Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Pancasila dan Egoisme Beragama

Muhammad Taufik Ismail by Muhammad Taufik Ismail
Juni 18, 2020
in Esai
0
indonesia
44
SHARES
256
VIEWS

“Jangan kau seperti Iblis, hanya melihat air dan lumpur ketika memandang Adam. Lihatlah di balik lumpur,  beratus-ratus ribu taman yang indah”.

Konteks kata-kata Rumi ini berpijak dari cerita diusirnya Iblis dari surga, karena kesombongan, dan perspektif yang sempit tentang Adam. Rumi seperti ingin mengingatkan, bahwa miskinnya perspektif, yang melahirkan egoisme, fanatisme, merupakan bibit dari semua perseteruan, konflik dan mala petaka. Sifat egois ini juga hadir dalam cara beragama masyarakat dewasaini. berawal dari sifat egoisme beragama inilah, manusia sering berkonflik dan berpecah belah.

Lihat saja bagaimana ketidakmampuan menerima yang berbeda, disertai usaha menyeragamkan, yang berpretensi ingin membenarkan, atau lebih ekstrim menghancurkan, karena dianggap sudah terlewat batas selalu menjadi awal konflik. Sifat dan sikap ini yang senantiasa menjadi akar konflik masyarakat, bahkan negara pecah belah juga karena ini. Pecahnya India melahirkan Pakistan dan Bangladesh merupakan contoh terbaik.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Akar Problem

Tampaknya akar problem ini sudah dibaca oleh pendiri bangsa Indonesia. Soekarno misalnya, dalam pidato 1 Juni 1945, menguraikan prinsip Ketuhanan sebagai bertuhan tanpa egoisme agama. Yudi Latif (2017) menjabarkan pidato Soekarno ini sebagai konsep beragama yang berkebudayaan. Artinya beragama tanpa harus meninggalkan identitas sebagai bangsa Indonesia.

Semangat bertuhan tidak lantas menegasikan kemanusiaan, justru karena bertuhan, semakin dekat denganNya, semakin menciptakan kelembutan, kasih sayang, dan sikap keagamaan yang lapang dan toleran. Artinya, proses bertuhan merupakan proses meniru, mendekati, menjiwai sifat cinta kasih Tuhan. Hal ini ditegaskan Islam, sifat paling dominan Allah tercermin dalam dua sifat yang sering kali diucapkan, ar rahman (pengasih) dan ar rohim (penyayang).

Bukankah Al Quran secara jelas menyampaikan. “Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan.” (QS. Al An’am: 108).

Dalam rapat penentuan dasar negara, yang rata-rata dari tokoh muslim, mereka tidak lantas egois, ingin menjadikan Indonesia menjadi negara Islam. Mereka memilih jalan tengah (moderat), dari dua kutub ekstrim, negara sekuler dan negara agama, yang akhirnya melahirkan negara berdasarkan Pancasila. Ini merupakan ijtihat terbaik sekaligus kreatif, mengingat Islam adalah rahmatan lil alamin. Hal ini juga sesuai dengan tujuan hukum Islam maslahah mursalah.

Pancasila Sebagai “Kalimatun Sawa”

Sifat Pancasila yang mendamaikan, mengayomi sebagai konsensus dasar negara, mirip dengan konsensus piagam Madinah yang dicetuskan Nabi. Melalui piagam Madinah, Nabi membangun ulang relasi antar suku yang bersitegang, mendamaikan dan tidak egois memaksakan kebenaran Islam yang di bawa Nabi. Akhirnya Nabi mampu membangun perspektif, perbedaan tidak lagi menjadi perdebatan dan konflik, melainkan ditransformasikan menjadi sebuah fakta yang harus diterima dan merupakan rahmat.

Sikap lapang dada, tidak egois juga tercermin dengan disepakatinya penghapusan tujuh kata dalam sila pertama. “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”, lantas diganti dengan “Yang Maha Esa”. Peristiwa ini juga mirip dengan perjanjian damai Hudaibiyah, antara Nabi dan pihak pagan Quraish.

Sikap Nabi dan para pendiri bangsa merupakan cermin, menyelesaikan perdebatan tidak bisa berdasarkan egoisme, pemaksaan pendapat, apalagi jalan kekerasan. Jalan damai selalu ada, jika kita membuka pikiran, mau mendengarkan yang berbeda, dan ini merupakan jalan kebijakan menuju kedamaian.

Jika kita merenungkan berbagai konflik, kekerasan atas nama agama, baik internal maupun eksternal. Selain dipengaruhi kepentingan sosial politik, perebutan sumber daya, satu hal yang tidak bisa lepas adalah miskinnya perspektif dan egoisme.

baca juga Pancasila, Saatnya Membahas Masalah yang Lebih Substantif

Dalam internal agama, kita melihat ISIS yang begitu mudah mengkafirkan, sekaligus membunuh sesama muslim, hanya karena beda paham. Dalam sejarah konflik Wahabi dengan Turki Utsmani, juga dilatari dari tidak mau menerima perbedaan. Armstrong (2014) mencatat, Muhammad ibn Abdul-Wahab, pendiri Wahabi, menyatakan, Sultan Turki Utsmani yang tidak sejalan dengan paham Wahabi, akhirnya dinyatakan murtad, layak diperangi dan halal darahnya.

Dalam konflik antar umat beragama, biasa dimulai dari adanya klaim, bahwa pendapat kita yang paling benar mengenai agama lain. Berbekal pengetahuan yang sedikit mengenai agama lain, kemudian menjadi dasar menghukumi agama lain. Argumentasi yang seperti ini, sebenarnya secara tidak langsung telah men-“tuhan”kan pendapat sendiri. Bukankah Iblis yang mengklaim dirinya lebih tinggi, lebih benar, lebih tahu dari Allah, sehingga ia berhak menghukumi Adam. Karena sikapnya yang seperti ini, akhirnya menciptakan malapetaka bagi Iblis sendiri.

Kesadaran Subjektif

Agama bisa diibaratkat satu mata uang yang mempunyai dua wajah. Agama bisa berwajah perdamaian, membangun, dan menghidupkan, jika dipahami dengan benar dan utuh. Namun, juga bisa berwajah peperangan, menghancurkan dan membunuh, jika dipahami secara parsial.

Sejarah telah membuktikan hal ini. Semangat keagamaan mampu menjadi pemantik semangat pembebasan Iran dari kecaman Pahlevi pada 1979. Hal serupa juga terjadi di Indonesia, kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari peran serta sentimen keagamaan.

Namun sejarah juga mencatat dengan air mata dan darah. Melalui semangat keagamaan, manusia saling membunuh, atas nama Tuhannya masing-masing. Perang Salib, Inkuisisi, perang agama abad 16 dan 17 membuktikannya. Sejarah agama memang diwarnai oleh realitas yang paradoksal, di satu sisi, menawarkan perdamaian, di sisi lain dapat menjadi sentimen memicu peperangan.

Ketika agama menjadi sentimen menghancurkan, menegasikan kemanusiaan, berarti ada salah dalam pemahaman agama.

Hal ini tidak bisa dilepaskan dari egoisme beragama. Sifat egoisme beragama menandakan kesadaran yang terbangun baru dalam tataran kesadaran subjektif. Berarti pertimbangan, pemikiran yang digunakan hanya berpusat pada diri sendiri, tidak mampu memikirkan orang lain. Kesadaran beragama ini yang kemudian menjadi akar egoisme, fanatisme, mudah mengkafirkan dan sikap eksklusif.

Terkait

Tags: egoisme beragamapancasila
Previous Post

Pancasila, Saatnya Membahas Masalah yang Lebih Substantif

Next Post

Muhammadiyah: Pembahasan RUU HIP Tidak Perlu Dilanjutkan

Muhammad Taufik Ismail

Muhammad Taufik Ismail

Next Post
sejarah pancasila sejarah muhammadiyah

Muhammadiyah: Pembahasan RUU HIP Tidak Perlu Dilanjutkan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.