Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Menatap Masa Depan Literasi di Indonesia

Yusuf R Yanuri by Yusuf R Yanuri
Februari 8, 2021
in Esai
0
Literasi di Indonesia

Sumber: unsplash.com

38
SHARES
223
VIEWS

Akhir tahun 2019, sebelum pandemi melanda, saya menjadi salah satu fasilitator training kepenulisan yang diselenggarakan oleh salah satu OKP tingkat provinsi. Dalam kegiatan tersebut, saya agak kecewa karena peserta yang berasal dari mahasiswa tingkat awal atau siswa SMA tingkat akhir memiliki kemampuan menulis yang cukup rendah.

Dalam melakukan koreksi terhadap tulisan mereka, saya masih harus membahas hal-hal yang sifatnya redaksional seperti penggunaan titik koma, tanda baca, susunan kalimat, paragraf, dan hal-hal mendasar lainnya yang semestinya sudah mereka kuasai jauh-jauh hari. Padahal mereka adalah aktivis organisasi kepemudaan dari berbagai daerah di Jawa Tengah.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Pelatihan itu tentu membuat saya lelah. Bukan karena pelatihan itu sendiri, melainkan karena melihat geliat literasi yang semakin layu. Jika para aktivis yang sehari-hari bicara tentang ide-ide besar dan akan menjadi pemimpin bangsa itu tidak bisa menulis, maka mereka akan sulit memberikan inspirasi yang segar dan baru kepada masyarakat. Mereka akan sulit memainkan peran sebagai pemimpin masyarakat di masa yang akan datang.

Rapor Merah Literasi di Indonesia

Apa yang saya khawatirkan ini nampaknya diiyakan oleh beberapa penelitian yang ada. Indonesia memiliki rapor merah dari Program for International Student Assessment (PISA). Berdasarkan hasil surveinya, Indonesia menempati peringkat ke-62 dari 70 negara yang disurvei.

PISA menggunakan tiga indikator survei. Yaitu perfoma sains; performa matematika; dan performa membaca. Secara spesifik untuk performa membaca, peringkat pertama diduduki oleh Singapura dengan skor 535. Di peringkat kedua ada Hongkong dan Kanada yang memperoleh skor 527. Indonesia menempati peringkat ke-63 dengan skor 397.

Kemudian, rapot merah juga didapatkan Indonesia dari survei bertajuk World’s Most Literate Nations 2016. Tingkat literasi Indonesia menempati peringkat ke-60 dari 61 negara yang disurvei. Angkat tersebut didapat setelah Central Connecticut State University (CCSU) selaku penyelenggara mengukur ekosistem literasi negara, seperti surat kabar, perpustakaan, pendidikan, dan ketersediaan komputer.

Di era media sosial, minimnya literasi menyebabkan hoaks semakin mudah tersebar. Berdasarkan survei yang dilakukan Masyarakat Telematika Indonesia pada 2017 sebagaimana diwartakan oleh IDNTimes, 44,30 persen masyarakat Indonesia menerima kabar bohong setiap hari, 17,20 persen di antaranya menerima hoaks lebih dari satu kali sehari, 29,80 persen menerimanya seminggu sekali, dan 8,70 persen menerimanya satu bulan sekali

Dari angka di atas, 47,10 persen orang akan menyebarkan kembali berita yang ia dapatkan, tanpa mencari kebenarannya, jika ia mendapatkannya dari orang yang dipercaya, seperti tokoh politik, agama, atau keluarga. Disusul oleh 31,90 persen alasan kebermanfaatan untuk dibagikan kepada orang lain meski tanpa verifikasi.

Mengembalikan Optimisme

Setelah melihat realitas pasca pelatihan dan melihat data-data yang ada, tak elok rasanya jika saya hanya berdiam diri. Singkat cerita, saya kembali terlibat dalam kegiatan Breaking Down the Walls yang digelar oleh Peace Generation Solo. Salah satu sesi dalam kegiatan yang berjalan sejak Desember 2019 hingga Februai 2021 ini adalah lomba menulis esai tentang perdamaian dan toleransi.

Lomba esai diikuti oleh siswa-siswi dari tiga SMP. Antara lain SMP Regina Pacis Ursulin Surakarta, SMP Ahmad Dahlan Boarding School Sukoharjo, dan SMP Muhammadiyah 1 Surakarta. Sebagai juri, saya harus membaca esai yang diikutkan dalam lomba satu persatu.

Membaca esai pertama, saya agak lega karena secara redaksional tulisannya sangat rapi dan renyah untuk dibaca. Hanya saja per paragraf masih agak terlalu panjang untuk ukuran esai yang ringan-ringan. Masuk ke esai kedua, saya terpukau karena esai tersebut secara redaksional sangat tepat dan maknanya sangat mendalam. Saya langsung berpikir bahwa esai tersebut akan menjadi juara. Tanpa pikir panjang saya langsung memberikan nilai 9 untuk semua aspek penilaian.

Sayangnya, dugaan saya salah. Esai ketiga, keempat, kelima, dan seterusnya adalah esai-esai yang menurut saya sangat baik untuk ukuran anak SMP. Jika esai kedua saya beri nilai 9, sedangkan saya tidak berani memberi nilai 10 karena tidak ada kesempurnaan dalam diri manusia, maka nilai berapa yang akan saya berikan untuk esai yang lebih bagus dari esai kedua?

Yang lebih menarik adalah pesan-pesan yang mereka sampaikan dalam esai-esai yang mereka tulis. Ada yang menulis tentang cara mewujudkan kehidupan yang lebih damai, ada yang menulis tentang manajemen konflik, ada yang menulis tentang pertemanan dan persahabatan, dan bahkan ada yang menulis tentang pertemanan lintas agama.

Selain tata bahasa dan redaksi yang enak dibaca, makna yang mereka sampaikan bagi saya jauh melampaui usia mereka yang masih sangat belia. Ke depan, saya sangat yakin bahwa mereka akan mampu mewarnai jagat narasi di ruang publik dengan narasi-narasi kebaikan dan perdamaian.

Breaking Down the Walls Peace Generation Solo mengembalikan optimisme saya. Bahwa literasi di Indonesia setidaknya tidak akan seburuk apa yang saya khawatirkan. Lebih-lebih, saya juga kembali meyakini bahwa masih banyak anak muda yang aware terhadap perdamaian, menolak kekerasan, dan menumbuhkan empati dan toleransi di tengah-tengah lingkungan masing-masing.

Siswa-siswi SMP itu mungkin tulisannya tidak setajam para penulis dewasa ini. Namun, jelas mereka jauh lebih maju dibandingkan dengan teman-teman seusianya yang lain. 5-10 tahun lagi, ketika mereka sudah semakin matang, kemampuan mengembangkan narasi-narasi yang damai, teduh, dan toleran mereka akan semakin tajam dan trengginas. Saya percaya masa depan akan lebih baik di tangan mereka.

Terkait

Tags: LiterasiPerdamaiantoleransi
Previous Post

Tidak Harus Tunggu Khilafah untuk Tegakkan Syari’at

Next Post

Gerakan Pencerahan dan Masyarakat Akar Rumput

Yusuf R Yanuri

Yusuf R Yanuri

LAPSI Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah

Next Post
Lebensraum dalam pemikiran Adolf Hitler “Mein Kampf”

Gerakan Pencerahan dan Masyarakat Akar Rumput

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.