Oleh: Muh Hidayat Y
Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, manusia justru menghadapi berbagai persoalan yang semakin kompleks. Media sosial dipenuhi ujaran kebencian, korupsi masih menjadi masalah yang sulit diberantas, kesenjangan sosial semakin terlihat, dan hubungan kekeluargaan sering kali merenggang karena kesibukan masing-masing. Dalam situasi seperti ini, menarik untuk melihat bahwa Al-Qur’an telah memberikan solusi melalui satu ayat yang sangat singkat tetapi sarat makna, yaitu QS. An-Nahl ayat 90.
Ayat ini memerintahkan tiga hal: keadilan (al-‘adl), kebajikan (al-ihsan), dan kepedulian terhadap kerabat (ita’ dzi al-qurba). Pada saat yang sama, Allah melarang tiga hal: perbuatan keji (al-fahsya’), kemungkaran (al-munkar), dan kezaliman (al-baghy). Jika diperhatikan, enam prinsip tersebut masih sangat relevan untuk menjawab berbagai tantangan kehidupan modern.
Keadilan di Tengah Budaya Pilih Kasih
Salah satu masalah yang sering muncul dalam kehidupan saat ini adalah ketidakadilan. Di lingkungan kerja, seseorang terkadang mendapatkan perlakuan istimewa karena kedekatan dengan atasan. Dalam dunia pendidikan, masih ditemukan perlakuan yang berbeda terhadap peserta didik. Bahkan dalam kehidupan bermasyarakat, hukum sering dianggap lebih tajam ke bawah daripada ke atas.
Melalui QS. An-Nahl ayat 90, Allah mengingatkan bahwa keadilan harus menjadi fondasi kehidupan. Keadilan bukan hanya urusan hakim di pengadilan, tetapi juga sikap sehari-hari dalam memperlakukan orang lain secara proporsional dan objektif. Ketika keadilan ditegakkan, kepercayaan akan tumbuh dan konflik dapat diminimalkan.
Ihsan di Tengah Meningkatnya Individualisme
Era digital telah mempermudah komunikasi, tetapi tidak selalu mendekatkan hati manusia. Banyak orang lebih sibuk dengan urusan pribadi sehingga kurang peduli terhadap lingkungan sekitar. Dalam kondisi seperti ini, konsep ihsan menjadi sangat penting.
Ihsan mengajarkan manusia untuk berbuat baik melebihi apa yang diwajibkan. Jika keadilan berarti memberikan hak orang lain, maka ihsan berarti memberikan lebih dari yang dituntut. Misalnya membantu teman yang kesulitan tanpa diminta, berbagi kepada yang membutuhkan, atau memberikan pelayanan terbaik dalam pekerjaan. Sikap seperti inilah yang mampu menghidupkan kembali nilai kemanusiaan di tengah masyarakat modern.
Menjaga Keluarga di Tengah Kesibukan
Banyak orang saat ini menghabiskan waktu berjam-jam untuk bekerja atau berinteraksi di media sosial, tetapi justru memiliki waktu yang sangat sedikit untuk keluarga. Akibatnya, hubungan antaranggota keluarga menjadi renggang dan komunikasi semakin berkurang.
Perintah untuk memberikan perhatian kepada kerabat dalam QS. An-Nahl ayat 90 menunjukkan bahwa keluarga memiliki posisi yang sangat penting dalam Islam. Keluarga bukan hanya tempat tinggal bersama, tetapi juga tempat pendidikan pertama bagi setiap manusia. Oleh karena itu, menjaga silaturahmi, membantu keluarga yang membutuhkan, dan meluangkan waktu untuk orang tua maupun saudara merupakan bagian dari implementasi ajaran Al-Qur’an.
Menolak Budaya Kemaksiatan dan Normalisasi Keburukan
Perkembangan teknologi informasi membawa banyak manfaat, tetapi juga membuka peluang tersebarnya berbagai bentuk kemaksiatan. Konten yang tidak pantas, berita bohong, fitnah, hingga perilaku menyimpang dapat diakses dengan mudah.
Larangan terhadap al-fahsya’ dan al-munkar menjadi pengingat bahwa tidak semua yang populer atau viral layak untuk diikuti. Seorang muslim dituntut memiliki kemampuan menyaring informasi dan menjaga moralitasnya di tengah arus budaya yang terus berubah. Kemajuan teknologi harus diimbangi dengan kematangan akhlak agar tidak menjadi sarana kerusakan.
Melawan Kezaliman dan Penyalahgunaan Kekuasaan
Kezaliman tidak selalu berbentuk kekerasan fisik. Dalam kehidupan modern, kezaliman dapat muncul dalam bentuk korupsi, diskriminasi, eksploitasi tenaga kerja, perundungan (bullying), hingga penyalahgunaan jabatan. Semua bentuk tindakan tersebut termasuk dalam kategori al-baghy yang dilarang oleh Allah.
Ayat ini mengajarkan bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab untuk menghormati hak orang lain dan menolak segala bentuk penindasan. Masyarakat yang sehat bukanlah masyarakat yang bebas dari perbedaan, tetapi masyarakat yang mampu menjaga keadilan dan menghormati martabat setiap manusia.
Muhasabah di Era Serba Cepat
Kehidupan modern sering kali berjalan sangat cepat. Banyak orang sibuk mengejar target, pekerjaan, dan pencapaian hingga lupa mengevaluasi dirinya sendiri. Padahal, pada akhir ayat Allah berfirman bahwa semua nasihat tersebut diberikan agar manusia mengambil pelajaran.
Muhasabah atau introspeksi diri menjadi kebutuhan penting di era sekarang. Dengan meluangkan waktu untuk mengevaluasi diri, seseorang dapat memperbaiki kesalahan, meningkatkan kualitas ibadah, dan membangun hubungan yang lebih baik dengan sesama. Kesuksesan sejati tidak hanya diukur dari materi atau jabatan, tetapi juga dari kualitas akhlak dan kedekatan kepada Allah.