Selasa, Oktober 6, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Minimnya Kesadaran Muslim terhadap Islam sebagai Agama yang Tenang

AdminKS by AdminKS
Juni 30, 2026
in Esai, Narasi
0
Minimnya Kesadaran Muslim terhadap Islam sebagai Agama yang Tenang
12
SHARES
69
VIEWS

Oleh: Iffat Salmaa Syarifah

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering melakukan sesuatu secara sadar maupun tidak sadar. Secara sederhana, sadar adalah keadaan ketika seseorang mengetahui, memahami, dan mempertimbangkan alasan di balik tindakan yang dilakukan. Sedangkan tidak sadar bukan hanya berarti kehilangan kesadaran secara fisik, tetapi juga melakukan sesuatu tanpa refleksi, tanpa pemahaman mendalam, atau sekadar mengikuti kebiasaan yang telah berlangsung lama.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Dalam konteks beragama, banyak orang Islam yang secara sadar mengakui bahwa Islam adalah agama yang membawa kedamaian. Mereka mengetahui ayat-ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang ketenangan, kasih sayang, dan rahmat Allah. Mereka juga memahami bahwa tujuan ibadah adalah mendekatkan diri kepada Allah dan memperoleh ketenteraman hati.

Namun, pada saat yang sama, tidak sedikit yang secara tidak sadar menjalani kehidupan yang bertentangan dengan nilai-nilai ketenangan tersebut. Mereka mungkin rajin beribadah, tetapi masih memelihara sifat iri, mudah marah, berlebihan dalam mengkhawatirkan masa depan, atau terlalu sibuk membandingkan hidupnya dengan orang lain.

Ketidaksadaran ini sering muncul karena seseorang menjalankan agama sebagai rutinitas, bukan sebagai kesadaran hidup. Ibadah dilakukan karena kebiasaan, bukan karena pemahaman. Akibatnya, nilai-nilai Islam tidak sepenuhnya membentuk cara berpikir dan cara menghadapi persoalan hidup.

Sebagai contoh, seseorang mungkin sadar bahwa rezeki telah diatur oleh Allah. Akan tetapi, secara tidak sadar ia terus-menerus diliputi kecemasan, ketakutan kehilangan pekerjaan, atau merasa iri terhadap keberhasilan orang lain. Ada kesenjangan antara apa yang diyakini dan apa yang dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Fenomena inilah yang membuat banyak Muslim mengakui bahwa Islam adalah agama yang menenangkan, tetapi belum sepenuhnya merasakan ketenangan itu dalam hidupnya. Kesadaran intelektual belum selalu berubah menjadi kesadaran spiritual dan perilaku yang nyata

Setelah memahami makna sadar dan tidak sadar dalam beragama, kita dapat melihat bahwa masalah utama bukan terletak pada ajaran Islam yang kurang mampu memberikan ketenangan. Sebaliknya, persoalannya sering kali terletak pada bagaimana manusia menghayati, memahami, dan menerapkan ajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Muncul pertanyaan penting: Mengapa banyak Muslim masih hidup dalam kegelisahan meskipun meyakini bahwa Islam adalah agama yang membawa ketenangan?

Ketika Agama Menawarkan Ketenangan, Mengapa Kegelisahan Tetap Ada?

Salah satu pesan utama Islam adalah menghadirkan ketenangan dalam kehidupan manusia. Bahkan, kata Islam sendiri berasal dari akar kata salima yang bermakna damai, selamat, dan tenteram. Al-Qur’an berulang kali menggambarkan bahwa keimanan yang benar akan melahirkan ketenangan jiwa. Allah berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Namun, di tengah realitas kehidupan modern, muncul sebuah pertanyaan yang sering mengusik banyak orang: Jika Islam adalah agama yang tenang, mengapa banyak Muslim justru hidup dalam kecemasan, konflik, tekanan mental, dan kegelisahan?

Pertanyaan ini penting untuk dijawab secara jujur. Sebab, masalahnya bukan terletak pada ajaran Islam, melainkan pada bagaimana manusia memahami dan menjalankan ajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Islam Mengajarkan Ketenangan, Bukan Sekadar Ritual

Banyak orang memahami Islam sebatas kumpulan ibadah ritual seperti salat, puasa, zakat, dan haji. Padahal, Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga mengatur cara berpikir, mengelola emosi, berinteraksi dengan sesama, hingga menyikapi berbagai ujian kehidupan.

Ketenangan dalam Islam bukan berarti hidup tanpa masalah. Para nabi, sahabat, dan orang-orang saleh juga menghadapi ujian yang berat. Namun, mereka memiliki kemampuan untuk menghadapi masalah dengan hati yang tetap kokoh.

Dengan kata lain, ketenangan dalam Islam bukan diukur dari sedikitnya masalah, melainkan dari kemampuan seseorang mengelola masalah berdasarkan iman.

Penyebab Banyak Muslim Tidak Merasakan Ketenangan

1. Mengenal Islam, Tetapi Tidak Mendalaminya

Tidak sedikit Muslim yang lahir dalam keluarga Islam, menjalankan ibadah secara rutin, tetapi kurang memahami makna di balik ajaran yang dijalankannya.

Misalnya, salat dilakukan hanya sebagai kewajiban tanpa menghadirkan kekhusyukan. Padahal Allah menyebutkan bahwa salat berfungsi sebagai penolong dalam menghadapi kesulitan hidup.

Ketika agama hanya menjadi identitas, bukan pedoman hidup, maka manfaat spiritualnya tidak akan dirasakan secara optimal.

2. Terlalu Sibuk Mengejar Dunia

Perkembangan teknologi dan media sosial membuat banyak orang hidup dalam budaya perbandingan. Setiap hari mereka melihat pencapaian orang lain, gaya hidup mewah, kesuksesan karier, dan berbagai standar kehidupan yang tampak sempurna.

Akibatnya muncul:

  • Perasaan kurang bersyukur.
  • Takut tertinggal dari orang lain.
  • Kecemasan terhadap masa depan.
  • Tekanan untuk selalu terlihat sukses.

Padahal Islam mengajarkan keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat. Ketika dunia menjadi tujuan utama, ketenangan sering kali sulit ditemukan karena keinginan manusia tidak pernah memiliki batas.

3. Kurangnya Tawakal Setelah Berusaha

Banyak orang memahami pentingnya usaha, tetapi lupa pada tawakal. Mereka ingin mengendalikan semua hasil kehidupan, mulai dari rezeki, karier, jodoh, hingga masa depan.

Ketika hasil tidak sesuai harapan, muncullah:

  • Kekecewaan berlebihan.
  • Kecemasan kronis.
  • Kemarahan terhadap keadaan.
  • Hilangnya harapan.

Dalam Islam, manusia diperintahkan untuk berusaha maksimal, tetapi hasil akhirnya diserahkan kepada Allah. Tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan menerima hasil dengan hati yang lapang setelah melakukan ikhtiar terbaik.

4. Hati yang Terlalu Jauh dari Allah

Salah satu penyebab terbesar hilangnya ketenangan adalah jauhnya hubungan spiritual seseorang dengan Allah.

Banyak orang memiliki waktu berjam-jam untuk media sosial, hiburan, atau pekerjaan, tetapi sangat sedikit waktu untuk:

  • Membaca Al-Qur’an.
  • Berzikir.
  • Berdoa.
  • Merenungkan kehidupan.

Akibatnya hati menjadi kering secara spiritual. Padahal manusia bukan hanya makhluk fisik, tetapi juga makhluk ruhani yang membutuhkan asupan iman.

Seperti tubuh yang lapar membutuhkan makanan, hati yang kosong membutuhkan kedekatan dengan Allah.

5. Salah Memahami Ujian Hidup

Sebagian orang menganggap bahwa jika dirinya beriman maka hidup seharusnya selalu mudah. Ketika musibah datang, mereka merasa kecewa bahkan mempertanyakan keadilan Allah.

Padahal Al-Qur’an menjelaskan bahwa ujian adalah bagian dari kehidupan orang beriman.

Para nabi yang merupakan manusia terbaik justru menghadapi ujian yang sangat berat:

  • Nabi Nuh ditolak kaumnya.
  • Nabi Ibrahim diuji dengan pengorbanan.
  • Nabi Yusuf dipenjara tanpa kesalahan.
  • Nabi Muhammad SAW mengalami berbagai tekanan dan kehilangan.

Ujian bukan tanda Allah membenci hamba-Nya, tetapi sering kali menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas keimanan seseorang.

Ketenangan Tidak Selalu Berarti Bahagia

Salah satu kesalahpahaman yang sering terjadi adalah menganggap ketenangan identik dengan kebahagiaan.

Dalam Islam, seseorang bisa tetap tenang meskipun sedang menghadapi masalah besar. Sebaliknya, seseorang bisa memiliki harta melimpah, jabatan tinggi, dan kehidupan yang tampak sempurna, tetapi tetap merasa gelisah.

Ketenangan sejati lahir dari keyakinan bahwa:

  • Allah mengetahui apa yang terjadi.
  • Allah memiliki rencana terbaik.
  • Tidak ada ujian yang sia-sia.
  • Setiap kesulitan akan diikuti kemudahan.

Inilah yang membuat seorang mukmin mampu bertahan dalam situasi sulit tanpa kehilangan harapan.

Cara Menemukan Kembali Ketenangan dalam Islam

Jika seseorang merasa hidupnya penuh kecemasan dan kegelisahan, Islam menawarkan beberapa langkah yang dapat dilakukan.

Perbanyak Interaksi dengan Al-Qur’an

Membaca, memahami, dan merenungkan makna Al-Qur’an dapat membantu menenangkan pikiran dan memperkuat keyakinan.

Perbaiki Kualitas Salat

Fokus pada makna bacaan dan hadirkan kesadaran bahwa salat adalah momen berkomunikasi langsung dengan Allah.

Latih Rasa Syukur

Mencatat nikmat yang dimiliki setiap hari dapat membantu mengurangi kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain.

Kurangi Paparan yang Memicu Kecemasan

Batasi penggunaan media sosial yang membuat hati tidak tenang atau memicu perasaan rendah diri.

Perkuat Tawakal

Lakukan usaha terbaik, lalu serahkan hasilnya kepada Allah tanpa terus-menerus dihantui kekhawatiran.

Bangun Lingkungan yang Positif

Bergaul dengan orang-orang yang memiliki semangat ibadah, optimisme, dan akhlak yang baik dapat memberikan pengaruh besar terhadap kesehatan mental dan spiritual.

Terkait

Tags: Islam
Previous Post

Sarasehan Kader Pondok Shabran UMS, Pentingnya Pembinaan Ruhani di Era Society 5.0 

Next Post

Membangun Peradaban dari Keadilan dan Ihsan: Pesan Abadi QS. An-Nahl Ayat 90

AdminKS

AdminKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
Membangun Peradaban dari Keadilan dan Ihsan: Pesan Abadi QS. An-Nahl Ayat 90

Membangun Peradaban dari Keadilan dan Ihsan: Pesan Abadi QS. An-Nahl Ayat 90

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.