Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Mengapa Generasi Muda Desa Enggan Terlibat? Tantangan Pendidikan dan Dakwah Hari Ini

Ima Iklima NJ by Ima Iklima NJ
November 27, 2025
in Esai, Narasi
0
Mengapa Generasi Muda Desa Enggan Terlibat? Tantangan Pendidikan dan Dakwah Hari Ini
19
SHARES
112
VIEWS

Oleh: Ima Iklima (Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto)

Perkembangan zaman seharusnya membawa kemajuan bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk desa. Namun, seringkali keengganan untuk berubah menjadi penghalang utama. Dalam konteks pendidikan dan dakwah di desa, tantangan terbesarnya bukan hanya kurangnya fasilitas, melainkan pola pikir masyarakat itu sendiri, terutama para orang tua dan tokoh yang memegang kendali. Tulisan ini mengajak kita untuk melihat lebih dekat bagaimana mentalitas lama telah membatasi potensi generasi muda di desa.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

1. Pendidikan Antara Prioritas Sekolah Tinggi dan Tuntutan Praktis

Di desa, masih kuat anggapan bahwa sekolah tinggi itu tidak praktis. Pandangan orang tua didasarkan pada dua hal:

Manfaat Instan Lebih Utama: Orang tua berpandangan bahwa lebih baik anak segera bekerja atau menikah muda setelah lulus SMP/SMA. Alasannya sederhana: hasilnya cepat terlihat, tidak perlu mengeluarkan biaya besar, dan bisa langsung membantu perekonomian keluarga.

Keraguan Berlebihan: Ada keraguan bahwa pendidikan tinggi hanya untuk “anak kota” atau malah “membuat anak lupa diri” pada kampung halamannya. Pandangan ini membuat banyak anak muda berpotensi, yang sebenarnya cerdas dan punya semangat besar, menjadi ragu dan merasa bersalah jika ingin melanjutkan kuliah. Mereka khawatir menjadi beban, padahal pendidikan adalah investasi masa depan terpentang. Kurangnya informasi tentang manfaat jangka panjang pendidikan tinggi membuat dukungan orang tua menjadi lemah, dan hal ini menghambat cita-cita anak.

2. Dakwah Kehilangan Daya Tarik bagi Generasi Digital

Kegiatan dakwah di desa sering terasa monoton dan jauh dari relevansi anak muda. Dakwah atau pengajian seringkali dipimpin oleh tokoh sepuh dengan gaya ceramah satu arah yang kaku. Materi yang disampaikan pun kadang terlalu umum dan kurang menyentuh isu-isu yang dihadapi remaja modern (seperti mental health, media sosial, atau bullying).

Minimnya Ruang Diskusi: Ketika pemuda punya pertanyaan yang kritis atau ingin mendiskusikan perbedaan pendapat, mereka merasa tidak punya ruang dan takut dicap “kurang ajar” atau “melawan”. Akibatnya, kegiatan keagamaan menjadi kurang diminati. Anak muda merasa terasing dari masjid atau majelis taklim, karena mereka membutuhkan pendekatan yang lebih lembut, interaktif, dan terbuka untuk tanya jawab, seperti “ngopi santai sambil membahas isu agama”.

3. Sistem Kekeluargaan yang Menutup Pintu Regenerasi

Tantangan kultural ini diperparah oleh sistem pengelolaan desa yang kental dengan kekeluargaan dan senioritas. Banyak kepengurusan di desa mulai dari Karang Taruna, pengurus masjid, hingga lembaga resmi lainnya sering kali didominasi oleh orang-orang itu-itu saja atau yang masih punya ikatan darah/kedekatan dengan tokoh lama.

Dampaknya: Ide Baru Sulit Masuk, ide perubahan atau inovasi dari pemuda yang berpendidikan sering terbentur oleh alasan “belum pernah dilakukan sebelumnya” atau “nanti saja, biar kami yang urus”. Generasi muda yang ingin berkontribusi akhirnya merasa tertutup jalannya. Mereka punya energi dan pengetahuan, tetapi tidak diberi ruang untuk memimpin atau minimal menjadi bagian dari pengambil keputusan.

Mereka pun jadi enggan bergerak dan memilih menarik diri. Hal ini membuat program-program perbaikan di desa berjalan lambat, karena kepengurusan dan kepemimpinan tidak pernah diregenerasi secara sehat dan terbuka.

4. Mendorong Perubahan dari Mentalitas ke Aksi Nyata

Kita tidak bisa menyalahkan generasi tua, karena mereka adalah korban dari keterbatasan informasi di masa lalu. Perubahan harus datang dari kesadaran bersama:

Role Model Pendidikan: Pemuda yang sukses kuliah atau berkarir harus berani pulang dan berbagi cerita (bukan menggurui) kepada orang tua dan adik-adik di desa. Keberhasilan nyata lebih persuasif daripada teori.

Dakwah Milenial: Tokoh agama perlu merangkul pemuda, menciptakan forum diskusi interaktif, dan menggunakan bahasa yang relevan dengan perkembangan zaman. Jadikan masjid sebagai tempat yang menyenangkan untuk belajar, bukan menakutkan.

Maka, saatnya pemuda desa berani ambil langkah, dan saatnya tokoh desa membuka jalan. Tantangan ini adalah tanggung jawab kita bersama. Desa akan maju jika seluruh potensi warganya, baik pengalaman dari yang tua maupun semangat dari yang muda, diberi kesempatan untuk bersatu dan bergerak maju.

Editor: Rafidah Azis

Terkait

Tags: DakwahGenerasiMudaIslampendidikan
Previous Post

Program Ausbildung eGrad: Peluang Pendidikan Vokasi dan Karir Internasional di Jerman

Next Post

Anime Bukan Hanya Sekadar Hiburan: Pembelajaran Budaya dan Bahasa Jepang di Kalangan Remaja

Ima Iklima NJ

Ima Iklima NJ

Next Post
Anime Bukan Hanya Sekadar Hiburan: Pembelajaran Budaya dan Bahasa Jepang di Kalangan Remaja

Anime Bukan Hanya Sekadar Hiburan: Pembelajaran Budaya dan Bahasa Jepang di Kalangan Remaja

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.