Selasa, Oktober 6, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Negeri di Bawah Kabut

Shela Kusumaningtyas by Shela Kusumaningtyas
Juni 18, 2020
in Cerpen
0
Negeri di Bawah Kabut
149
SHARES
875
VIEWS

Ketika aktivis perempuan, Kalis Mardiasih mencuitkan tentang film dokumenter Negeri di Bawah Kabut yang telah diunggah di akun Youtube Negeri Films. Saya langsung bergegas berkunjung ke laman akun tersebut. Kesempatan tersebut tidak saya lewatkan karena saya tahu, film yang dirilis pertama kali pada tahun 2011 ini telah menyabet berbagai penghargaan bergensi di dalam maupun luar negeri.

Sederet penghargaan yang pernah digondol film yang disutradarai Shalahuddin Siregar ini di antaranya adalah Special Jury Prize Muhr Asia-Africa Documentary Dubai International Film Festival 2011 dan Best Debut Documentary Almaty Film Festival 2013. Saya merasa beruntung karena bisa menikmati film indah ini secara gratis di kanal Youtube.

TulisanTerkait

Kesabaran Indah Seluas Samudra

Cerpen: Kakek Kematian

Palu, Ego, dan Interupsi Realitas

Sepanjang film diputar, penonton akan terbius dengan keindahan alam yang terpampang di desa Genikan, kecamatan Ngablak, kabupaten Magelang. Film tersebut memusatkan ceritanya tentang aktivitas warga menggantunggkan hidupnya pada sektor pertanian.

Kawasan Indah Lereng Merbabu

Hal ini tentu tidak mengherankan karena kawasan tersebut memang terkenal sebagai daerah subur dan potensial untuk ditanami aneka sayuran. Faktor lokasi geografis menjadi alasan kenapa tanah Genikan disulap menjadi areal persawahan oleh para warganya. Genikan berada di lereng gunung Merbabu.

Lanskap hijau dan hari-hari yang selalu berkabut dan terus diguyur hujan menjadi suasana yang terekam dalam film tersebut. Penonton dipuaskan dengan kemolekan alam Genikan. Namun di balik semua keindahan alam tersebut, ada masalah berat yang tengah dihadapi para warga di sana yang mayoritas menjadi petani.

Baca Juga: Jalan Alternatif Membangkitan Ekonomi di Era New Normal

Komoditas sayuran yang mereka setorkan ke pasar tiap dini hari berkurang kualitasnya. Wortel yang dipanen berukuran kecil. Sayuran dedaunan yang seharusnya hijau segar layu dan berubah kecoklatan. Akibatnya, harga jual di pasaran anjlok. Padahal mereka sudah bersusah payah menanam dan merawat tanaman sayuran di ladang.

Warga kebingungan dengan semua fenomena tersebut. Merekapun merasakan kejanggalan dengan kondisi alam hari-hari itu. Seharusnya pada bulan tersebut, sudah saatnya musim kemarau. Namun hujan malah mengguyur terus-menerus. Kalender penanggalan Jawa yang mereka jadikan patokan untuk bercocok tanam menjadi kurang akurat.

Fenomena Perubahan Iklim

Seharusnya pada bulan ke 12 menurut kalender Jawa, bukan lagi musim penghujan. Film ini memang berkisah tentang dampak nyata perubahan iklim yang isunya belum terlalu dipahami masyarakat pegunungan. Namun imbasnya terasa sekali oleh mereka.

Selain mengulas tentang fenomena alam perubahan iklim, ada hal lain yang unik dan ingin ditunjukkan dalam film ini. Film ini memotret cara masyarakat pegunungan mengimani Islam. Islam, agama yang dipeluk para penduduk di sana. Terlihat dari adanya percakapan yang menyebutkan agenda mengaji anak-anak di sana.

Selain itu, para bapak juga mengenakan peci. Meskipun sebenarnya, peci bukanlah atribut yang mutlak menandai orang tersebut adalah muslim. Peci telah menjelma sebagai kebudayaan Indonesia yang kebetulan kerap digunakan oleh laki-laki pemeluk agama Islam.

Warga di sana juga mengimani betul konsep hablumminannas. Warga di sana guyub rukun dan saling bertegur sapa tiap kali berpapasan dengan tetangga yang tengah melintas.

Warga begitu memahami bahwa kuasa Tuhan juga menjelma lewat interaksi yang terbangun antara mereka dengan manusia lain. Mereka merawat binatang ternak seperti ayam dan bercocok tanam secara tak langsung juga perwujudan keimanan.Bahwa Tuhan telah menciptakan itu semua, dan manusia bertugas untuk mengelolanya dengan baik.

Tetap Menjadi Muslimah

Dalam kehidupan masyarakat pegunungan yang dipertontonkan lewat film ini, para perempuannya juga mengenakan jilbab tetapi bukanlah jilbab yang menjulur panjang ataupun memakai gamis. Tentu gaya busana yang seperti itu tidak cocok digunakan bagi para ibu-ibu yang turun ke ladang dan butuh beraktivitas secara gesit.

Mereka tetap berjilbab tapi disesuaikan dengan aktivitas yang dilakoni. Celana, kaos, jaket, dan jilbab yang melilit leher menjadi padu-padan yang cocok.Terkadang juga memakai jilbab slop-slopan (jilbab instan yang praktis dipakai).

Mereka tidak termakan fesyen gamis karena harga gamis pun sebenarnya tidak terjangkau untuk dompet mereka. Musliamah pegunungan justru memadukan jilbab dengan jarik, sebagai bentuk perpaduan budaya lokal. Menjadi muslimah juga tetap menjunjung kearifan lokal.

Baca Juga: Misykat Al-Anwar: Tafsir Sufistik Tentang Cahaya

Pakaian muslimah sekarang memang menjelma sebagai industri dan semakin dikomodifikasi. Sedangkan penghasilan sehari-hari mereka saja tidak menentu dan cenderung menurun tiap saatnya. Untuk makan saja terseok-seok, apalagi buat beli gamis.

Para perempuan di sana juga seorang muslimah yang tidak hanya berdiam diri saja di rumah dan melakukan pekerjaan domestik semata. Mereka juga berbagi peran dengan suami dalam mencari nafkah.

Terlihat bagaimana ibunda Arifin (tokoh anak yang menjadi sentral di film tersebut) juga bekerja di ladang untuk menambah pemasukan keluarga.  Maryati, tokoh perempuan lainnya juga terlihat ikut membantu sang suami, Sudardi dalam menyemai kentang, memanen wortel, menyiangi gulma, dan pekerjaan lainnya di ladang.

****

Namun para perempuan di sana tetap tidak melupakan tugasnya sebagai istri dan ibu. Ibunda Arifin tetap memastikan air hangat untuk sang anak mandi sudah siap. Ia juga tetap memasak untuk anggota keluarganya. Begitupula Maryati yang tetap membawa anak balitanya di ladang supaya anaknya tidak sendirian di rumah.

Maryati tak lupa membawakan makanan serta minuman supaya sang anak tidak lapar dan haus selama menemani ibunya di ladang. Dalam salah satu adegan, Maryati juga menyambut kepulangan Sudardi yang kehujanan dari ladang.Ia mengeroki suaminya agar tidak masuk angin. Ia tetap memberikan perhatian sebagai istri.

Maryati ini juga menjadi gambaran bahwa menjadi perempuan juga bukan batasan untuknya bisa berinteraksi dengan orang lain. Ia tampak berbaur dengan para petani lelaki saat mengobrolkan mahalnya biaya pendidikan untuk anak. Para petani ini memang punya kebiasaan berbagi suka-duka kehidupan.

Pendidikan, Agama dan Perdesaan

Fokus utama film ini salah satunya memang keluh-kesah orangtua yang ingin anaknya bernasib lebih baik dari mereka dengan cara menempuh pendidikan lanjutan. Namun terkadang keinginan tersebut terhalang kemiskinan yang melanda mereka. Para orangtua telah mengupayakan kerja lebih keras agar mendapatkan uang lebih banyak. Ternyata, rezeki tersebut tidak serta merta juga.

Namun sebagai muslim yang percaya kuasa Allah, mereka tidak memprotes itu ke Tuhan. Mereka tetap berserah sambil berusaha lagi. Mereka yakin, selama masih diberi nyawa untuk hidup; pasti akan ada solusi untuk setiap masalah dari Allah. Mereka juga percaya konsep bahwa rezeki datangnya bisa dari mana saja, termasuk dari para tetangga.

Film ini menampilkan realitas yang tidak terkesan dibuat-buat. Semua dialog cair dan natural. Bukan sekadar hafalan skrip para pemainnya. Penonton pun akan dengan mudah mengambil pesan-pesan hidup di dalamnya. Film yang menyelipkan pesan agama secara mendalam tapi tidak membuat penontonnya merasa digurui.

Selain aspek-aspek yang sudah saya sebutkan di atas, di film ini juga merekam tentang bagaimana kita sebagai manusia yang masih diberi kehidupan juga memberikan penghormatan yang tinggi kepada mereka yang telah lebih dulu meninggalkan dunia.Tampak dari perbincangan Maryati dan Sudardi yang menyisihkan hasil keuntungan panen untuk persiapan 1000 hari meninggalnya Midi.

****

Padahal jika dipikir-pikir, uang tersebut sebenarnya bisa mereka gunakan untuk dana cadangan. Dana darurat yang bisa dijagakan bila sewaktu-waktu terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Begitulah muslim pegunungan yang begitu memuliakan kerabat, orang terkasihnya meskipun sudah meninggal. Mereka juga menggelar tahlil untuk mendoakan lapangnya kubur orang yang meninggal.

Dari film ini, kita juga diajarkan untuk mendahulukan membayar hutang tatkala menerima rezeki berupa uang. Maryati dan Sudardi langsung mengingat-ingat hutang yang harus dilunasi saat menerima uang panen. Membayar hutang tahlil, hutang ke orangtua dan hutang arisan pemuda.

Mereka tahu, hutang yang tak kunjung dibayarkan seringkali memicu kerenggangan interaksi sosial yang terjalin. Mereka pun memikirkan biaya sosial seperti “nyumbang” untuk pernikahan kerabatnya. Orang-orang di sana juga paham betul bahwa mati juga butuh biaya dan jangan sampai meninggalkan hutang saat mati karena akan membuat stres yang ditinggalkan.

Tidak Boleh Putus Asa

Yang begitu menohok lainnya dalam film ini adalah kisah Arifin, anak SD yang meraih nilai kelulusan tertinggi di sekolahnya. Namun ia dihadapkan kenyataan pahit bahwa orangtuanya tidak sanggup untuk membayarkan biaya pendaftaran masuk SMP negeri. Sang guru juga terus memberi pendekatan kepada orangtua Arifin bahwa nantinya insyaAllah bakal ada rezeki untuk pendidikan tersebut. Yakin sama Gusti Allah, kata sang guru.

Karena dalam Islam pun, mengenyam pendidikan merupakan hal penting. Di film ini juga tergambar bagaimana anak-anak di sana diizinkan orangtuanya untuk tidak membantu di ladang supaya bisa belajar bersama dengan teman-temannya.

Baca Juga: Penjara Perempuan itu Bernama Komodifikasi

Sayangnya mimpi bersekolah negeri harus pupus. Sang orangtua menerima pinjaman hutang yang nominalnya cuma sanggup untuk biaya sekolah di pesantren. Yang lebih murah dari sekolah negeri.Biaya talangan itu didapatkan dari Maryati dan Sudardi yang tidak tega melihat tetangganya kesusahan dalam memenuhi cita-cita anaknya.

Pesantren menjadi solusi pendidikan bagi para muslim pegunungan. Biayanya murah dan bisa dibayarkan dengan hasil bumi warga setempat. Kebanyakan orangtua di sana pun justru senang jika anak mereka bersedia dipesantrenkan.

Selain karena biayanya yang lebih murah dibanding sekolah negeri, pesantren adalah cara membentuk anak menjadi alim dan saleh. Mendapatkan pendidikan formal dan pengajaran agama sekaligus.

Sebuah Harapan Baru

Arifin lantas diantarkan oleh orangtuanya yang girang bukan main melepas sang anak untuk dipondokkan. Mereka menumpang bak mobil terbuka yang juga diisi siswa baru pesantren dan orangtuanya. Para orangtua bertandang ke pesantren sekaligus ingin sowan kepada Kiyai di sana. Kiyai dianggap sebagai tokoh yang disegani oleh kelompok muslim pegunungan.

Pak Kiyai tak lupa memberikan pesan untuk pembekalan para calon murid dan para orangtua. Anak itu yang terpenting diajarkan soal baca Al-Quran dan salat berjamaah. Karena dua amalan sederhana ini adalah jalan untuk membuka rezeki dan amalan yang tak terputus nilainya.

Begitulah cara film Negeri di Bawah Kabut merekam kehidupan muslim pegunungan. Bagaimana antara agama dan tradisi kebudayaan bisa jalan bersandingan. Bagaimana muslim pegunungan kerap mengalami kehidupan yang getir dan ironis. Namun mereka tetap percaya pada kuasa Allah sebagai jawaban segalanya.

Sumber Ilustrasi: islami.co

Editor: Dartim I.R.

Terkait

Tags: HIjauIslamLingkunganPegununganPerdesaan
Previous Post

Penjara Perempuan itu Bernama Komodifikasi

Next Post

Kultur Humanisme: Menapaki Jejak KH Ahmad Dahlan

Shela Kusumaningtyas

Shela Kusumaningtyas

Next Post
Kultur Humanisme: Menapaki Jejak KH Ahmad Dahlan

Kultur Humanisme: Menapaki Jejak KH Ahmad Dahlan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.