Selasa, Oktober 6, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Monolog Kontemplasi Bencana

Al-Faiz Muhammad Rabbany Tarman by Al-Faiz Muhammad Rabbany Tarman
Februari 10, 2023
in Cerpen
0
Monolog Kontemplasi Bencana

Sumber : Pixabay.com

45
SHARES
265
VIEWS

Sudah sekian lama aku tak mendengar suara katak. Sepulang kerja, malam ini sudah sejuk, sementara di luar hujan masih bertamu kepada bumi tanpa rasa sungkan. Peng-Peng-Peng. Nyanyian katak bersahutan. Tampias hujan menyapa kakiku yang masih berada di beranda. Dingin, pori-pori kulit nampak membesar.

Akhir-akhir ini, hampir saban sore hujan silih berganti dengan cuaca cerah. Kalau tidak sore ini hujan, kemungkinan nanti malam, atau sebaliknya. Keesokan harinya malah nyatanya hujan mengguyur sedari pagi hingga siang. Kadang pula tak disangka cerah seharian. Akhirnya penghujung hari timbullah rasa sesal, sebab tak kemana-mana, aktivitas hanya bergulat di atas meja kerja yang menghalangi sinar matahari.

TulisanTerkait

Kesabaran Indah Seluas Samudra

Cerpen: Kakek Kematian

Palu, Ego, dan Interupsi Realitas

Tapi malam ini, orkestra langit seperti tak menunjukkan tanda-tanda berhenti. Pakaian-pakaian tergantung dengan lembab berharap angin berbaik hati mengeringkan.

Kopi tersisa setengah. Aku raba, sudah tidak tersisa api yang jadikan airnya mendidih.

Aku bahkan sudah membayangkan nyamannya kasur dan selimut kala aku merebah. Sementara surat kabar elektronik yang kutandai belum tuntas kubaca. Kuberi markah yang biasa kubaca menjelang tidur. Khususnya berita-berita lokal yang luput dari pengamatan publik. Rasanya jika kubaca berita-berita itu aku jadi merasa dekat.

Tak sampai lima belas menit jika gunakan kendaraan roda dua, ternyata sebagian ‘tetangga-tetangga’ sedang berjuang hadapi banjir lokal. Dampak dari proyek pembangunan tol.

“Selalu ada tumbal dari setiap kemajuan.” Bukankah hal tersebut sudah menjadi kebenaran?

Bahasanya mengerikan sekali. Tapi jika dipikir-pikir ada benarnya. Jarak tempuh yang biasanya kutempuh dari Purwakarta menuju Garut menggunakan roda empat bisa sampai delapan jam. Namun setelah adanya tol, waktu tempuh kian cepat. Tidak sampai empat jam! Namun dampak di balik pembangunan tersebut, banyak usaha rumah makan gulung tikar karena hampir transportasi publik menghendaki jalur yang cepat dengan meninggalkan jalur yang lama.

Dalam sejarah dunia, Piramid di Mesir nyatanya demikian pula halnya. Dibalik megah dan monumentalnya bangunan tersebut, ada berapa juta jiwa manusia yang berkorban demi wujudkan ide pembangunan tersebut?

Berita-berita koran lokal sepertinya hanya menarik bagi sebagian kalangan yang menggelutinya. Wartawan (lokal) sepertinya susah payah meramu kata-kata sebagai senjata. Namun berita-berita nasional ibukota sepertinya lebih seksi untuk mendapatkan sentuhan dan perhatian publik.

Jika demikian, lantas siapa peduli, jika korban-korban banjir itu, yang secara jarak dekat, merasa kedinginan hingga terkena penyakit kulit sebab air tak kunjung surut?

Aku saja sibuk ikuti berita dan tak sabar menunggu vonis hakim terhadap kasus kriminal yang sidangnya disiarkan secara langsung di televisi swasta secara berkala?

Aha! Kalau begitu aku malah yakin bahwa dibalik trendingnya berita-berita tertentu, lebih banyak lagi peristiwa yang tak terberitakan. Hujan tak kunjung reda. Cuaca akhir-akhir ini begitu ekstrem. Bukankah banyak para petani yang gagal panen, titik rawan longsor, meningkatnya penyebaran penyakit?

Pada saat sama, seiring berkembangnya teknologi, terkikis solidaritas sosial. Sebagian orang-orang memiliki dunianya sendiri, tanpa perhatikan yang dekat. Bencana–bencana datang silih berganti. Ramai-ramai dunia maya update solidaritas dan doa! Hujan seperti menertawakan keadaan dan eksistensi kemanusiaan. Apa kabar tetangga dekat kita, yang mungkin kelaparan dan berkebutuhan? Apakah memperhatikan yang “jauh” seakan-akan lebih penting ketimbang yang jelas-jelas “dekat” di sisi kita?

Beberapa laron beterbangan menthawafi lampu penerang jalan. Hujan tersisa rimis, sebagiannya merintik menggoda genangan di jalan.

Tak terhitung berapa kali aku sudah menguap. Namun aku masih asyik scroll berita-berita yang terbit pada hari ini. Di antaranya tentang fakta bahwa sebagian warga dhuafa semestinya berhak mendapatkan bantuan dan terdampak pandemi, sama sekali tidak mendapatkan sentuhan bantuan sosial selama dua tahun terakhir semenjak adanya pandemi. Tidak aneh, bukan?

Uluran tangan penderma melangkahi yang sepatutnya berhak. “Berikanlah kepada kerabat dekat haknya, (juga kepada) orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan…” (Al-Qur’an 17:26) Adakah tangan itu mengulur pada suatu waktu senyap. Seperti malam ini. Di mana tiada kamera, dokumentasi, atau konten apapun, hingga menyisakan suatu kasih sayang yang tulus?

Adakah pada kini sosok ‘Umar bin Khathab baru’ yang berjalan memeriksa rakyatnya dari yang terdekat hingga yang terjauh, memastikan keadilan serta hak kemanusiaannya? Ditemukannya seorang ibu yang memasak batu, menenangkan anaknya yang kelaparan, sementara balutan tali terlampau kencang mengikat perutnya yang kosong.

Kemana perginya doa-doa selesai sembahyang? Adakah ia pilih kasih tertuju kepada yang jauh. “Oleh karena itu, beri kerabat dekat haknya, juga orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridaan Allah. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-Qur’an 30:38) Menjelang di mana ku tidur, setelah selesai memastikan pintu dan jendela yang tertutup rapat. Status WhatsApp berganti dan memosting solidaritas bencana di luar negeri. Tetangga dekat yang dhuafa tentunya mengaminkan sesama saudara kemanusiaan. Tidak tersinggung. Ayat-ayat-Nya masih melangit. Dan… Nyatanya dengkuran tidurku masih pulas. Keresahan menjadi bunga tidur yang hanyut bersama malam.

Editor : Izzul Khaq

Terkait

Previous Post

Peran Penting Cendekiawan dalam Mengilmukan Islam

Next Post

AMC : Deklarasi Membumi Hanguskan Gerakan Radikalisme pada Seminar Multikultural

Al-Faiz Muhammad Rabbany Tarman

Al-Faiz Muhammad Rabbany Tarman

Pengajar di STAI Muhammadiyah Klaten

Next Post
AMC : Deklarasi Membumi Hanguskan Gerakan Radikalisme pada Seminar Multikultural

AMC : Deklarasi Membumi Hanguskan Gerakan Radikalisme pada Seminar Multikultural

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.