Kita mulai dari Kalam Illahi yang artinya, “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hambanya pada suatu malam dari Masjid Haram ke Masjidil Aqsha (al-quds) yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (Q.S. Al-Isra [17]: 1).
Ayat tersebut menjadi penanda, bahwa kedudukan tanah Palestina teramat agung nan mulia. Ia merupakan di antara bumi Allah yang suci. Tanah yang mulia, tempat kelahiran para nabi. Bahkan, Masjid Al-Aqsha (al-quds) merupakan kiblat pertama sebelum Ka’bah di Mekah. Negara yang punya hubungan emosional dengan Indonesia, yang mana Palestina adalah negara pertama yang mengakui kedaulatan dan kemerdekaan Indonesia.
Namun, sudah sekian lama tanah Palestina telah dijarah oleh kekejaman penjajah, Zionis Israel. Bangunan hancur lebur dibuldozer, sekolah-sekolah roboh, gedung-gedung luluh lantak dibombardir, nyawa-nyawa seolah murah harganya, dan kerugian-kerugian lain yang sudah tak terhitung bilangannya.
Dari Masa Silam
Jikalau kita kuliti sejarah, membuka lembar demi lembar catatan silam, bahwa nenek moyang orang-orang Yahudi memang sudah terkenal suka berulah. Sedari abad Sebelum Masehi (SM), pun hingga detik ini, bangsa itu memang acapkali membuat onar dunia.
Allah pun menggambarkan perilaku jelek mereka dalam Q.S. Al-Maidah [5]; 64), “mereka berbuat kerusakan di muka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan”.
Konflik antara Israel-Palestina memang salah satu konflik Timur Tengah yang belum ada ujungnya. Zionisme yang dikampanyekan oleh Theodore Herzl menjadi sebuah embrio yang melahirkan sebuah negara Israel.
Baca Juga: Mencari Teman Ideal Versi Imam Al-Ghazali
Genderang deklarasi negara Israel yang ditabuh pada 1948 merupakan sebuah penanda bergulirnya bola panas yang menggelinding semakin besar. Klaim Yahudi atas tanah Palestina membuka sebuah lubang yang menganga dan memporak-porandakan tanah Palestina.
Benih-benih Iblis yang telah dibawa oleh tangan-tangan Zionis dari hari ke hari semakin bengis, menindas, tak berperikemanusiaan. Menjadikan mereka lintah-lintah menjijikan yang menghisap ratusan ribu darah rakyat Palestina. Menjadi penghianat atas tetesan darah yang tumpah dari nyawa anak-anak tak berdosa. Mereka meludahi wajah-wajah papa yang haus akan keadilan. Wajah-wajah sudra yang seharusnya hari ini menghirup udara kemerdekaan.
Yang Sedang Terjadi Akhir Ini
Wahai manusia, masihkah kalian punya hati nurani. Bukalah. Masihkah mata kalian melihat ratapan anak-anak Palestina. Masihkan telinga kalian mendengar suara rudal yang membombardir saudara kalian. Masihkan mendengar jeritan dan rintihan yang teramat menyayat mereka.
Atau jangan-jangan kalian masih sempat senyum-senyum, bercanda dan bersenda gurau di depan ratapan rakyat Palestina. Kekejian yang terpampang di depan mata kalian biarkan saja.
Sadarlah! Segala yang sedang berkecamuk menghantam bumi Palestina, memang tidak hanya kita renungkan saja, apalagi kita hanya menontonnya saja. Melainkan, mencari alternatif pencerahan untuk menyepuh segala jelaga hitam, mengobarkan api semangat perjuangan mereka. Menghadirkan cahaya di langit Palestina. Pancaran cahaya kemerdekaan dan meredupkan segala penindasan.
Cita-cita kemerdekaan Palestina patut kita perjuangkan. Mungkin jika kita belum mampu, minimal doa-doa sudah sewajibnya senantiasa kita langitkan. Kita sebagai muslim adalah kalangan umat yang ditakdirkan menjadi garda depan membela dan melindungi mereka. Perjuangan untuk Palestina, adalah ladang jihad yang terhampar luas di depan kita.
****
Kalau hari ini kita masih berdiam diri, bungkam sejuta bahasa atau merasa seolah-olah tak terjadi apa-apa atas penderitaan saudara kita di Palestina (al-quds). Lantas, bagaimana kita menjadi penyambung lidah-lidah keluh mereka yang tertindas. Lantas di mana mata hati nurani kita.
Atau jangan-jangan kita buta mata buta hati serasa tak melihat penderitaan mereka. Ataukah kita memang telah tuli dari semua jeritan-jeritan parau mereka. Atau malah kita begitu sibuk dengan urusan sendiri. Tak peduli masa bodoh atas penderitaan saudara kita di Palestina. Kekallah penindasan jika begini adanya.
Renungkanlah! Kita telah dianugrahi oleh Allah sama’ (pendengaran), bashor (penglihatan), dan fuad (akal dan hati). Refleksikan segala kebenaran yang jernih. Perjuangkanlah keadilan. Redam segala bentuk penindasan.
Al-Quds, Harapan Untuk Hari Esok
Ada secarik kutipan menarik dalam sebuah buku berjudul, “From Beirut to Jerusalem Kisah Pengabdian seorang Dokter Perempuan di Kamp Pengungsian Palestina” buah pena Ang Swee Chai (2010). Kutipan pada halaman 465-466 buku ini membuat saya merenung dalam-dalam, sebagai bagian yang tak lekang maknanya oleh waktu untuk selalu diingat, begini bunyinya:
Mereka punya sebuah mimpi. Dan aku berbagi mimpi itu dengan mereka: mimpi tentang sebuah dunia yang tampak jelas di tengah-tengah semburan gas air mata dan reruntuhan yang berasap di kamp-kamp pengungsi. Sebuah dunia tempat seorang bocah sebelas tahun tak perlu belajar cara menggunakan sepucuk Kalashnikov atau mesin peluncur roket untuk membela keluarganya.
Sebuah dunia yang damai, adil, dan aman, tempat aku tak perlu mengatakan kepada seorang anak, “Pergilah ke sekolah” hanya untuk mengetahui bahwa sekolahnya telah dibom, atau mengatakan kepada seorang gadis, “Bantulah ibumu menyiapkan makan malam,” hanya untuk melihatnya kembali kepadaku dan mengatakan bahwa ibu dan keluarganya telah dibunuh.
****
Sebuah dunia tempat kami tak perlu lagi takut terkubur hidup-hidup di dalam puing-puing. Sebuah dunia tempat aku tak perlu lagi memperbaiki bagian-bagian tubuh yang patah hanya untuk melihatnya dipatahkan lagi, atau memeluk tubuh remuk seorang bocah dengan tanganku dan bertanya, “Mengapa?” atau mendengar orang-orang bertanya, “Berapa lama lagi?”
Sebuah dunia tanpa penjara, tanpa penyiksaan, tanpa rasa sakit, tanpa kelaparan, dan tanpa kartu-kartu identitas pengungsi, tempat aku dapat berteduh di rumahku sendiri dan mendengarkan nyanyian ibuku seraya menutup mata di penghujung hari. Tempat itu adalah mimpi kami, Jerusalem (al-quds) kami.
Baca Juga: Jangan Asal Hijrah, Perlu Bekal Spiritual dan Ilmu Sebelum Hijrah
Dari kutipan tersebut sudah sepatutnya kita tergetar hati. Betapa pilu penderitaan rakyat Palestina. Berbicara soal Palestina bukanlah perjuangan warga yang mendiami wilayah Palestina saja, bukan soal perjuangan umat Islam saja, tapi perjuangan Palestina merupakan perjuangan seluruh umat manusia.
Karenanya, sudah saatnya kita mengambil peran penting dalam mendukung dan memperjuangkan kemerdekaan bagi bangsa Palestina. Membebaskannya dari belenggu-belenggu penindasan.