwa atau sekitar 87% dari total populasi. Kemudian pada 2020, penduduk muslim Indonesia diperkirakan akan mencapai 229,62 juta jiwa.
Masalah Membaca
Mau bagaimanapun data di atas merupakan sebuah evaluasi bagi masyarakat muslim yang berpedoman Al-Qur’an. Data tersebut dapat di konfirmasi dari berbagai hal, baik dari media sosial, fenomena di masyarakat dan lainnya.
Data kurang baca masyarakat muslim dapat dibuktikan oleh Pertama, masyarakat muslim kebanyakan hanya membaca judul artikel, ini terlihat di media sosial, muslim Indonesia lebih banyak nyinyir menanggapi sesuatu.
Baca Juga: “Iqra” Bukan Hanya Sekedar Membaca
Contoh saja beberapa kasus artikel di beberapa media yang selalu menganggap “liberal” karena banyak muslim yang hanya membaca judulnya, belum memahami isinya, bahkan tidak membaca isinya. Ini menyebabkan perbedaan pemahaman maksud pembaca dan penulis artikel di media itu.
Kedua, baru-baru ini masyarakat gempar oleh kabar dukhan dan meteor pada 15 ramadhan lalu. Kaum muslim banyak yang mengikuti beberapa perkataan orang yang dianggap ustad, padahal hadistnyapun tidak jelas. Dua kejadian di atas tentu menjadi evaluasi umat muslim agar dapat meningkatkan bacaan baik secara teks agama ataupun kontekstual lingkungan.
Ramadhan Sarana Mengisi Keilmuan
Sebagai bulan turunnya Al Qur’an atau bisa disebut bulannya literasi, Ramadhan harus dimanfaatkan muslim sebagai sarana meningkatkan keilmuan, sudah jelas dalil tentang wajibnya menuntut ilmu. Rasulullah SAW bersabda “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah).
Selain itu perintah membaca dan menulis juga sudah jelas dalam surat Al-Alaq ayat 1-5, lalu Allah SWT juga menjanjikan meninggikan derajat orang berilmu dalam surat Al-Mujadilah ayat 11. Maka tidak ada alasan lagi untuk tidak membaca dan menulis.
Sudah saatnya umat muslim khususnya generasi muda dapat memperbanyak membaca buku, membaca keadaan lingkungan, serta menuliskan gagasan dan bantahan terhadap suatu fenomena, serta mengurangi nyinyir di media sosial. Mungkin refleksi keilmuan di akhir ramadhan agar kedepan menjadi bulan-bulan yang lebih mencerahkan.
Penulis adalah Ketua Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Cibitung
Editor: Dartim I.R.