Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Fenomena Gen Z: Cerdas Digital, Tapi Krisis Mental dan Sosial Serta Jalan Keluar dari Perspektif Islam dan Al-Qur’an

Muhammad Mahira Haqiqi by Muhammad Mahira Haqiqi
Oktober 7, 2025
in Esai, Narasi
0
Fenomena Gen Z: Cerdas Digital, Tapi Krisis Mental dan Sosial Serta Jalan Keluar dari Perspektif Islam dan Al-Qur’an
24
SHARES
144
VIEWS

Oleh: Muhammad Mahira Haqiqi (Mahasiswa UMS jurusan Ilmu Al-Quran dan Tafsir)

Istilah gen Z mungkin sudah sangat tidak asing di telinga kita. Tapi apakah kita mengetahui siapa saja yang dapat di kategorikan sebagai generasi Z? Pada umumnya orang yang lahir sekitar tahun 1996–2012 dapat dikategorikan sebagai generasi Z. Generasi ini lahir di era penuh problematik mulai dari isu politik hingga isu sosial. Selain itu, generasi ini tumbuh di era globalisasi yang mana mampu membawa dampak dalam perubahan sikap dan perilaku (Nurrohim , 2024). Generasi ini juga tumbuh di tengah pesatnya perkembangan era digitalisasi yang mana teknologi dan internet sudah menjadi makanan sehari-hari (Nurrohim , 2024).  Era dimana internet, smartphone dan media sosial semakin mendominasi kehidupan yang mana awal kemunculannya hanya di gunakan sebagai sarana alat komunikasi. Akan tetapi di tangan generasi ini teknologi disulap menjadi alat mengekpresikan diri, mencari informasi bahkan membangun karir atau personal branding (Darmansyah , 2024). Bahkan Generasi ini memiliki jumlah yang tidak sedikit setidaknya 30% populasi manusia di bumi adalah gen Z. Dan menjadikannya generasi terbesar sepanjang sejarah (Dimock, 2019).

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Generasi ini juga memiliki karateristik yang sangat unik. Yang mana karakteristik unik ini membuat mereka mampu melihat dunia dengan cara yang lain. Diantara karakteristik unik tersebut adalah :

  1. Digital native atau bahasa mudahnya ketergantungan dengan teknologi. Yang mana menurut penelitian 95% remaja memilik akses terhadap internet. Dan 45% nya menggunakan internet secara terus-menerus. Yang mana ketergantungan ini justru mempengaruhi cara mereka belajar, bersosialisasi dan mengonsumsi informasi.
  2. Memiliki kemampuan multi tasking yang tinggi. Gen Z ini terbiasa mengegola berbagai tugas secara bersamaan dan menurut mereka itu lebih efektif. Tentu sebenarnya ini menjadi poin plus tersendiri yang mana kemampuan ini membuat pekerjaan lebih cepat terselesaikan. Namun juga menjadi tantangan tersendiri pada kondisi tertentu yang mana didalamnya mengharuskan pengunaan konsentrasi yang mendalam.
  3. Lebih cepat mengakses informasi. Generasi ini juga memiliki akses informasi yang sangat cepat. Pengunaan platform seperti google, youtube, tiktok, Instagram dan lain-lain menjadi faktor utama. Akan tetapi, kecepatan dalam mengakses ini menjadi tantangan tersendiri yang mana masalah utamanya yakni memastikan keakuratan dari informasi yang didapatkan. Kemampuan membedakan antara fakta dan hoaks menjadi poin krusial yang perlu di perhatikan. Selain itu, kecepatan dalam mengakses informasi cenderung membuat generasi Z ini lebih menyukai informasi yang instan yang mana hal itu dapat menghilangkan tradisi berpikir kritis.

Selain tiga karaketristik diatas masih banyak karakteristik yang lain contohnya gen Z ini memiliki sikap yang cenderung pragmatis yang mengakibatkan pada pemilihan pendidikan. Yang mana mereka lebih mengutamakan pendidikan yang memiliki prsopek kerja yang lebih luas dan lebih baik. Sikap ini muncul dikarenakan generasi Z ini tumbuh di tengah ketidakpastian ekonomi global yang mana mengakibatkan generasi ini lebih fokus untuk menjaga kestabilan finansial.

Akan tetapi seiring berjalannya zaman, masalah yang dihadapi manusia juga semakin beragam. Mulai dari hal yang sederhana hingga hal yang cukup kompleks. Kesehatan mental mendapat perhatian besar disini dan menjadi salah satu musuh terberat generasi Z ini (Nurrohim , 2024). Bahkan jika kita merujuk pada penelitian yang dilakukan oleh AXA Study of Mind Health and Wellbeing pada tahun 2023 tercatat 53 % generasi Z didunia melaporkan bahwasanya mereka sudah terkena gangguan mental. Bahkan di Indonesia tercatat ada sekitar 1.350-1.455 kasus bunuh diri. Yang sebagian besar teridentifikasi bahwa penyebab utamanya adalah gangguan mental. Dari angka-angka tersebut kita dapat mengetahui bahwasanya gangguan mental bukan lagi hal yang bisa dianggap sepele dan merupakan salah satu problematika besar yang dihadapi oleh manusia pada zaman ini (Nurrohim , 2024).

Selain krisis mental, generasi ini juga menghadapi satu masalah besar yakni krisis sosial. Yang mana krisis sosial ini dapat di tandai dengan lemahnya empati, kurangnya solidaritas, meningkatnya konflik di masyarakat dan masih banyak lagi. Yang seperti kita ketahui bersama manusia ini tergolong sebagai makhluk sosial yang mana manusia tetap memperlukan bantuan dan interaksi dari manusia lainnya. Bahkan Aristoteles menyebutkan bahwasanya manusia merupakan zoon politikon yakni makhluk yang kodratnya bermasyarakat.

Lalu apa solusi untuk mengatasi problematika yang terjadi di masyarakat terkhusus dua masalah besar yakni krisis mental dan sosial? Lalu adakah peranan islam dalam mengatasi problematika yang terjadi di lingkungan masyarakat?.

Agama dan krisis  yang terjadi di masyarakat sebenarnya memiliki keterkaitan. Dimana seperti kita ketahui Bersama bahwasanya agama merupakan pedoman hidup umat dan juga sumber moral. Yang mana membentuk perilaku keseharian serta mengarahkan individu untuk mengutamakan kepentingan Bersama. Selain itu pengamalan nilai-nilai islam juga dapat mengatasi krisis yang terjadi di lingkungan masyarakat. Contohnya saja di dalam Islam terdapat perintah sholat 5 waktu. Dalam pandangan Islam sholat selain merupakan sebuah kewajiban, sholat juga dapat di jadikan juga sebagai wadah untuk melepaskan semua beban dan pikiran buruk. Yang mana tentunya setelah kita melaksanakan sholat dengan khusyu’ maka hati kita akan menjadi lebih tenang dan hal ini bisa menjadi salah satu solusi untuk mengatasi krisis mental yang terjadi di masyarakat.

Dan Al-Qur’an sendiri memberikan solusi untuk mengatasi krisis sosial. Cara tersebut yakni meningkatkan frekuensi komunikasi yang mana memiliki  manfaat antara lain mencegah salah paham, menumbuhkan rasa empati dan masih banyak lagi. Dan perlu di ketahui bahwasanya meningkatkan frekuensi komunikasi hanya sebagai pintu awal yang harus di barengi dengan pendidikan karakter, keadilan sosial-ekonomi, hukum adil, serta dukungan kesehatan mental. Dalam perspektif Al-Quran sendiri etika berkomunikasi tidak hanya mencakup aspek verbal, tetapi juga lewat sikap dan perilaku nonverbal yang mencerminkan adab dan kesopanan. contoh tersenyum dan menundukkan pandangan. Al-Qur’an juga mengajarkan pentingnya berkata jujur, perkataan yang baik, lemah lembut dan perkataan yang berbobot dalam berkomunikasi. Hal ini di lakukan demi menciptakan lingkungan yang harmoni (Nurrohim , 2024).

Jadi sebenarnya dalam Al-Qur’an dan Islam sendiri didalamnya terkandung jawaban-jawaban dari problematika yang timbul di masyarakat. Dan akhirnya semua itu kembali ke diri pribadi masing-masing. Apakah kita mau mempelajari serta mengamalkan nilai-nilai Islam dan Al-Qur’an pada kehidupan sehari-hari atau tidak?Apakah kita mau menjadikan agama sebagai pedoman hidup? Dan tugas kita sebagai manusia juga hendaknya saling mengingatkan satu sama lain. Lalu terakhir semoga Allah selalu menjaga kita dari segala problematika yang muncul pada zaman ini aamiiin.

Editor: Astyra Gita Kinanti

Terkait

Tags: mentalMoralPeradabanSosialTeknologi
Previous Post

Tim Tapak Suci PPDMS Raih Prestasi Gemilang di Kejuaraan Pencak Silat Wali Kota Cup Palembang 2025

Next Post

Peran Influencer dalam Membentuk Wajah Islam Hari Ini

Muhammad Mahira Haqiqi

Muhammad Mahira Haqiqi

Next Post
Peran Influencer dalam Membentuk Wajah Islam Hari Ini

Peran Influencer dalam Membentuk Wajah Islam Hari Ini

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.