Oleh: Nur Alifah Muyasaroh (Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Surakarta)
Era digital saat ini, wajah Islam tidak hanya dibentuk oleh para ulama dan tokoh agama saja, tetapi juga oleh para influencer yang aktif di media sosial. Dari TikTok, Instagram, YouTube, hingga podcast, banyak sosok muda yang memanfaatkan platform ini untuk menyuarakan nilai-nilai Islam dengan gaya yang ringan dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mereka bukan hanya menjadi panutan dalam gaya hidup, tapi juga sebagai penyampai pesan-pesan keagamaan yang dikemas secara modern dan menarik.
Fenomena ini menunjukkan bahwa dakwah tidak lagi terbatas pada mimbar masjid atau panggung pengajian. Influencer Muslim kini hadir dengan pendekatan yang lebih komunikatif dan relatable, menyentuh isu-isu kekinian seperti self-healing dalam Islam, pentingnya salat di tengah kesibukan, hingga pembahasan tentang mental health dalam perspektif syariah. Ini membuat ajaran Islam lebih mudah dipahami dan diterima, terutama oleh generasi muda yang menjadi pengguna aktif media sosial.
Namun, perubahan ini tentu tidak datang tanpa tantangan. Ada pertanyaan besar yang muncul: apakah semua konten yang dibagikan oleh para influencer ini dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan? Tidak sedikit yang menyayangkan ketika pesan-pesan agama disampaikan hanya demi popularitas. Dalam beberapa kasus, interpretasi yang dangkal atau bahkan keliru bisa tersebar luas karena viralitas konten. Di sinilah peran kritis dari masyarakat, terutama generasi muda, untuk tidak menelan mentah-mentah informasi yang mereka konsumsi di media sosial. Oleh karena itu, generasi ini perlu memiliki keterampilan kritis untuk menilai informasi dan memisahkan mana yang benar dan mana yang tidak, serta menghindari konten yang mengandung hoaks atau pemahaman yang menyimpang (Ahmad Nurrohim, 2025).
Kehadiran para influencer Muslim juga membawa warna baru dalam penyampaian dakwah. Mereka mampu memadukan nilai-nilai Islam dengan gaya komunikasi yang ringan dan kekinian, tanpa mengurangi esensi dari ajaran yang disampaikan. Misalnya, melalui storytelling, humor, atau gaya sinematik dalam video dakwah, mereka membuat Islam tampil sebagai agama yang ramah, penuh kasih sayang, dan relevan dengan persoalan hidup modern.
Banyak dari influencer ini juga membawa narasi tentang hijrah, perjalanan spiritual dari kehidupan sebelumnya menuju kehidupan yang lebih Islami. Kisah-kisah ini tidak hanya menginspirasi, tetapi juga memberikan harapan dan motivasi bagi para pengikutnya. Lewat konten mereka, Islam tidak lagi dipandang sebagai ajaran yang kaku atau berat, melainkan sebagai pedoman hidup yang penuh kedamaian dan solusi.
Di sisi lain, kehadiran influencer juga membuka ruang diskusi dan dialog antarumat Islam dari berbagai latar belakang. Tidak jarang, mereka mengangkat isu-isu yang sebelumnya dianggap tabu, seperti kesehatan mental, peran perempuan dalam Islam, atau tantangan beragama di era modern. Diskusi ini memperluas wawasan dan membangun kesadaran bahwa Islam bukan hanya tentang ibadah ritual, tetapi juga menyentuh semua aspek kehidupan.
Namun demikian, penting untuk disadari bahwa tidak semua influencer memiliki latar belakang pendidikan agama yang kuat. Maka dari itu, kolaborasi antara ulama, pendidik, dan influencer menjadi sangat penting untuk memastikan bahwa pesan yang disampaikan tetap berada dalam koridor kebenaran syariat. Influencer bisa menjadi jembatan antara ulama dan generasi muda, menyampaikan nilai-nilai agama dengan bahasa yang lebih mudah dipahami, namun tetap mendalam secara makna.
Peran masyarakat juga sangat penting dalam menyaring konten yang mereka konsumsi. Sikap kritis, aktif mencari referensi dari sumber terpercaya, dan berdiskusi dengan tokoh agama bisa menjadi cara untuk memastikan bahwa pemahaman kita terhadap Islam tidak hanya terbentuk oleh algoritma media sosial, tetapi juga oleh ilmu yang benar dan akurat.
Islam di era digital adalah Islam yang hadir di tengah hiruk pikuk informasi, tren, dan perubahan budaya yang sangat cepat. Para influencer telah mengambil peran penting dalam menyuarakan wajah Islam yang dinamis, terbuka, dan inspiratif. Namun, penting untuk terus mengingat bahwa media sosial hanyalah sarana, bukan sumber utama kebenaran agama. Maka, peran ulama tetap tidak tergantikan dalam menjaga kemurnian ajaran Islam. Di tengah kemajuan teknologi, kehadiran para influencer Muslim bisa menjadi berkah besar selama digunakan dengan niat yang lurus dan ilmu yang cukup. Dengan kolaborasi antara pengetahuan agama yang kuat dan pemahaman media yang cerdas, kita dapat menciptakan generasi Muslim yang tidak hanya religius secara spiritual, tetapi juga cerdas secara digital.
Dengan demikian, bisa kita simpulkan bahwa peran influencer dalam membentuk wajah Islam hari ini menunjukkan bahwa dakwah dan penyebaran nilai-nilai keislaman telah berevolusi mengikuti perkembangan zaman. Dengan pendekatan yang lebih kreatif dan dekat dengan kehidupan sehari-hari, para influencer mampu menjangkau generasi muda secara luas. Namun, penting untuk memastikan bahwa konten yang disebarkan tetap berlandaskan ilmu yang benar dan tidak terjebak dalam tren semata. Kolaborasi antara influencer, ulama, dan masyarakat menjadi kunci dalam menjaga kemurnian ajaran Islam sekaligus menyajikannya secara relevan di era digital ini.
Editor: Rafidah Azis