Oleh: Inni Fadilatul Adawiyyah (Mahasisiwi Fakultas Agama Islam, UMS)
Dalam dunia perkuliahan, kita pasti sudah tidak asing lagi dengan akronim mahasiswa kupu-kupu dan kura-kura. Ya, mahasiswa kupu-kupu adalah singkatan dari kuliah-pulang kuliah-pulang, sedangkan kura-kura adalah singkatan dari kuliah-rapat kuliah-rapat. Akronim ini biasanya akan ditanyakan oleh panitia ospek kepada mahasiswa baru saat pengenalan kehidupan kampus. Pertanyaan untuk memilih menjadi mahasiswa kupu-kupu atau kura-kura tentu menjadi pilihan yang sangat gampang ketika kita belum memahami tujuan utama di perkuliahan.
Mahasiswa kupu-kupu didefinisikan sebagai mahasiswa yang tidak banyak kegiatan, atau dirinya hanya kuliah lalu pulang. Mahasiswa tipe ini diidentikkan dengan stigma negatif seperti pemalas, antisosial, susah berbaur, dan sejenisnya. Mahasiswa yang hanya berkuliah tanpa berorganisasi dianggap kurang bergaul dan susah berkembang. Tanpa berorganisasi, mahasiswa dinilai tidak memiliki kesempatan atau wadah untuk meningkatkan kemampuannya di luar bidang akademik.
Berbeda dengan mahasiswa kupu-kupu yang dilekatkan dengan stigma negatif, mahasiswa kura-kura dianggap lebih unggul. Mahasiswa yang kegiatannya kuliah-rapat atau dalam hal ini mengikuti organisasi dan kegiatan sejenisnya dianggap lebih produktif. Mahasiswa tipe ini dinilai akan lebih mudah mendapat pekerjaan dengan bekal networking dan soft skill yang memadai. Tak jarang moderator dalam seminar atau pembawa acara dalam kegiatan besar berasal dari mahasiswa yang berorganisasi. Memang tak bisa dipungkiri bahwa ketika kita mengikuti berbagai kegiatan, kita dapat otomatis menambah relasi dan meningkatkan kemampuan non-akademik. Lalu sebenarnya, manakah yang lebih baik di antara keduanya?
Jika kita telusuri lebih dalam, dua hal yang sering diperdebatkan tersebut sebenarnya memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Mahasiswa kupu-kupu tidak selamanya menyandang konotasi negatif. Mahasiswa kupu-kupu memiliki beberapa kelebihan seperti dapat mengikuti jadwal kuliah dan mengerjakan tugas tepat waktu, relatif memiliki banyak waktu luang yang bisa digunakan untuk menyalurkan hobi atau memulai bisnis. Selain itu, mahasiswa tipe ini biasanya berfokus pada akademik untuk kelulusan tepat waktu, sehingga mereka tidak terlalu sibuk dan terbebani aktivitas organisasi. Namun, mereka mungkin keterbatasan dalam wawasan di luar materi kuliah karena kurangnya pengalaman yang relevan selain akademis.
Sementara itu, mahasiswa kura-kura dapat membuka pintu pada pengembangan relasi yang luas dan pengalaman problem solving yang berharga, melatih kemampuan soft skill yang penting untuk masa depan. Mahasiswa yang mempunyai bekal berorganisasi dianggap sudah belajar tantangan dan masalah yang akan dihadapi dalam dunia kerja. Sehingga mahasiswa tipe ini dinilai akan lebih mudah mendapat pekerjaan dengan mengesampingkan bekal akademik dan mengutamakan bekal soft skill dan networking. Meskipun demikian, kebanyakan mahasiswa kura-kura kurang bisa mengelola waktu, alhasil banyak tugas yang tidak dikerjakan atau bahkan mengulang mata kuliah. Banyaknya kegiatan juga memungkinkan penurunan produktivitas akibat kelelahan dan gangguan waktu istirahat. Kurang tidur yang cukup dapat menurunkan daya ingat, konsentrasi, dan kekebalan tubuh. Dalam beberapa kasus, seseorang yang memiliki jadwal padat dan tanggung jawab besar dapat menimbulkan tekanan tinggi, stres, hingga meningkatkan risiko penyakit kronis.
Menjadi mahasiswa kupu-kupu atau kura-kura merupakan pilihan tiap-tiap individu. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing yang tidak bisa dibandingkan secara langsung. Tidak ada yang lebih baik dan lebih buruk karena keduanya memiliki potensi yang berbeda. Namun, mengapa kita harus terjebak dalam label-label seperti dua hal di atas? Mengapa kita tidak menjadi mahasiswa yang bermanfaat saja, yang fokus pada memberikan kontribusi nyata untuk diri sendiri maupun masyarakat luas?
Menjadi Mahasiswa yang Bermanfaat
Mahasiswa yang bermanfaat tidak hanya memikirkan tentang nilai akademis, tetapi juga perihal bagaimana kita dapat memberikan dampak positif kepada diri kita sendiri, masyarakat, dan lingkungan sekitar. Sebagai mahasiswa, tentunya kita paham bahwa pendidikan tidak hanya tentang mencapai nilai tertinggi, tetapi juga tentang bagaimana kita dapat menggunakan pengetahuan dan kemampuan yang kita miliki untuk membuat perbedaan di masyarakat. Kita harus mampu berkolaborasi agar dapat menjadi bagian dari solusi untuk masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat. Terlebih lagi, sebagai mahasiswa kita tentu memiliki bekal kemampuan untuk berpikir kritis dan kreatif yang bisa diaplikasikan dalam mencari solusi untuk persoalan yang lebih kompleks.
Banyak hal yang bisa kita lakukan sebagai bentuk dari seorang mahasiswa yang bermanfaat. Kita dapat melakukan pengabdian masyarakat dengan melakukan pelatihan atau pendampingan kepada masyarakat yang membutuhkan, seperti penyuluhan tentang kesehatan, lingkungan, atau pendidikan. Di samping itu, kegiatan relawan juga dapat kita lakukan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan seperti masyarakat yang terkena dampak kemiskinan, anak-anak yatim, bahkan menjadi relawan bencana alam. Dengan menjadi mahasiswa yang bermanfaat, kita dapat membangun karakter yang kuat untuk diri kita sendiri dan menggunakan pengetahuan serta kemampuan kita untuk membuat perbedaan positif di masyarakat.
Oleh karena itu, mari kita berfokus pada membangun kekuatan dan mengatasi kelemahan. Jadi, kita dapat mencapai potensi sepenuhnya dalam diri kita dan membuat dampak positif yang signifikan dalam masyarakat. Dengan menjadi mahasiswa yang bermanfaat, kita dapat membentuk kepribadian yang berintegritas dan menjadi motor penggerak perubahan sosial yang inovatif untuk masyarakat.
“Jangan terjebak antara dua wajah kehidupan kampus, jadilah Mahasiswa Super yang menguasai keduanya!”
Editor: Rafidah Azis