Selasa, Oktober 6, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Cerpen: Kakek Kematian

Mochammad Yogik Septiawan by Mochammad Yogik Septiawan
Februari 14, 2026
in Cerpen
0
Cerpen: Kakek Kematian
13
SHARES
77
VIEWS

Oleh: Mochammad Yogik Septiawan

“Kemarin aku bermimpi, sedikit aneh. Namun, itu seperti nyata” sambil mengernyitkan dahi, seakan tak mempercayainya. 

TulisanTerkait

Kesabaran Indah Seluas Samudra

Palu, Ego, dan Interupsi Realitas

Bumi: Bacaan dan Penjelasan

Singkat ceritanya seperti ini. Suatu ketika aku melihat pancaran cahaya. Cahaya itu mampu menembus bayang-bayang manusia. Ya. Waktu itu terjadi pagi hari, matahari tak nampak kehadirannya, cuaca terlihat gelap, awan hitam menjadi panglima perang. Seakan ada rahasia Tuhan di atas langit. Seketika aku dihadapkan pada siang hari, hal yang sama aku jumpai. Ya.. cahaya itu lagi nampak di hadapanku. Seketika aku di hadapkan pada sore hari, hal yang sama aku jumpai. Ya.. cahaya itu lagi nampak di hadapanku. Lagi-lagi pancaran cahaya itu hadir pada saat malam hari.. Sungguh aneh!

Takut, sedikit penasaran. Dalam mimpi itu aku bermimpi bertemu kakek tua. Ia bertanya padaku.

“Apa yang sedang kamu cari di dunia ini anak muda?”

Dengan percaya diri dan secara lantang aku katakana padanya “Aku mencari kemerdekaan diri, melepaskan diri dari tekanan, aku mencari kebebasan hidup!”

“Wahai, anak muda. Kamu ingin mencari itu semua?” kakek melanjutkan pertanyaannya

“Iya kakek, bisakah kakek membantu aku mewujudkan cita-citaku itu?”

“Baiklah anak muda, akan aku antarkan menuju cita-citamu” 

Mendengar jawaban kakek tua yang mau membantuku, aku terasa lebih yakin jika kebebasan itu segera tercapai. Kakek tua mengajak menuju suatu tempat, melewati jalan terjal, penuh bebatuan dan pepohonan yang besar. Sampai pada ujung jalan, tibalah pada tempat yang dikatakan kakek ada kebebasan.

“Kenapa kakek membawaku ke jurang?” dalam hati aku bergumam, merenung, apakah jurang ini adalah jalan keluar dari bayang-bayang kerumitan manusia dewasa? 

Kakek melanjutkan “Lihatlah di bawah jurang itu, apakah kamu melihat cahaya?”

“Tidak kek, itu sangat gelap kek. Tidak ada cahaya sedikitpun!”

“Kau akan menemui cita-citamu itu anak muda, lompatlah! lompat! lompatlah!”

“Kamu membunuhku kek!”

“Wahai, anak muda. Kamu akan menemui cahaya kemerdekaan diri, cahaya kebebasan hidup dan terhindar dari tekanan. Cita-citamu itu”

“Maksud kakek? aku tidak mengerti”

“Setelah lompat ke jurang, kamu akan menemukan dunia baru. Kehidupan setelah kematian. Dunianya kakek. Di kehidupan itulah kamu akan mendapatkan kemerdekaan diri, kebebasan hidup dan terbebas dari tekanan apa pun”

“Sungguh kek?”

“Iya anak muda, kamu tidak akan menemui cita-cita itu di duniamu saat ini. Dunia manusia. Mungkin kamu bisa mencari kebebasan itu dengan menghindari kerumunan manusia, tapi kamu tidak akan bebas dari dirimu sendiri. Mungkin kamu bisa melepas segala tekanan dari manusia satu, kamu akan menemui tekanan dari manusia lainnya. Barangkali kamu menghindar dari kerumunan manusia, kamu akan menemui tekanan dari dirimu sendiri, tertekan oleh pikiranmu sendiri”

Kali ini aku tidak bergumam dalam hati, aku bertanya pada kakek. “Wahai kakek, apakah dunia baru yang kau maksud ini menjanjikan kehidupan yang benar-benar bebas dari bayang-bayang segala kerumitan manusia dewasa?” 

Kakek misterius itu tetiba menghilang, entah kemana ia pergi. Di saat itu juga tumpukan tugas-tugas pekerjaan sudah menunggu. Deadline yang tidak masuk akal harus dihadapi, komplain dari atasan siap mencecar habis-habisan. 

***

Hari sudah berganti, keanehan demi keanehan itu masih saja menghantui. Cahaya itu, meskipun tak menyilaukan mata, tetapi ia memiliki kehadiran yang tak dapat diabaikan begitu saja. Kali ini ia hadir dengan pancarannya yang lembut, sehangat matahari pagi yang menembus dinding-dinding kaca rumah penduduk kota. Aku coba untuk mendapatkannya, namun tanganku hanya menangkap udara kosong. Cahaya itu bergerak bersamaku seolah ada sesuatu yang ingin disampaikan. 

Kemana saja aku menepi, cahaya itu selalu ada. Ketika pertama melihatnya mengira ini adalah kejadian yang biasa, namun semakin lama kehadirannya terasa semakin mengganggu, bahkan menjengkelkan. Setiap kali aku mencoba menghindarinya, berjalan di sisi jalan yang lebih teduh, berharap kegelapan bisa menghentikannya mengikutiku. Namun percuma, cahaya itu selalu saja menemukan jalannya, menempel dan menyentuh tubuhku. Aku mempercepat langkah, bahkan berlari namun cahaya itu tetap mengikutiku dengan kecepatan yang sama, tanpa suara, begitu halus, namun terasa begitu mengintimidasi. Berjalan kemana saja terus diikuti, apa benar yang dikatakan kakek, jurang itu sangat gelap, dan tidak ada cahaya sedikitpun. Apa mungkin aku berjalan kesana?

Berkutat dengan cahaya belum selesai sudah teringat kembali apa yang dikatakan kakek tua dalam mimpiku, kata-katanya terus terngiang. “Apa yang sebenarnya hendak kamu cari di dunia ini wahai anak muda?” Aku merenung, membayangkan kejadian selanjutnya yang terus berulang. Tekanan hidup, rutinitas yang mencekik, harapan-harapan yang terasa palsu.. Yaa. Aku masih berusaha mencari kemerdekaan diri, melepaskan diri dari borgol yang tak terlihat namun dapat dirasakan secara nyata. 

Dalam gemerlap malam hari di perkotaan, lalu lalang manusia membanjiri sudut-sudut kota, dan di setiap ruangan. Kali ini kakek tua datang lagi, bukan lagi melalui mimpi. Seakan ia marah padaku, sebab aku masih kekeh mencari kemerdekaan diri dan kebebasan dalam hidup.

“Anak muda, dalam hidupmu, hadapilah segala sesuatu yang ada di depanmu. Hadapilah! jangan menghindar! katakan IYA pada tantangan!” Pesan terakhir dari kakek. Ia seakan menyuruhku untuk tetap menghadapi segala sesuatu, bukan menghindari tantangan itu.

Sejenak aku mencerna yang dikatakan oleh kakek ada benarnya, tetapi apakah bisa aku menemui cita-cita itu? ahh.. sudahlah, aku berhenti mencari kebebasan dan kemerdekaan diri..

Aku menyerah..!

Terkait

Tags: cerita pendekHiburan
Previous Post

Budaya Lokal di Tengah Arus Pop: Peran Anak Muda Menjaga Otentisitas Lamongan

Next Post

PM3 IMM Jateng Cetak Mubaligh Muda Pengusung Dakwah Adaptif & Harmonis

Mochammad Yogik Septiawan

Mochammad Yogik Septiawan

Next Post
PM3 IMM Jateng Cetak Mubaligh Muda Pengusung Dakwah Adaptif & Harmonis

PM3 IMM Jateng Cetak Mubaligh Muda Pengusung Dakwah Adaptif & Harmonis

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.