Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Membaca Tafsir Syair Cak Nun

Ahmad Soleh by Ahmad Soleh
April 12, 2020
in Narasi
1
Membaca puisi atau syair memang membutuhkan beberapa perangkat untuk mamahaminya. Setidak-tidaknya, dalam menafsirkan karya sastra puisi kita membutuhkan tafsir teks dan tafsir konteks. Tafsiran teks, di dalamnya termasuk logika, pencitraan bahasa, rasa, dan intuisi. Sementara tafsir konteks, di dalamnya termasuk kehidupan si pengarang dan realitas seperti apa yang membentuknya.

Membaca puisi atau syair memang membutuhkan beberapa perangkat untuk mamahaminya. Setidak-tidaknya, dalam menafsirkan karya sastra puisi kita membutuhkan tafsir teks dan tafsir konteks. Tafsiran teks, di dalamnya termasuk logika, pencitraan bahasa, rasa, dan intuisi. Sementara tafsir konteks, di dalamnya termasuk kehidupan si pengarang dan realitas seperti apa yang membentuknya.

40
SHARES
235
VIEWS

Membaca puisi atau syair memang membutuhkan beberapa perangkat untuk mamahaminya. Setidak-tidaknya, dalam menafsirkan karya sastra puisi kita membutuhkan tafsir teks dan tafsir konteks. Tafsiran teks, di dalamnya termasuk logika, pencitraan bahasa, rasa, dan intuisi. Sementara tafsir konteks, di dalamnya termasuk kehidupan si pengarang dan realitas seperti apa yang membentuknya.

Memang tak semua syair menggunakan kata-kata bersayap, kiasan, atau bahasa yang berbunga-bunga, ada pula syair atau puisi yang lebih memilih jujur dengan bahasa yang lugas dan apa adanya. Dalam puisi semacam ini ada penggambaran realitas, kritik sosial, suasana politik, maupun suasana batin si pengarang akan lebih mudah kita tebak. Dengan begitu, meski tak mudah menafsirkan puisi, minimal kita bisa tahu maksud dari si pengarang. Puisi-puisi semacam ini bisa kita temukan pada beberapa penulis kenamaan, seperti WS Rendra, Wiji Thukul, dan Emha Ainun Najib alias Cak Nun.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

baca juga: Andar Nubowo: Tantangan Islam Moderat

Siang tadi, saya membaca-baca kembali puisi Cak Nun dalam salah satu bukunya berjudul Sesobek Buku Harian Indonesia terbitan Bentang Pustaka. Di antara puisi-puisi di dalamnya yang memiliki kedalaman makna, terutama jika dibedah dalam segi teks dan konteksnya, ada satu puisi yang saya rasa menarik untuk kembali kita baca dan renungkan.

Syair Satu Penafsiran

Puisi tersebut berjudul “Syair Satu Penafsiran”. Untuk pembaca sekalian akan saya kutip puisi yang ditulis tahun 1983 tersebut, sebagai berikut:

Negeri dengan satu tangan
Mengetuk jidatmu, untuk tunduk
Dan bersekutu

Negeri dengan satu penafsiran
Menjerat ekormu, bergerombol di kandang
Sebagai cara tunggal untuk bersatu

Negeri dengan satu pilihan
Sampai pun tak memilih
Tak dianggap pilihan

Apakah kebenaran?
Ialah kata kekuasaan
Apakah keadilan?
Ialah sabda atasan
Apakah keseimbangan
Kesamarataan
Kemajuan
Perkembangan
Peningkatan
Kebijaksanaan

Tergantung surat keputusan

1983

Tafsir Syair Cak Nun

Jika kita melihat maknanya pada lapis teks, kita bisa menangkap bagaimana gambaran sebuah negeri yang segala-galanya diatur oleh satu kepala, satu otak, dan satu tangan. Maka, tak mungkin Cak Nun sedang berbicara negeri yang demokratis. Melainkan negeri yang begitu otoriter, tangan besi, dan kejam terhadap rakyat. Bahkan, kita (rakyat) tak punya pilihan, “sampai pun tak memilih, tak dianggap pilihan”. Tak bisa tidak, harus setuju apa maunya kekuasaan.

Berbicara rasa, dalam puisi ini tentu menggambarkan ketidakberdayaan orang di luar kekuasaan. Siapa lagi kalau bukan rakyat. Semua mesti tunduk pada “atasan” dan segala hal yang diatur dalam “surat keputusan”. Siapa yang memutuskan? Siapa lagi kalau bukan si atasan yang punya kuasa atas segala kekuasaan.

Pada lapis konteks, jika kita lihat tahun dibuatnya puisi ini, yakni 1983, jelas sekali Cak Nun kala itu tengah berada di dalam pusaran gelombang rezim Orde Baru. Jika kembali kita baca sejarah secara jernih, kita akan mendapatkan gamabran bagaimana dinamika politik dan kebangsaan pada masa-masa itu. Salah satunya, semua mesti tunduk dan manut apa kata “atasan”.

Lebih-lebih, puisi ini juga menjadi gambaran bagaimana Cak Nun memiliki sebuah kegelisahan akan kehidupan demokrasi dan kebebasan di Indonesia yang masih berada pada titik terendahnya. Pembungkaman di mana-mana, kebebasan pers tidak ada, aktivis dan yang bersuara berbeda dengan penguasa ditangkap, pejuang kebenaran dan kemanusiaan dihilangkan, dan sebagainya.

baca juga: Di Atas Semuanya adalah Ukhuwah Islamiyah

Semua terangkum dalam sejarah kelam bangsa kita, yang pernah menjadi Negeri Satu Tafsir. Negeri yang tidak menganjurkan adanya diskursus dan perbedaan pendapat. Semua mesti sama dan setuju dengan atasan. Sehingga muncullah ungkapan asal bapak senang, asal atasan senang. Rakyat sengsara, kebenaran diperkosa, korupsi merajalela pun tak apa-apa.

Pancasila yang sedianya menjadi dasar dari segala tindak-tanduk kehidupan berbangsa, malah menjadi alat untuk memberantas kelompok-kelompok yang beda pendapat. Penataran demi penataran nilai-nilai Pancasila digelar secara radikal, bahkan disisip-susupkan dalam berbagai aktivitas kewargaan, mulai dari kurikulum pendidikan sampai asas berdirinya sebuah ormas. Semua mesti setuju dengan asas tunggal, tafsir tunggal tentang Pancasila.

Beruntunglah kita telah lepas dari masa-masa itu dan hidup di masa sekarang ini. Namun, betulkah beruntung dengan situasi semacam sekarang ini? Mari kita renungkan lagi. Selengkapnya baca disini.

Terkait

Tags: cak nunsyairTafsir
Previous Post

Pandemi Covid-19 dan Ambyarnya Ritual Keagamaan

Next Post

Jejak Sejarah Kemesraan Pribumi dengan Cina

Ahmad Soleh

Ahmad Soleh

Sekretaris Bidang RPK DPP IMM

Next Post
Maka Kong Sing akan menjadi cerita manis bahwa Pribumi dan Cina pernah bekerjasama mesra. seharusnya sekarang Kong Sing menjadi spirit memajukan Indonesia

Jejak Sejarah Kemesraan Pribumi dengan Cina

Comments 1

  1. Arif saifudin Yudistira says:
    6 tahun ago

    Mas bidang RPK DPP IMM yang terhormat barangkali anda bisa menyimak ulasan saya tentang buku puisi Cak Nun yang sama di link berikut :

    https://bukuonlinestore.com/melihat-indonesia-dari-dalam/

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.