Kamis, Oktober 8, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Muhammad Raqib: Masjid adalah Pusat Ilmu Pengetahuan

AdminKS by AdminKS
Mei 1, 2020
in Report
0
Fokus utama dalam kajian peradaban islam cendertung diarahkan pada warisan budaya seperti bangunan masjid, gedung madrasah, dan kitab atau manuskrip

Fokus utama dalam kajian peradaban islam cendertung diarahkan pada warisan budaya seperti bangunan masjid, gedung madrasah, dan kitab atau manuskrip

23
SHARES
134
VIEWS

Pimpinan Ranting Muhammadiyah Pondok Labu, mengadakan Pengajian Daring dengan tema Ramadhan untuk Peradaban. Pengajian ini dilaksanaka pada hari Selasa, 28 April 2020. Yang menjadi narasumber dalam pengajian ini adalah Ketua PCIM Amerika, Muhammad Ali, Ketua PP Muhammadiyah, Syafiq Mughni, dan Muhammad Raqib.

Material Culture Studies

Muhammad Raqib mengatakan bahwa ketika membahas tentang peradanan Islam, banyak yang mengulik tentang budaya material yang dalam istilah akademik dikenal dengan material culture studies. Fokus utama dalam kajian peradaban islam cendertung diarahkan pada warisan budaya seperti bangunan masjid, gedung madrasah, dan kitab atau manuskrip yang sekarang banyak menarik perhatian para sarjana baru di Barat.

TulisanTerkait

Proyek Kepemimpinan, Mahasiswa PPG Pendidikan Pancasila A2 FKIP UMS Gelar PELITA di Panti Jompo Aisyiyah Surakarta

Seminar Nasional GANTARI 2026: Regenerasi Pemuda Jadi Kunci Keberlanjutan dan Swasembada Pangan Indonesia

IQT Fair XII 2026 Capai Puncak, Seminar Nasional dan Kajian Akbar Jadi Sorotan

baca juga: Yahya Cholil: Masih Relevankah NU?

Menurut Muhammad Raqib, peradaban yang bersifat tak benda seperti kepercayaan dan pemikiran tergali dari teks-teks keislaman dalam banyak manuskrip. Dan mempelajari manuskrip Islam pada gilirannya juga sama dengan mengumpulkan bukti-bukti baru tentang konsep kepercayaan dalam pemikiran Islam. Bahkan banyak juga yang menemukan bukti dari sebuah pemikiran atau konsep dalam Islam melalui sebuah inskripsi. Inskripsi adalah tulisan di sebuah benda tertentu seperti di masjid, piring, pedang, batu, mata uang, dan bahkan stempel atau segel.

“Hal ini menunjukan bahwa peradaban Islam masih berkembang dan menantang untuk kita gali lebih lanjut. Dalam usaha tersebut kita bisa melihat bahwa teks telah memainkan peran penting dalam usaha memahami dan menemukan peradaban Islam itu sendiri. Saya setuju dengan filosof dari Mesir, Nasr Hamid Abu Zayd, yang mengatakan bahwa Islam itu dibangun atas dasar peradaban teks”, ujarnya.

Alumni Ikatan Pelajar Muhammadiyah Jawa Timur ini mengatakan bahwa peradaban teks memang nyata dalam Islam. Terutama karena Islam bersumber dari Alquran dan Hadits. Dari dua sumber inilah kemudian Islam menjelma dan menyebar baik dari sisi tak benda seperti pemikiran maupun yang benda. Ketika kita membahas sisi tak benda yang lekat dengan teks, kita akan menemukan bagaimana teks itu disambut sedemikian rupa oleh penganutnya. Disinilah kita dapat melihat penyambutan dalam Alquran secara kuat ketika bulan ramadhan.

Euforia Ramadhan

Raqib menjelaskan bahwa tadarrus Alquran yang biasanya berfokus pada pengkhataman bacaan Alquran menjadi tujuan pencapaian bagi muslim. Cara mengkhatamkannya pun bermacam-macam. Dalam hasil riset Clifford Geertz, menyatakan bahwa salah satu metode untuk mengkhatamkan Alquran adalah dengan cara membagi per juz kepada masing-masing pembaca. Kemudian jamaah ini memmbaca Alquran secara bersamaan sesuai bagian masing-masing. Jika ada 30 jamaah yang mengikuti, maka dalam satu malam mereka bisa selesai 30 juz.

Menurut Geertz, sebagaimana yang dijelaskan oleh Raqib, jamaah mushola atau masjid yang lebih modern mulai jarang menggunakan metode ini, bahkan sebagian menolak. Dalam ibadah tarawih yang dilakukan pada bulan Ramadhan, teks juga menjadi pilar penting.

Bulan Ramadhan yang fokus utamanya pada puasa dan ibadah khusus seperti tarawih juga menciptakan kebiasaan dan bahkan budaya material baru. Kegiatam-kegiatan ini biasanya berpusat di masjid. Banyak masjid mengadakan pesantren Ramadhan yang mempelajari teks-teks Islam secara intensif.

Peran Islam Melalui Masjid

Menurut mahasiswa yang tinggal di Franfurt ini, sebelum masa pandemi, dapat dengan mudah kita temukan masjid yang mengadakan pembelajaran tertentu terhadap teks-teks keislaman. Masjid menjadi sentra kebudayaan umat Islam. Ramadhan juga menjadi penanda dari semarak masjid sebagai pusat kebudayaan itu. Ada sejarah yang menarik yang berangkat dari tradisi atau kebudayaan masjid.

Pada abad 9 & 10 M, masjid menandai diri sebagai pusat pembelajaran. Masjid di Maroko dan Masjid al-Azhar Mesir menjadi ikon awal pembelajaran secara resmi. Bahkan masjid di Maroko yang berkembang menjadi madrasah dan pusat pembelajaran kala itu dinyatakan oleh UNESCO sebagai universitas pertama di dunia. Mereka juga memberikan sejenis sertifikat atau gelar kepada murid yang lulus dari madrasah tersebut. Sistem ini kemudian berintegrasi dengan perkembangan sistem baru dalam pendidikan.

Raqib kemudian menceritakan contoh dalam film The Physician. Menceritakan perjalanan seorang pembelajar dari Inggris ke Isfahan, untuk mendalami ilmu kedokteran kepada seorang filsuf muslim terkenal bernama Ibnu Sina. Dengan eksperimentasi yang maju pada saat itu, Ibnu Sina menjadi rujukan utama dalam kedokteran. Dari pengembara Inggris inilah kemudian ilmu kedokteran dibawa dan dikembangkan ke Inggris dan kemudian menyebar di Eropa. Dan yang menarik, Ibnu Sina pada waktu itu membuka sebuah madrasah dengan sistem pendidikan formal saat ini. Sistem ini juga ikut mempengaruhi sistem pendidikan di Eropa. Menariknya lagi, tempat madrasah Ibnu Sina terletak di lokasi yang menjadi satu dengan masjid.

baca juga: Titik Temu Islam dan Feminisme

“Dinamika ilmu pengetahuan yang menjelma menjadi peradaban dunia banyak dipengaruhi oleh Islam, dan pembuktian atas sumbangsih inilah yang perlu terus digali melalui kajian ilmiah. Untuk menggali sumbangsih ini, kita butuh usaha yang cukup keras”, tutupnya.

reporter: Yusuf R Yanuri

Terkait

Tags: madrasahmasjidPeradabanramadhan
Previous Post

Frans Kaisiepo: Warisan Nasionalisme dari Guru Muslim Nasionalis

Next Post

Di Balik Pertanyaan “Kamu Puasa Nggak?”

AdminKS

AdminKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
Di Balik Pertanyaan “Kamu Puasa Nggak?”

Di Balik Pertanyaan “Kamu Puasa Nggak?”

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.