Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Jejak Sejarah Kemesraan Pribumi dengan Cina

Giri Suratno by Giri Suratno
April 17, 2020
in Narasi
0
Maka Kong Sing akan menjadi cerita manis bahwa Pribumi dan Cina pernah bekerjasama mesra. seharusnya sekarang Kong Sing menjadi spirit memajukan Indonesia

Maka Kong Sing akan menjadi cerita manis bahwa Pribumi dan Cina pernah bekerjasama mesra. seharusnya sekarang Kong Sing menjadi spirit memajukan Indonesia

27
SHARES
158
VIEWS

Sejarah mencatat bahwa di Indonesia Ras Cina dan Ras Arab adalah dua ras yang pernah mengalami diskriminasi cukup hebat ketika Indonesia masih dalam penjajahan Belanda. Dua ras ini pada abad ke XVIII bahkan pernah mendapat kebijakan pemukiman (Wijken Stelsel) yaitu sebuah kebijakan yang mengatur tempat manakah yang boleh ditinggali oleh Ras Cina dan Ras Arab.

Kebijakan ini diterapkan dalam rangka menjauhkan pengaruh-pengaruh yang diberikan dua ras ini kepada bangsa pribumi terutama pengaruh tentang paham nasionalisme. Antara tahun 1863-1866 kepada dua ras ini diperlakukan kebijakan pas jalan (Passen Stelsel) yaitu keharusan menggunakan pas jalan jika akan berpergian keluar dari daerah pemukiman masing-masing.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Kebijakan Wijken Stelsel baru dicabut pada akhir abad ke-XIX. Namun stigma negatif terlanjur melekat kepada kedua ras tersebut. Sehingga sampai sekarang di beberapa tempat kita akan mudah menjumpai pemukiman Arab dan Cina.

Hubungan Perdagangan

Sebenarnya sempat terjadi kemesraan antara pribumi dengan cina dalam kegiatan berdagang. Kemesraan itu dimulai ketika Hadji Samanhoedi mendirikan Sjarikat Dagang Islam (SDI) di Surakarta pada Senin Legi, 16 Oktober 1905 M atau bertepatan dengan 16 Sya’ban 1323 H. SDI dibentuk selain sebagai wujud perlawanan karena Indonesia selalu dijadikan pasar dan sumber bahan mentah industry penjajahan Barat.

Ketika SDI dibentuk di dunia luar sedang terjadi gejolak luar biasa yang melibatkan bangsa Cina. Di Cina sedang terjadi revolusi yang dipimpin oleh Dr. Sun Jat Sen pada 1911 M yang menumbangkan kekuasaan Dinasti Mantsyu.

Baca Juga: Tahun 2020 Menjadi Nuqthatul Intilaq (Titik Tolak) Globalisasi NU

Sementara itu di Indonesia ras Cina mengalami banyak diskriminasi seperti peristiwa “Pembunuhan Cina” di Batavia yang dilakukan oleh VOC pada 1740. Di Makassar perjanjian Bongaya pada 18 November 1667 selain merugikan pedagang Muslim juga merugikan pedagang Cina di Makassar.

Fakta-fakta historis tersebut membuat Hadji Samanhoedi melalui SDI mudah membentuk kerjasama dengan bangsa Cina yang ada di Indonesia khususnya di Surakarta. Kerjasama dalam bidang niaga ini bernama Kong Sing. Kerjasama pribumi dengan Cina melalui Kong Sing berlangsung cukup lama. J.P. de Kat Angelino mengatakan bahwa pada 1930 di Surakarta terdapat 236 perusahaan batik pribumi, 88 Arab, 66 Cina, dan 3 Eropa.

Kong Sing: Dokumentasi Pemersatu Pribumi dan Cina

Pemerintah Belanda melihat Kong Sing menjadi ancaman nyata terhadap kedaulatan penjajahan Kolonial. Upaya-upaya merusak romantisme di dalam tubuh Kong Sing terus diupayakan. Salah satu cara yang diupayakan adalah dengan menciptakan “huru-hara anti Cina” yaitu pembakaran toko-toko Cina di Surakarta. Namun ternyata langkah ini tidak juga mempan. Kong Sing tetap berdiri kokoh.

Sekarang ini mungkin Kong Sing seharusnya sudah tidak lagi kita tangkap secara fisik namun sebuah spirit. Kong Sing adalah sebuah semangat persatuan antar ras. Kita tahu sendiri bahwa masalah SARA masih menjadi hal yang sangat sensitif di Indonesia.

Ketika Kong Sing bisa menjadi spirit maka tidak ada lagi diskriminasi ataupun stigma-stigma negatif yang melekat pada ras tertentu terutama ras Cina dan ras Arab atau ras-ras yang lainnya.

Baca Juga: Islam, Cina, dan Relasi Yang “Seharusnya”

Ketika sudah berbicara Indonesia maka yang kita bicarakan adalah sebuah kebhinekaan yang menunggallika. Tidak ada lagi sekat-sekat pembatas tak kasat mata. Maka Kong Sing akan menjadi cerita manis bahwa Pribumi dan Cina pernah bekerjasama mesra. Untuk itu seharusnya sekarang Kong Sing akan menjadi spirit bersama memajukan Indonesia.

Terkait

Tags: CinaHarmoniJejak SejarahPribumi
Previous Post

Membaca Tafsir Syair Cak Nun

Next Post

Dampak Perkawinan Beda Agama

Giri Suratno

Giri Suratno

Next Post
Dampak Perkawinan Beda Agama

Dampak Perkawinan Beda Agama

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.