Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Moderasi Beragama (3): Aspek Pemikiran

Yusuf R Yanuri by Yusuf R Yanuri
Februari 27, 2021
in Kata Bersama
0
Quraish Shihab moderasi beragama aspek pemikiran
57
SHARES
337
VIEWS

Dalam filsafat Barat, sumber ilmu yang diakui hanya terbatas pada rasionalisme dan empirisme. Rasionalisme adalah apa yang dapat dipikirkan oleh akal, sementara empirisme adalah apa yang dapat ditangkap oleh indra. Menurut Syed Hosein Nasr, bangunan keilmuan barat ini sangat merugikan manusia karena melupakan jiwa atau intuisi yang dalam Islam diakui.

Menurut Ziauddin Sardar, seorang futurolog muslim, pemikiran yang datang dari Barat telah mereduksi atau mengurangi nilai ilmu pengetahuan sejati. Bentuk reduksinya terletak pada nilai pragmatis. Pada dasarnya, Barat telah menghasilkan pengetahuan yang dapat diuji, mengacu pada suatu realitas terpisah, dan memiliki manfaat yang luar biasa besar bagi peradaban manusia.

TulisanTerkait

Urgensi Identitas Nasional Menjelang Tahun Politik 2024

Pemindahan IKN Indonesia Perspektif Keadilan Sosial

Nilai Gotong Royong dalam Budaya Santri

Namun, di sisi lain bangunan keilmuan Barat juga telah menghasilkan buah yang pahit. Barat memilih untuk menolak semua nilai dalam pencarian pengetahuan. Dengan demikian, Barat memperlakukan objek pengetahuan sebagai benda semata yang dapat dieksploitasi, diperas, dimanipulasi, dibedah, dan bahkan dihancurkan atas nama ilmu pengetahuan.

Lebih jauh, menurut Nashr, orang-orang dengan pikiran Barat memperlakukan alam seperti memperlakukan wanita tuna Susila yang hanya dimanfaatkan sebentar kemudian dibuang. Padahal, seharusnya manusia memperlakukan alam seperti memperlakukan seorang istri, yaitu dengan merawat dan menjaganya.

Di pihak lain, ada pemikir dan filosof yang perhatiannya terhadap intuisi, batin, dan wahyu begitu besar namun melupakan penggunaan akal dengan baik. Dari kedua kutub ekstrem inilah Islam datang dengan wasathiyyah-nya, yaitu mengambil wahyu sebagai sumber ilmu, mengakui intuisi sebagai kebenaran, sekaligus memanfaatkan akal dan panca indra dengan maksimal untuk melihat dunia. Hal ini sudah cukup banyak dibahas oleh para filosof muslim, misalnya Nidhal Guessoum.

Ismail Raji Al-Faruqi, pemikir asal Palestina yang tinggal di Amerika berpendapat bahwa tidak ada harapan bagi kebangkitan umat kecuali dengan mengubah sistem pendidikan yang dikotomis. Di satu sisi, pendidikan begitu sekular, mengekor ke Barat, di sisi lain pendidikan begitu tradisional dan tertutup. Kedua sistem tersebut harus disatukan secara integral dan sistem yang lahir harus diisi dengan semangat Islam dan bersifat integrasi.

Dalam hal ini, Kiai Dahlan sebenarnya sudah memulai sejak awal ketika mendirikan sekolah Muhammadiyah untuk pertama kali. Kiai Dahlan menghapuskan dikotomi antara sekolah sekular yang dibangun oleh pemerintah kolonial –yang tidak memasukkan pelajaran agama— dengan pesantren tradisional yang tidak memasukkan pelajaran-pelajaran nonagama.

Syed Muhammad Naquib Al-Attas, seorang filosof kelahiran Bogor yang tinggal di Malaysia membagi ilmu menjadi dua. Pertama, ilmu yang diberikan oleh Allah melalui wahyu berupa Al-Qur’an.

Dalam hal ini, ia menulis:

“Bagaimanapun juga Allah tidak pernah berhenti berhubungan dengan manusia, dan dengan rahmat-Nya, serta karunia dan kemurahan-Nya Ia dapat menganugerahkan ilmu dan kebijaksanaan spiritual tertentu bagi hamba-hamba-Nya yang terpilih, mengikuti tingkatan ihsan mereka”.

Al-Qur’an, hadis, syariah, ilmu ladunni, dan hikmah adalah unsur-unsur utama dari ilmu jenis pertama ini. Spiritual dan kebijaksanaan hanya dapat didapatkan dengan cara ibadah dan ketaatan kepada Allah. Hal ini bergantung kepada anugerah Allah serta kekuatan dan kemampuan spiritual yang diberikan kepada seseorang sehingga orang tersebut dapat menerima ilmu jenis ini. Manusia menerima ilmu ini dengan cara diilhamkan langsung atau melalui penikmatan spiritual dan penyingkapan penglihatan spiritual.

Kedua, ilmu-ilmu sains yang diperoleh melalui pengalaman, pengamatan, dan penelitian. Ilmu ini bersifat diskursif, deduktif, dan berkaitan dengan perkara yang bernilai pragmatis. Jika ilmu yang pertama diperoleh melalui pengalaman langsung yang bersifat sufistik, ilmu jenis kedua ini didapatkan melalui spekulasi dan usaha penyelidikan rasional dan didasarkan atas pengalamannya tentang segala sesuatu yang ditangkap oleh panca indra (sensible) dan dipahami oleh akal (intelligible). Ilmu yang pertama didapatkan dengan kebersihan jiwa dan ketaatan kepada Allah, sedangkan ilmu yang kedua didapatkan dengan belajar, menghitung, meneliti, membaca, dan berpikir.

Ilmu jenis kedua ini mirip dengan keilmuan yang berkembang di Barat. Perbedaannya, di dunia Islam, keilmuan ini tidak berdiri sendiri, melainkan diintegrasikan atau disatupadukan dengan jenis keilmuan yang pertama. Oleh sebab itu, ilmu ini tidak menjadi ilmu yang sekular.

Wan Mohd Nor Wan Daud, salah seorang murid Al-Attas, sebagaimana dikutip oleh Adian Husaini juga berpendapat bahwa konsep pendidikan dalam Islam bersifat kully (integral, menyeluruh, lengkap), dan bukan juz’iy (parsial, sebagian).

Adian Husaini mencatat bahwa filsafat ilmu dalam Islam menerima wahyu sebagai khabar shadiq (berita yang benar dan dipercaya) yang diakui sehingga muncul tradisi ilmu yang tidak terlepas dari akhlak. Seorang muslim yang berilmu wajib mengamalkan ilmunya. Jika tidak, dia bisa masuk kategori fasik dan kredibilitasnya sebagai orang yang berilmu diragukan.

Menarik untuk mencermati ilmuwan-ilmuwan besar dalam sejarah Islam seperti Al-Ghazali. Al-Ghazali, sebagai seorang ulama besar, tetap menempatkan dirinya sebagai penganut mazhab Syafii dalam soal metodologi ushul fikih. Ia tetap menghormati Imam Syafii sebagai seorang mujtahid besar, sekalipun beliau juga merupakan seorang mujtahid besar.

Buya Hamka dalam hal ini menulis:

“Agama Islam amat menghormati akal. Karena tidak akan tercapai ilmu kalau tidak ada akal. Sebab itu Islam adalah agama ilmu dan akal. Sebelum Islam mengajak pemeluknya mencapai segala keperluan yang berhubungan dengan dunia, lebih dahulu diajak supaya mempergunakan segenap upaya bagi membersihkan akal; dalam paham, jitu pikiran, dan jauh pandangan. Diketahui laba rugi suatu pekerjaan sebelum masuk kepadanya, ditelungkup ditelentangkan.”

“Berjalan menghadap surut, berkata sepatah dipikirkan. Berlayar menghadang pulau, berjalan menghadang batas. Kaki teracung inai obatnya, mulut terlanjur emas dendanya. Sehingga segala pekerjaan yang dikerjakan membuahkan kebenaran, keadilan, berfaedah, dan timbul rasa wajib. Disuruh mereka menyelidiki sesuatu dari segi mudaratnya sebelum manfaatnya, didahulukan menolak kerusakan sebelum menghadap maslahat. Disuruh menyelidiki dan menilik alam dengan penuh pengalaman. Dari sana kelak masuklah dia dari pintu yang kedua, yaitu mulai membersihkan iktikad, memperkuat ibadah, memperluas budi pekerti, lalu mengatur pergaulan hidup sesama manusia dan penghidupan, memajukan perniagaan dan perusahaan.”

Wasathiyyatul Islam dalam hal keilmuan berarti menerima wahyu dan juga memaksimalkan akal dalam memahami wahyu dan alam. Tidak condong terhadap salah satunya.

Terkait

Tags: Islam ModeratModerasi beragamaModerasi Islamquraish shihab
Previous Post

Moderasi Beragama (2): Aspek Syariat dan Kehidupan Masyarakat

Next Post

Moderasi Beragama (4): Aspek Sosial & Sikap Terhadap Liyan

Yusuf R Yanuri

Yusuf R Yanuri

LAPSI Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah

Next Post
Quraish Shihab moderasi beragama aspek pemikiran

Moderasi Beragama (4): Aspek Sosial & Sikap Terhadap Liyan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.