Oleh: Ibrahim Najmuddin
Pernah nggak, pas lagi bengong sore-sore, tiba-tiba kepikiran pertanyaan filosofis yang bikin otak mau meledak? Kayak gini contohnya: “Kalau Allah Maha Tahu segalanya termasuk siapa yang bakal masuk surga atau neraka terus buat apa kita capek-capek ibadah atau kerja keras sekarang? Toh, hasilnya udah ketahuan, kan?”.
Jujur aja, pertanyaan ini emang mind-blowing banget dan sering bikin kita jadi ngerasa “ya sudahlah” sama hidup. Tapi, coba deh kita pakai logika yang lebih simpel. Bayangin kamu lagi nonton rekaman pertandingan bola. Kamu udah tahu skor akhirnya, tapi pemain di lapangan saat itu pertandingannya lagi live nggak tahu apa-apa. Mereka tetap harus lari, keringatan, dan berjuang buat cetak gol. Pengetahuan kamu soal hasil akhir nggak bikin usaha mereka jadi nggak berguna, kan?
Sama halnya dengan kita. Masalahnya seringkali ada di cara pandang kita yang terbatas. Kita ini ibarat makhluk dua dimensi yang dipaksa mahamin konsep tiga dimensi atau bahkan waktu. Gampang banget buat kita terjebak dalam pikiran “semuanya sudah fix”, padahal di saat yang sama, kita dikasih kuasa buat memilih.
Dalam sebuah potongan podcast antara ustadz Felix Siau, Raymond Chin, Verrel, dan bang Koi tentang konsep takdir Tuhan ada diskusi seru tentang konsep takdir Tuhan tersebut, jangan sampai pengetahuan Tuhan yang tak terbatas malah bikin kamu kehilangan semangat buat gerak. Karena pada akhirnya, meski “skenario” besarnya sudah ada, kamu tetaplah aktor yang pegang kendali atas pilihan-pilihanmu hari ini.
Jadi, daripada pusing mikirin “catatan” di masa depan yang kita sendiri nggak tahu isinya apa, mending fokus ke apa yang bisa kita lakuin sekarang. Penasaran gimana cara sinkronin antara takdir dan usaha tanpa bikin kepala pusing.
Bayangin hidup ini kayak sebuah game open-world. Memang benar developer-nya sudah bikin semua kemungkinan ending, tapi karakter yang kamu mainin nggak bakal pindah level kalau kamu cuma naruh controller-nya di lantai. Di sinilah letak serunya: pengetahuan Tuhan yang tak terbatas itu bukan penjara, melainkan bukti bahwa Dia Maha Tahu atas segala potensi yang kita miliki.
Kalau kamu butuh landasan hukum yang kuat soal kenapa usaha itu wajib hukumnya, jawabannya ada di Al-Qur’an, tepatnya dalam Surat Ar-Ra’d ayat 11. Potongan ayat yang paling populer berbunyi:
“…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…”
Ayat ini adalah “booster” paling mutakhir buat kita. Allah secara gamblang bilang kalau perubahan itu kuncinya ada di tangan kita. Tapi, gimana sih para ulama besar melihat ayat ini supaya nggak salah paham.
Salah satu rujukan yang paling mendalam adalah Tafsir Al-Misbah karya M. Quraish Shihab. Dalam bukunya tersebut, beliau menjelaskan bahwa ayat ini bicara tentang dua sisi “perubahan”. Allah memang penentu segalanya, tapi Dia menetapkan sebuah hukum alam (sunnatullah) bahwa perubahan nasib, baik itu dari susah ke senang, atau bodoh ke pintar harus dimulai dari perubahan internal manusia itu sendiri.
Menurut Quraish Shihab, yang dimaksud dengan “apa yang ada pada diri mereka” bukan cuma soal fisik, tapi soal mentalitas, cara berpikir, dan niat. Kalau kamu mau nasibmu berubah, jangan cuma nunggu keajaiban jatuh dari langit, tapi ubah dulu mindset-mu dari malas jadi konsisten. Selain itu, dalam Tafsir Al-Azhar, Buya Hamka juga menekankan hal serupa.
Buya Hamka menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan betapa Islam sangat menghargai kemauan manusia. Allah memberikan kita “kehendak bebas” (ikhtiar) untuk memilih jalan hidup. Beliau menggambarkan bahwa Allah tidak akan mencabut nikmat dari suatu bangsa atau individu, kecuali orang-orang tersebut sendiri yang merusak jiwanya dengan keburukan. Begitu juga sebaliknya, kesengsaraan nggak akan hilang kalau kita sendiri nggak mau bangun dan berbenah.
Balik lagi ke bahasan konsep takdir dalam podcast ustadz Felix dan Raymond Chin itu. Seringkali kita bingung karena mencampuradukkan “Pengetahuan Tuhan” dengan “Paksaan Tuhan”. Padahal itu dua hal berbeda. Tuhan tahu kamu bakal sukses di masa depan bukan karena Dia “memaksa” kamu sukses tanpa usaha, tapi karena Dia sudah tahu pilihan-pilihan hebat apa yang bakal kamu ambil hari ini. Pengetahuan-Nya mendahului waktu, tapi tidak mematikan fungsi usahamu.
Misalnya nih, kamu pengen banget masuk jurusan favorit. Kamu belajar mati-matian, ikut bimbel, dan berdoa. Apakah Allah tahu kamu bakal lolos? Pasti tahu. Tapi, apakah kamu tahu? Enggak. Karena kamu nggak tahu, tugasmu adalah melakukan yang terbaik seolah-olah semuanya bergantung pada usahamu, dan berdoa seolah-olah semuanya bergantung pada Allah.
Oleh karena itu ada ungkapan yang sangat popular “ihktiyar maksimal, barulah kita bertawakkal”. Ungkapan ini bermakna kita sebagai manusia tetap harus berusaha, karena dalam kehidupan ada yang Namanya proses dan hasil. Hasil tidak akan bisa didapat Ketika tidak ada prosesnya, begitu juga dengan takdir ini, Allah telah memberi keistimewaan pada manusia, Allah memberikan kehendak kepada manusia agar manusia bisa berusaha dan memilih jalan mana yang ia ambil, bukan hanya sebatas pasrah dengan apa yang menimpa kita tanpa berusaha untuk mengubah masalah tersebut.
Dengan memperbaiki kualitas diri mulai dari niat hingga aksi nyata kita sebenarnya sedang bekerja sama dengan semesta untuk membuka pintu takdir baru yang jauh lebih keren. Karena ketika kita berani mengubah apa yang ada di dalam diri kita, maka dunia di sekitar kita, termasuk orang-orang yang ada di dalamnya, pasti akan ikut berubah dengan sendirinya.
Jadi, buat kita terutama yang masih remaja, jangan lagi melihat takdir sebagai alasan untuk malas bergerak atau pasrah pada hubungan yang tidak sehat. Takdir adalah kolaborasi antara kasih sayang Tuhan dan kerja keras kita. Allah itu Maha adil, Dia tidak akan membiarkan usaha hamba-Nya sia-sia.
Editor: Astyra Gita